Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Malaikat Penolong


__ADS_3

Raina mengangkat tas berat dari sudut ruang ganti. Tas itu menghilangkan pemandangan rapi ruangan itu. Dia berniat akan membuangnya jika isinya barang tidak berharga. Sudah seminggu Hana di rumah sakit dan ini waktunya dia kembali ke rumah. Dia ingin membuat suasana nyaman dan bersih ketika wanita itu kembali.


Raina mulai membuka tas usang untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


"Hacih!" debu membuat dia bersin berkali-kali.


"Nyonya biar saya saja!" ujar Mbok Sarti tidak enak karena hanya melihat. Dia adalah satu-satunya orang yang dipercaya Roy untuk membersihkan kamar.


"Tunggu, biar aku lihat dulu apa isinya, siapa tahu barang kenangan dan berharga milik Roy atau Hana."


Beberapa surat penting seperti KK, akte lahir Ayu dan Bagus yang masih dengan orang tua tunggal. Buku kehamilan Hana, dan lainnya. Lalu album tua.


Raina mulai membuka album itu. Dia penasaran dengan keluarga Hana karena baik Roy maupun Hana tidak pernah membahasnya. Mereka hanya mengatakan jika keluarga Hana akan datang tanpa mau mengenalkannya dengan Ayah atau Ibu.


Hana mulai membuka lembaran album pertama. Foto satu keluarga dengan dua anak kecil kembar. Hana kembar? tanyanya dalam hati membuat dia penasaran lalu membuka lembar lain. Lalu ada foto-foto lain yang membuat Raina yakin jika itu memang Hana dengan kembarannya. Sayang foto itu hanya sampai Hana remaja. Jadi Hana masih punya seorang saudara kembar dan Ibu. Dia pun sepertinya berasal dari keluarga berada. Dia akan memberi tahu Adry tentang hal ini. Keluarga Hana harus tahu bahwa Hana baru saja mengalami kecelakaan. Roy sungguh tidak bijak sana jika menyimpan masalah ini sendiri. Ibunya berhak tahu tentang keadaan putri mereka.


Lalu foto Ayu dan Bagus dari bayi hingga sebesar ini. Hanya beberapa buah tetapi itu terlihat menarik. Raina lalu mengambil tiga foto. Rencananya akan dia perbesar dan diletakkan di ruang tamu. Rumah ini akan terlihat hangat nantinya. Pikir Raina.


***


Sedangkan di tempat lain, seorang anak mengendap-endap berjalan menuju ke sebuah rumah yang terbuat dari kardus pinggirnya. Dia melihat ke kiri kanan sebelum akhirnya masuk ke dalam sana.


"Bagaimana keadaan Bu Hana?" tanya Ojim.


"Dia belum bangun, Kak," ucap Lina. Meletakkan kain handuk basah yang hangat di kening Hana.


"Semoga Bu Hana tidak panas lagi." Ojim duduk sambil meraih air minum yang terletak di dekatnya. Ruangan itu hanya berukuran tiga kali dua meter. Berada di kolong jembatan Ciliwung. Alas bawah ruangan itu dari karpet bekas plastik yang mereka temukan di sungai. Lalu diberi kardus agar lebih hangat.


"Bagaimana di luar Kak? Apakah sudah aman?" tanya Lina.


"Tadi ada orang lagi yang mencari Ibu."


"Kenapa Ibu sampai dikejar penjahat, ya?" ungkap Lina.

__ADS_1


"Kita tidak tahu hanya bisa menolong sesuai yang kita mampu."


"Kakak bawa makanan?" tanya Lina.


"Cuma bawa tiga bungkus mie, sebagian besar uang Kakak tadi dibawa oleh Bang Dedy. Hanya bisa membeli air galon dan mie ini saja."


"Ya, sudah tidak apa-apa. Biar aku masak dulu," kata Lina mengambil mie rebus itu. Mereka memasak dengan alat masak ala kadarnya yang terbuat dari panci magic com bekas yang pernah mereka temukan.


"Biar kakak nyalakan dulu tungkunya."


"Kayunya masih basah terkena hujan semalam."


"Kakak tadi bawa kayu dari pinggir jalan."


Lina membuka korden kain melihat keluar ruangan. Ada beberapa batang kayu di sana.


"Untung saja, kalau tidak, kita tidak bisa menyalakan tungku nanti."


Ojim lalu mulai membuat api tidak jauh dari petak rumahnya. Setelah api menyala gantian Lina yang mulai memasak mie instan.


"Lina... Lina..., ini Ibu tadi dikasih orang nasi, Ibu sudah masak jadi buat kamu saja," ucap seorang ibu sesama penghuni kolong jembatan.


"Terimakasih, Bu." Sebuah senyum lebar merekah di bibir mungil itu.


Mie instan sudah matang. Lina meletakkan panci lain berisi air bersih. Dia lalu masuk ke dalam ruangan tadi sambil membawa plastik berisi nasi putih dan mie instan yang tadi dia masak.


"Kakak, aku masak mie nya dua bungkus saja karena ada nasi dari Bu Painah."


"Wah... rejeki memang tidak akan kemana." Ojim mengambil piring plastik untuk meletakkan nasi dalam plastik.


"Ojim, Lina... maaf Ibu tertidur saja tidak membantu kalian."


"Tidak apa-apa, Bu. Kami senang Ibu di sini kok."

__ADS_1


"Ibu merepotkan kalian."


"Jangan katakan itu lagi. Kami sudah menganggap Ibu sebagai Ibu kami," ucap Ojim terdengar bijak.


Hana menggerakkan kakinya sambil mendesis.


"Masih sakit ya, Bu?" tanya Lina melihat balutan luka yang sekitarnya memerah di betis Hana.


"Ya, tapi lebih baik dari kemarin." Hana memaksakan diri untuk tersenyum.


"Apakah ada orang yang...," Hana memberitahu lewat isyarat matanya.


"Sudah tidak ada Bu. Aman. Tetapi kemarin malam ada lagi orang yang bertanya-tanya apakah ada orang yang menemukan Ibu di sini? Hanya saja yang sekarang berpakaian rapi seperti orang kaya."


"Ibu tidak akan percaya siapapun kecuali Ayahnya anak-anak."


"Sekarang kita makan dulu saja, Bu," ajak Lina menyerahkan nasi dengan lauk mie instan panas.


"Kalian baik sekali pada Ibu, terimakasih banyak." Hana menyentuh rambut Lina.


"Ibu juga selalu baik pada kami. Ibu lihat jaket ini selalu kami gunakan setiap hari kecuali jika basah," ujar Ojim diiringi ketawa kecil Lina.


"Gara-gara kakak pakai jaket itu, Shinta, cewek yang suka mengamen di perempat itu ehm...." Mulut Lina ditutup oleh Ojim.


"Ckk kau masih kecil, belum saatnya jatuh untuk bermain cinta, seharusnya kau itu sekolah."


Lina dan Ojim menunduk. Mereka sama sekali belum pernah mencicipi bangku sekolah. Ojim adalah anak yang kabur dari panti asuhan sedangkan Lina tidak ada yang tahu siapa orang tuanya. Hanya saja dulu dia diasuh oleh seseorang yang mengajaknya menjadi pengemis dari bayi lalu setelah beranjak besar dia dijual oleh orang yang dia panggil Ibu pada Bang Asep. Untungnya dia sudah mati karena overdosis. Lina kabur dari tempat penampungan anak-anak yang dipaksa mengemis setelah Bang Asep mati lalu bertemu dengan Ojim dan mereka tinggal bersama sampai sekarang.


"Kalian bantu Ibu pulang ke rumah. Lalu kalian tinggal bersama Ibu dan keluarga Ibu." Lina memang punya niatan itu hanya saja sempat ditentang oleh Roy. Namun, kini setelah dua anak itu menolongnya dari kejadian pembunuhan itu, Hana berjanji akan menjaga keduanya seperti anak sendiri.


"Apa keluarga Ibu akan memperbolehkan kami tinggal di sana?"


"Tentu saja sebab kalian adalah malaikat penolongku."

__ADS_1


__ADS_2