Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Jodoh Tuhan


__ADS_3

"Aku berjanji akan terus berada di sisimu dan berdoa semoga aku bisa terus menemanimu hingga kau tiada." Karina teringat pada ibunya. Dia ingin menjadi seperti ibunya yang tetap setia walau ayah dalam masalah pelik dan tetap berada di sampingnya walau bertahun-tahun ayah menderita sakit parah.


"Aku ingin menjadi seperti ibu yang tetap berada di dekat suaminya hingga akhir hayat Ayah."


"Itu maksudku," ucap Roy memeluk Karina.


"Sekarang pakai bajumu. Dingin."


Karina menaikkan alisnya di belakang tubuh Roy sedikit merasa kecewa tetapi memang diskusi ini membuat panas gairah di tubuh mereka turun drastis.


Roy mengambil baju Karina dan memakaikannya lalu dia memakai celana kolor dengan penuh percaya diri di depan Karina.


Lalu langsung melompat naik ke tempat tidur dan menarik tubuh Karina ke dalam dirinya dan memeluknya erat.


"Kita tidur karena hari besok pasti akan sangat melelahkan."


"Kau harus menengok ibumu di rumah sakit untuk mengetahui kondisinya secara langsung. Walau dia baik-baik saja menurut anak buahku tetapi kita tetap harus menjenguknya."


Karina menganggukkan kepala. Roy mengusap lengan Karina secara intens.


"Selain itu aku ingin meminta ijin padanya."


"Untuk apa?" Karina menengadahkan wajah menatap dirinya.


"Untuk menikahimu. Aku pikir akan lebih indah jika kita melakukan malam pertama yang benar-benar pertama bagi kita dan aku bisa mengambil hadiahnya."


Karina melonjak terkejut. "Kau serius?" tanyanya tidak percaya.


"Aku serius bahkan sangat serius," ulang Roy.


"Karina aku memintamu menjadi istriku selamanya hanya milikku," ucap Roy. Entah mengapa dia menjadi pria posesif yang menginginkan Karina selalu berada di sisinya. Mungkin trauma kehilangan Nita yang menyebabkannya.


"Aku bersedia, bahkan sangat bersedia."


"Kenapa?"


"Entah itu cinta atau bukan aku hanya ingin bersamamu. Sama sepertimu aku merasa takut kehilanganmu sewaktu kau dalam keadaan koma. Aku sadar kau sangat berarti untukku. Nafasku bahkan hampir pergi ketika tahu kau sedang melakukan operasi dan kondisimu parah."


"Itu menunjukkan kau memang tidak bisa hidup tanpaku dan aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Aku percaya kau itu memang jodoh yang Tuhan buat untukku. Kita tercipta satu untuk yang lain." Setidaknya itu yang Adry katakan tentang cinta dan jodoh. Kini Roy mulai mempercayainya. Mereka saling menatap dan tersenyum. Roy mengecup singkat bibir Karina yang mulai jadi candunya.

__ADS_1


"Kita tidur lagi saja. Ini masih terlampau pagi untuk bangun lebih awal,'' ucap Roy yang masih enggan untuk melepaskan Karina.


Dia membalikkan tubuh Karina sehingga tubuh wanita itu membelakanginya. Lalu memeluk pinggangnya erat melekatkan tubuhnya di tubuh Karina dan meletakkan kepalanya di ceruk leher wanita itu membuat Karina kegelian.


"Ini tidak nyaman," ucap Karina merasakn sensasi lain ketika bulu halus di rahang Roy menggesek kulit leher serta bahunya.


Lalu mereka bertukar posisi lagi. Kali ini kepala Roy berada di tempat hangat dalam bukit yang indah. Dia melengkung seperti anak bayi dalam dekapan ibunya.


"Aku sangat lelah dan dadaku mulai terasa nyeri."


"Kau minum saja obatnya agar nyeri itu berkurang," balas Karina khawatir.


"Obatku hanya dirimu." Jawaban itu membuat Karina tersenyum. Dunia terasa indah ditengah banyaknya masalah yang mendera. Nanti dia akan menceritakan semua masalahnya pada Roy. Dia percaya pada pria itu sepenuhnya. Dia pun lega karena kini ada orang yang akan melindungi dan mendukung langkahnya. Bersama Roy semua terasa ringan dan terasa mudah.


Setelah mendengar dengkuran dari Roy, Karina lalu bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dia membersihkan diri dan bersiap. Untuk apa dia tidak tahu yang jelas dia ingin terlihat cantik di depan pria itu.


Sambil mengoleskan lipstik berwarna merah menyala, Karina mulai berpikir untuk belajar memasak. Dia tidak bisa hanya bangun, sarapan dan pergi bekerja tanpa melakukan sesuatu apapun untuk calon suaminya. Walau ada pelayan yang akan membantu semuanya. Setidaknya dia harus mencoba meracik kopi yang nikmat, bukan kopi instan yang langsung di seduh.


Karina lalu keluar dari kamar itu melihat ke sekeliling dan mencari dimana arah dapur. Untung dia bertemu dengan salah seorang pelayan hingga tidak takut akan tersesat karena rumah ini begitu besar dan luas.


Mereka lalu membawa Raina ke arah pantry. Dapur khusus untuk pemilik rumah. Sedangkan dapur besar ada di tempat yang lain.


"Anda ingin memasak apa Nona?" tanya pelayan itu.


Pelayan itu terkesiap. Dia buru-buru menjawab setelahnya.


"Sebenarnya kau tinggal menyuruh pada kami apa yang kau inginkan. Kami akan menyajikannya untuk Anda."


"Dia benar, kau tinggal menyuruh saja." Suara Roy terdengar dari belakang Karina membuat wanita itu menoleh.


"Ish kau itu... aku hanya ingin bisa membuat sendiri makanan dan minuman," ujar Karina.


Roy lalu memberi tanda pada para pelayan yang ada di tempat itu untuk pergi.


"Aku butuh istri bukan pelayan yang akan mengurusi masalah sepele itu. Jika semua tugas itu kau yang menyelesaikannya untuk apa aku membayar mereka semua?"


Karina menghela nafas berat. Dia lalu membalikkan tubuh dan bersandar pada meja dapur. "Ini bukan tentang kita punya pelayan atau tidak hanya saja sesekali aku ingin menjalani tugas sebagai seorang istri seperti Kak Raina. Tentunya jika aku akan menjadi istrimu kelak."


"Tugasmu hanya untuk menemaniku saja," jawab Roy yang mendekat dan memeluk Karina dari belakang. Lalu mencium lehernya.

__ADS_1


"Aku juga ingin membuatkan sesuatu untukmu yang bisa kau makan atau minum."


"Kau ingin sekali bisa memasak?"


Karina mengangguk.


"Kalau begitu kita mulai dari membuat kopi."


"Mulanya kau ambil cangkir terlebih dahulu. Aku pecinta kopi pahit jadi jangan kau beri gula didalamnya." Roy lalu mengajari Karina membuat kopi kegemarannya.


"Aku mengerti dan ini sangat mudah. Semudah membuat kopi instan."


"Humm... kau sendiri suka kopi apa?" tanya Roy.


"Aku suka cappucino," ucapnya.


"Kita akan membuatnya. Aku punya serbuk kopi itu." Dengan lihai Roy membuka laci dimana serbuk itu berada. Mulai mengajari Karina membuat kopi dan membuat gambar diatasnya pula.


"Kau berbakat seperti seorang barista."


"Aku bekerja di resort dan memastikan semuanya harus berjalan baik karena itu aku sering melihat para pekerjaku melakukannya dan aku mulai belajar banyak hal dari mereka. Termasuk soal memasak makanan asing."


"Kalau begitu aku akan belajar padamu saja."


"Aku takut kau malah akan membuat dapurku meledak."


"Itu masalalu kali ini tidak."


"Kau ingin makan pagi pakai apa?" tanya Roy.


"Aku ingin makan sandwich panggang telor sepertinya itu mudah."


"Kau pernah membuatnya?"


"Sudah namun hampir gagal lebih tepatnya sedikit gosong untuk isian telornya. Aku tidak berbakat untuk ini."


"Okey, aku mengerti. Kita akan membuatnya."


"Kau akan mengajariku?" Roy mengangguk. Pria itu sedang menggunakan kaos dalam lalu Appron berwarna hijau dia gunakan. Dia terlihat seksi dengan maskulin dengan penampilannya.

__ADS_1


Pria itu memasangkan apron di tubuh Karina.


Pertama kali Karina dia suruh memecah telor. Yang terjadi dia malah memasukkan kulit telor itu dalam mangkuk. Roy menarik nafas dalam. Wanita ini memang sangat buruk di dapur, pantas saja dia ingin banyak belajar di dapur.


__ADS_2