Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin aku pergi dari rumah ini dan kehidupan kalian jika itu yang kau inginkan maka dengan senang hati akan ku lakukan!" Roy berbalik hendak keluar namun tangan Janeta meraihnya.


"Tidak, dengarkan aku hingga selesai. Kumohon."


Nada suara Janeta terdengar lembut dan memelas. Sangat berbeda dengan nada suara wanita itu yang angkuh dan arrogan.


Roy berbalik lagi menatap Janeta.


"Duduklah di bangku itu dan kita bicara. Mungkin kita tidak pernah melakukannya selama ini karena itu aku ingin memulai semuanya dari awal lagi," suara Janeta terdengar serak dan sedih membuat Roy secara otomatis mengikuti semuanya. Pandangan mata wanita itu pun terlihat sendu sesuatu yang belum pernah Roy lihat selama ini.


Apakah ada yang dia lewatkan setelah kejadian penembakan itu? Apakah Janeta telah berubah namun apakah semudah itu dia berbalik haluan menjadi wanita baik? Rasanya sulit dimengerti dan dipercaya.


"Aku tahu jika semua yang kulakukan itu salah dan aku mulai menyadari setelah semua orang berbalik membenciku di saat aku sedang tidak berdaya."


"Apalagi ketika melihat anakku sendiri marah. Orang yang paling kusayangi dan kubela haknya malah berbalik arah membenciku. Itu menyakiti hatiku teramat sangat. Namun, aku sadar aku yang salah. Kau tahu aku sampai detik ini aku tidak mengatakan hal ini pada siapapun tentang perasaanku." Janeta menyeka air matanya.


"Hanya satu orang yang masih berusaha untuk baik padaku dan masih membelaku walau dia sering kau sakiti. Orang itu Raina. Dia terlalu sabar bahkan terlampau baik. Hingga aku tahu apa alasan Adry begitu mencintainya dan membelanya. Raina bagai oase di padang pasir yang tandus. Memberi kesegaran di tengah panas dan lelahnya kehidupan. Lama aku mengamati Raina dan anak-anak nya. Merek sangat baik. Bahkan Leon yang sedang marah dibentak oleh Raina karena mengatakan hal tidak sopan padaku. Dia mengajari kasih sayang dalam keluarga."


"Raina memang orang yang baik. Kakak beruntung memilikinya."


Janeta mengangguk. "Kau juga pria yang baik dan anak yang baik. Ayahmu benar tidak ada yang kurang dalam dirimu. Kau selalu ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga ini dan untukku. Kau bahkan sering mengabaikan keadaanmu demi kepentingan keluarga ini terutama diriku."


Roy mengangkat wajahnya menatap tidak percaya dengan yang Janeta katakan. Mencoba menelisik lebih jauh ke dalam matanya apakah niat wanita ini. Tidak ada kebohongan yang dia rasakan malah ada ketulusan dan kesungguhan dari nada suaranya.


"Sakit ku ini membuatku banyak terdiam dan merenung mencoba untuk menyatukan kepingan memori yang ku abaikan selama ini. Kenangan akan semua hal." Mata Janeta nampak memerah dan merebak.


"Ya, aku ingat jika kau yang selalu bersamaku, selalu didekatku dan selalu ada untukku. Bukan Adry atau ayahmu. Kau yang selalu membantuku mengurus semua hal bahkan hal remeh seperti mengambil sepatu atau bajuku. Atau hal besar seperti menghabisi orang yang mencoba untuk menjatuhkan keluarga kita. Kau melakukan semua tanpa mempertanyakannya. Kau ... memang anak terbaik yang kumiliki... namun hatiku terlalu buta untuk mengerti semuanya... jiwaku terlalu gelap untuk bisa melihat kesungguhan mu dalam menyayangiku. "


Janeta lalu turun untuk bersimpuh dan hampir terjatuh dari kursinya namun tangan Roy memegangnya.

__ADS_1


"Ku mohon maafkan ibumu ini. Aku bahkan tidak layak untuk kau panggil ibu lagi setelah apa yang sudah kulakukan. Aku mencoba membunuh anakku sendiri." Janeta menangis dalam dada Roy.


Roy memeluknya. "Jangan lakukan ini padaku jangan meminta maaf padaku seperti ini jika aku memang anakmu. Seorang anak tidak menuntut ibunya untuk meminta maaf.Tidak Bu."


Janeta memeluk Roy dengan erat melepaskan beban di hatinya selama ini.


"Maafkan aku."


"Aku selalu memaafkan Ibu hanya saja aku takut jika kau masih membenciku setelah apa yang ibu kandungku perbuat padamu."


"Aku sadar tidak seharusnya kebencianku ini ku timpakan padamu kau tidak salah." ucap Janeta tersengal-sengal.


"Aku tahu kini jika sebenarnya Tuhan memberikanku anak lagi dari wanita lain. Anak terbaik yang kumiliki tetapi aku mengabaikannya."


Roy merenggangkan pelukannya. Memegang bahu Janeta.


"Sungguh Ibu, aku diterima di keluarga ini saja sudah anugrah besar untukku. Aku tidak ingin meminta apapun. Hanya ingin cinta keluarga ini padaku."


Janeta menangkup wajah Roy. "Mulai hari ini aku akan menyayangimu lebih dari Adry. Aku janji."


Roy kembali memeluk Janeta. "Terima kasih."


Mereka berpelukan lama. Janeta melepaskan pelukannya dan meminta bantuan Roy untuk kembali naik ke kursi rodanya.


Sedangkan diluar kamar. Adry dan Raina menguping pembicaraan Roy dan Janeta dari celah pintu yang terbuka sedikit. Raina memeluk suaminya ikut terharu dengan suasana yang anak dan ibu lakukan.


"Kau lihat, semuanya akan membaik. Ada kebaikan dalam semua kesulitan. Akan ada pagi setelah malam yang pekat. Dan kini, fajar kehidupan mulai memperlihatkan cahayanya mulai sedikit. Di mulai dengan hubungan Ibu dan Roy yang membaik."


Adry tidak mengatakan apapun tetapi dia ikut senang melihat semuanya.

__ADS_1


"Aku akan memanggil Frans mengambilkan makanan untukmu."


"Aku...," Roy hendak mengatakan tidak ingin namun Janeta menggerakkan jari telunjuk di depannya.


"Kau belum makan apapun selama tiga hari di rumah ini. Aku memasak makanan kesukaanmu. Spagetti bolognese."


Janeta lalu menarik bel dari saku rok. Mulai mengangkat dan membunyikannya. Itu adalah bel untuk memanggil Frans sebagai pengganti remot yang diberikan Raina.


Frans yang sudah bersiap dari tadi di depan pintu terdiam tidak berani bergerak. Raina mengambil baki berisi makanan dari tangan pria gemulai itu, lalu menyeka air matanya.


"Kau pergi, jangan mengintip ini acara keluarga. Aku takut kau akan menyebarkan berita ini pada semua pelayan dalam mansion," ucap Raina dengan suara berbisik.


Frans membelalakkan matanya sambil mengatup bibir rapat. Dia membalikkan tubuh dan pergi sana secepatnya. Raina tersenyum.


Raina menarik tangan Adry untuk masuk ke dalam kamar. Adry sempat menolak.


"Kau janji akan menerima ibu kembali jika dia meminta maaf pada Roy." Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar.


"Tadi Frans sakit perut jadi memintaku untuk membawa ini kemari," kata Raina ketika melihat Roy dan Janeta terkejut melihat mereka yang datang bukannya Frans atau pelayan lain.


Adry lalu duduk di sebelah Roy dan memeluk bahu pria itu.


"Bagaimana keadaanmu?"


Roy tersenyum kecut. "Sudah lebih baik."


Raina melihat ekspresi kedua orang itu lantas tertawa.


"Kalau begitu makan ya," kata Raina.

__ADS_1


"Kemarikan Raina, aku ingin menyuapi Roy."


Adry dan Raina saling menatap. Mereka lalu tersenyum menyerahkan piring makanan itu pada Janeta.


__ADS_2