Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kunci Jawaban


__ADS_3

Adry berniat keluar dari rumahnya untuk mencari makan dan sekedar untuk menghilangkan kekesalan di hatinya akibat pertengkaran dengan Raina. Sesampainya dia sedang memutar kunci mobil ketika handphonenya bergetar.


Sebuah panggilan masuk kembali ke handphone Adry, dia mengira itu dari asisten atau sekretarisnya. Adry hanya menyimpan beberapa nomer penting saja di kontaknya. Nita, Ibunya, Ayahnya, Sekretaris, Asisten dan Roy selain itu tidak ada lagi yang tahu nomer telepon miliknya. Kecuali nomer bisnis yang sering dipegang oleh asistennya.


"Apa?" bentak Ryan pada benda pipih itu tanpa melihat dari siapa panggilan itu berasal. Dia kira itu dari asistennya yang menanyakan beberapa masalah perusahaan padanya sedari tadi. Dia masih dalam mode kesal karena pertengkarannya dengan Raina.


"Adry?" suara ibunya mulai terdengar. Adry mengusap wajahnya kasar.


"Bu, maaf aku kira itu dari asistenku. Aku tidak bermaksud membentakmu." Adry duduk bersandar di mobil sembari memegang dahinya.


"Ada apa Adry? Suaramu nampak tidak baik-baik saja." Naluri Ibu memang selalu tajam perihal anaknya.


"Tidak apa-apa Bu, hari ini hari yang sibuk. Aku mungkin terlalu lelah."


"Jaga kesehatanmu, Dry? Bekerja itu penting tetapi kesehatan tetap yang utama."


"Ya, Bu." Mereka lalu terdiam. "Ada apa Ibu menelfonku?"


"Akhir Bulan aku akan ke Jakarta. Aku ingin bertemu dengan cucu serta anak dan menantu. Ayahmu sendiri tidak bisa ikut karena harus ke Paris."

__ADS_1


Adry memejamkan mata, memijit batang hidungnya. Tidak mudah untuk membohongi semua orang. Cepat atau lambat mereka akan tahu perihal Raina. Ibunya orang yang awas tidak mudah baginya untuk menyembunyikan sesuatu dari wanita itu. Dia memang terlihat tenang tetapi mengawasi semuanya bagai singa betina yang menjaga sarangnya.


Dia berpikir dari pada ibunya tahu dari mata-mata atau orang kepercayaannya, tentang Raina sebaiknya dia memberitahunya terlebih dahulu.


"Bu, aku ingin memberitahu mu sesuatu hal."


"Ya, apa itu. Aku mendengarkan."


"Raina bersamaku dan dia sedang hamil."


Terdengar tarikan nafas panjang yang tajam. Hening untuk sesaat. Adry menunggu reaksi dari ibunya apapun itu.


"Nita sudah tahu?"


"Kurasa ayahmu harus tahu masalah ini. Hmm aku kira ada baiknya kau memberitahu Roy tentang masalah ini."


"Dia tidak ingin kuhubungi. Aku sendiri tidak yakin dia masih ada di Singapore atau tidak?"


"Aku akan mencarinya untuk datang ke sana dan kita bisa makan bersama dan menentukan apa yang akan kita lakukan."

__ADS_1


"Bu, aku rasa itu tidak perlu kita lakukan sekarang. Kondisi Raina tidak sedang baik-baik saja. Aku takut jika dia tertekan dan berefek buruk pada kehamilannya."


"Apa kau akan kembali pada Raina?" tanya Janeta.


"Jika itu memang benar anakku, aku akan tetap bersamanya."


"Ya, sudah. Aku bisa apa jika itu memang sudah jadi keputusanmu. Yang terpenting kau bahagia, Nak."


"Terimakasih atas pengertianmu, Bu." Panggilan itu lantas diakhiri.


Ibunya memang sedari awal tidak menyukai Raina. Dia terang-terangan mengatakan itu pada Adry dan ayahnya. Namun, didepan Adry semua nampak baik. Ibunya bersikap sopan dan pengertian pada Raina walau pernah dua kali mereka bertengkar hebat dan terakhir berakhir dengan kejadian berdarah.


Adry kira setelah penusukan itu terjadi ibunya akan membenci Raina. Tidak, dia malah memberi simpatinya dan menyuruh Adry untuk mencarinya. Dia tidak ingin memasukkan Raina dalam penjara walau wanita itu sudah mengakui semua perbuatannya.


Bagaimanapun dia adalah ibu dari Leon, dia tidak bisa dipermalukan dan diperlakukan dengan buruk apalagi di depan khalayak ramai. Ibunya mengatakan jika dia sudah memaafkan apa yang Raina lakukan. Namun, hal terakhir yang ingin dia lakukan saat ini adalah menjauhkan Raina dari keluarganya termasuk Leon. Bukan karena dia ingin memisahkan antara ibu dan anak tetapi kehadiran Leon berarti kedatangan Nita dan masalah akan kembali rumit.


Adry menyalakan mesin mobil dan memundurkan perseneling. Mencoba menjauh dari tempat itu sebelum kemarahannya meledak.


Ibunya, Nita dan Raina sebuah segitiga permasalahan yang rumit dan dia terjebak diantara tiga wanita yang sama-sama penting dalam hidupnya. Ibu benar sebaiknya dia menyuruh orang untuk mencari dan menjemput Roy. Sebelum Roy, bertemu dengan siapapun termasuk ibunya. Sebab Roy adalah kunci dari semua jawaban yang ada.

__ADS_1


***


Silahkan sampaikan keluh kesah di komentar. Authornya ngumpet dulu. Jangan lupa like...


__ADS_2