
Adry membawa Raina berkeliling di salah satu toko perlengkapan bayi terlengkap yang ada di mall ini. Raina terlihat antusias dan bersemangat. Berkali-kali wanita itu ingin berdiri dan berlari melihat deretan baju mungil yang lucu atau melihat boks bayi yang cantik dan kereta dorong yang keren.
Setiap kali Raina lupa diri Adry langsung mendorong kursi roda agar Raina ingat jika dia tidak boleh terlalu lelah. Raina keras kepala ingin berjalan memilih pakaian calon anak mereka. Adry lalu mengalah dan selalu berdiri di samping Raina.
Adry juga merasa antusias ketika memilih warna baju dan model pakaian untuk anak mereka. Mereka bingung harus memilih baju apa yang akan mereka beli karena tidak tahu calon bayi mereka itu lelaki atau perempuan.
"Seharusnya kita bertanya apa kelamin anak kita," celetuk Adry.
"Itu tidak akan mengejutkan kita nantinya. Biarkan semua terjadi secara alami saja. Kita beli baju dengan warna netral seperti putih, kuning atau hijau," ujar Raina. Dia terlihat gemas dengan baju bayi dengan model rok berbulu berwarna pink. Kedua tangannya di satukan di dada.
"Khusus untuk itu, aku ingin membelinya," pinta Raina memelas.
"Kau boleh membeli apapun yang kau inginkan."
"Sungguh?"
"Tentu saja. Apa yang tidak untukmu," kata Adry.
Mereka melanjutkan belanja itu. Raina mengeram keras ketika melihat kereta dorong bayi yang seharga motor matic.
"Kita bisa membeli yang agak murahan. Sayang uangnya. Kau juga sudah tidak bekerja nanti uangmu bisa habis," ujar Raina. Adry memutar bola matanya malas. Jika dia mau satu toko ini bisa dia beli.
"Kau mau yang ini?" tanya Adry memegang stroller yang tadi Raina pilih.
"Tidak itu saja," tunjuk Raina pada deretan stroller murah.
"Okey, aku akan membeli apa yang kau tunjuk," ucap Adry tetapi dia meminta pada pelayan untuk membungkus yang tadi Raina suka.
Adry membatasi jam belanja Raina sesuai dengan kesepakatan. Saat itu, Raina sedang asik memilih box bayi yang lucu.
"Kita harus pulang, Sayang. Ini sudah lebih dari tiga jam," ajak Adry.
"Tunggu, aku belum selesai."
"Biar nanti salah manager toko ini mengirimkan katalog belanja pada kita dan kita bisa memilihnya di rumah. Kita juga bisa merancang kamar seperti apa untuk buah hati kita."
Raina seperti tidak rela ketika Adry memaksanya duduk kembali ke kursi roda dengan sejuta alasan. Dia mendorong kursi roda itu keluar dari toko dan Raina masih menatap toko itu hingga tidak terlihat lagi.
__ADS_1
"Kau ingin makan?" tanya Adry.
"Bagaimana barang belanjaan kita?" tanya Raina yang tidak fokus dengan pertanyaan Adry.
"Akan diantar ke unit apartemen kita. Aku juga sudah meminta mereka untuk mendatangkan seorang desainer interior untuk merancang kamar calon anak kita."
"Wow," ungkap Raina.
"Kau belum menjawab kau ingin makan apa?"
"Aku ingin makan fried chicken. Aku rindu dengan Leon dan ingin makan kesukaannya."
"Apa kau ingin agar aku membawa Leon kehadapanmu?" tanya Adry. Raina menengadahkan wajahnya menatap pria itu.
"Aku ingin menemuinya," ungkap Raina dengan suara bergetar.
"Aku akan meminta Nita untuk membawa Leon ke rumah makan."
"Tidak bisakah kita membawanya pulang?"
"Itu akan memancing kemarahan ayah dan ibu. Aku tidak ingin membuat masalah selama kau belum melahirkan. Aku menghindar dari hal buruk yang mungkin terjadi padamu nanti," ucap Adry.
"Leon," gumam Raina lirih.
Mereka lalu duduk di sebuah meja makan yang berada dekat dengan pagar pembatas. Mereka bisa melihat ke sekeliling mall itu dan melihat ke bawah.
Sebuah sapaan dari suara yang kenal menghampirinya.
"Raina!"
"Jo!" pekik Raina senang melihat teman sekaligus mantannya di depan matanya.
"Sebuah kebetulan yang menyenangkan," ujar Jonathan matanya langsung menatap perut bundar wanita itu.
"Kau hamil?"
Raina menganggukkan kepala. Jonathan hendak memeluk Raina namun Adry mencegahnya.
__ADS_1
"Jaga jarak, banyak kuman," ujar Adry berada di tengah mereka. Raina tersenyum geli. Sedangkan Jonathan menggelengkan kepala. Dari awal, Adry memang terlihat posesif terhadap istrinya itu.
"Apakah aku boleh ikut duduk bersama kalian?" tanya Jonatan langsung duduk sebelum dipersilahkan oleh pasangan itu. Adry mendengus kesal.
"Aku senang. Akhirnya, kau telah menemukan Raina," ujar Jonathan pada Adry. Raina menatap suaminya. Adakah yang dia lewatkan? Bukankah mereka kawan seteru?
Adry bukannya menjawab malah menoleh ke arah lain.
"Bagaimana kau tahu?'' tanya Raina.
"Dia selalu menekuk wajahnya sepeninggal dirimu, galau dia tanpamu seperti makhluk tidak bernyawa," goda Jonatan membuat Adry menatap tajam ke arahnya. Hal itu, membuat Jonathan semakin senang.
"Apakah?" Raina menunjuk ke arah Jonathan dan Adry bergantian.
"Kami ada proyek bersama jadi sering berhubungan dekat dan dia menceritakan masalahnya denganmu. Aku senang sekaligus prihatin. Senang karena aku bisa mencarimu dan mengajakmu menikah, prihatin melihat keadaannya yang tidak terurus."
Raina menganggukkan kepalanya, mengerti. Jonathan merebut gelas minuman Adry. "Aku haus."
"Kau itu tidak punya sopan santun sama sekali."
"Jo, bagaimana tentang rencana pernikahanmu dengan gadis itu?"
"Kau mau menikah? Dengan siapa?"
"Dia dijodohkan dengan anak juragan tanah asal daerah Subang. Dia uring-uringan karena tidak ingin dijodohkan tetapi aku bilang terim saja. Dia bisa menceraikan wanita itu jika sudah merasa bosan atau tidak cocok." Raina yang mendengar keterangan dari Adry langsung memukul lengan pria itu keras.
"Kau kira pernikahan itu sebuah permainan?" tanyanya. "Dia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh."
"Ini bukan jaman Belanda atau Siti Nurbaya, aku itu seorang pria akan menikah karena dijodohkan Raina, itu menghancurkan reputasi ku sebagai Cassanova sejati. Orang tuaku mungkin mengira jika aku tidak akan laku sehingga melakukan itu."
"Kalau begitu buat dia mencintaimu," kata Raina.
"Dia itu masih sangat muda baru lulus kuliah tapi wataknya seperti anak kecil yang manja. Dia tidak sepertimu yang cantik, pengertian, dan penuh kasih sayang serta lembut. Aku mencari wanita seperti dirimu tetapi tidak bisa lagi," ungkap Jonathan.
Adry yang mendengarnya menyemburkan makanan sehingga tepat mengenai wajah Jonathan.
"Dia itu istriku dan kau dilarang membayangkan wanita seperti dirinya karena tidak ada lagi. Hanya ini stock satu-satunya. Aku juga tidak akan membiarkan kau merebutnya dariku. Jangan coba bermain-main denganku," ucap Adry kesal dan marah. Raina mengusap lengan suaminya agar meredakan amarahnya.
__ADS_1
"Tenang bro, aku tidak akan merebut dia darimu tetapi jika kau akan menceraikannya maka aku adalah orang pertama yang akan melamar," tegas Jonatan dengan mimik serius.