Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Nasihat


__ADS_3

"Bodoh," ulang Raina lirih.


"Ya, kau tidak tahu berhadapan dengan wanita seperti apa! Dia sangat mencintai Adry, dia bisa melakukan apapun asal Adry masih ada dalam pelukannya."


"Apa maksudmu?"


"Kau itu pasti tahu apa maksudku." Roy menatap Raina lalu mengacungkan jari tangan dan menggerakkannya." Oh... tunggu, jangan ... jangan...."


Roy lalu memegang dua bahu Raina karena kesal dan gemas pada kebodohan wanita itu.


"Apa kau berpikir bahwa kau dan Nita bisa hidup bersama dengan Adry dalam waktu yang bersamaan?" Wanita itu melihat ke arah tangan Roy.


"Maaf!" ucapnya melepaskan tangan dari bahu Raina.


"Aku tidak suka pertengkaran," jawab Raina.


"Ini bukan soal ribut atau cekcok dengan istri tua tetapi di sini tentang siapa pemenangnya. Nita adalah cinta Adry semenjak dulu, tidak mungkin Adry akan melepaskannya begitu saja tanpa ada alasan yang tepat sekalipun dia mencintaimu!"


Raina mengatup bibirnya rapat.


"Jika Nita tahu Leon adalah anak Adry, dia tidak perlu capai-capai menunggu kehamilanmu, karena yang dia butuhkan hanya Adry bukan anaknya."


"Kau paham?" ujar Roy. Raina menggelengkan kepalanya.


"Nita akan mengambil Leon, maka permasalahan ahli waris itu selesai. Adry pun akan tenang, kau tahu nanti nasibmu ke depan? Ditendang layaknya barang tidak berharga!"


Wajah Raina memucat.


"Mari kita duduk dan membicarakan masalah ini!" ajak Roy. Mereka lalu menuju ruang makan. Pikiran Raina sudah tidak jelas kemana arahnya.


"Seorang wanita tidak akan setega itu pada wanita lain."


"Jika kau mungkin, tetapi Nita berbeda. Sudah kukatakan jika dia terlalu mencintai Adry dan akan melakukan apapun asal pria itu ada di sisinya."


Raina mengusap wajahnya. Dadanya mulai berdegub kencang dan sesak. Benarkah kata-kata Roy ini. Namun, yang dia lihat wanita itu sangat baik. Tutur kata dan semuanya.


"Kau masih tidak percaya, jika iya kita buktikan saja nanti ke depan. Namun, jika itu sudah terjadi kau akan menyesal nantinya."

__ADS_1


"Bukan aku tidak percaya tetapi aku tidak tahu harus melakukan apa?"


"Yang harus kau lakukan adalah ikat Leon dan Adry kuat-kuat dalam cintamu hingga mereka tidak bisa hidup tanpa dirimu. Hadapi Nita dengan cara sama liciknya jika tidak kau hanya akan menemui kekalahan. Ini soal siapa pemenangnya bukan soal kedamaian!" Roy menekan kalimat terakhirnya.


"Kau tahu kenapa? Karena yang menang akan menjadi Nyonya Quandt, memiliki Adry sebagai suami, kekayaannya termasuk saham dari perusahaan otomotif milik Adry, dan jangan lupa ahli warisnya."


"Untuk menjadi ratu butuh sesuatu untuk dikorbankan dan satu kepandaian. Jika tidak kau akan tersingkir dengan cepat. Nita itu pandai maka dari itu dia tetap bisa bersama dengan Adry di tengah banyak godaan wanita di samping bosku itu. Dia bisa menyingkirkan mereka dengan mudah dan membuat Adry melihat padanya bukan wanita lain. Kau pun. akan bernasib sama seperti itu."


"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama, aku harus kembali ke kantor." Roy mengeluarkan kartu namanya.


"Telepon aku jika kau butuh sesuatu."


"Aku tidak punya handphone, Adry melarang aku untuk berhubungan dengan siapapun."


"Kau itu memang wanita polos, terlalu polos. Kau bisa menggunakan handphone dibelakangnya. Jangan didepannya. Handphone itu perlu jika kita dalam keadaan mendesak."


"Besok aku akan memberikan handphone untukmu, kau bisa menggunakannya dan jangan terlihat oleh bosku!" kata Roy.


"Kenapa kau malah menentang Adry?"


"Karena aku ingin yang terbaik untuknya dan aku punya hati serta pikiran sendiri untuk segala tindakanku."


"Apa kau sudah cek kandungan?" tanya Roy. Raina menggelengkan kepalanya.


"Jangan lakukan jika terpaksa melakukannya katakan jika kau negatif. Terserah bagaimana caramu untuk mengelabui mereka! Pulanglah ke Indonesia secepatnya sebelum terlambat!" ucap Roy sebelum meninggalkan unit apartemen itu. Raina menganggukkan kepalanya.


Beberapa jam kemudian.


Pintu rumah mulai dibuka. Raina yang sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Leon langsung bangkit dan mendekat ke arah mereka.


"Bu," panggil Leon ketika melihat ibunya berdiri di depannya. Wajahnya terlihat merona dan berseri-seri.


Raina lalu melihat Adry yang memegang bahu Leon. Menatap ke arah Nita yang tersenyum lebar dengan semua belanjaan ditangannya.


"Lihat apa yang Tante Nita berikan, baju sepatu, tas dan ibu lihat jam tangan ini. Bagus bukan?" kata Leon menunjukkan semua belanjaan itu.


Dengan susah payah Raina menggerakkan bibirnya untuk membuat seulas senyum yang tidak sampai ke mata.

__ADS_1


"Kau pasti lelah, pergilah ke kamarmu dan bersihkan diri," ujar Raina.


"Ayah, Tante Nita, aku masuk ke dalam dulu. Terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat senang," ujar Leon.


"Apa kau senang?" tanya Nita membelai rambut Leon. Raina yang melihat serasa ingin menepisnya. Benarkah yang dikatakan Roy jika Nita hanya ingin mengambil hati Leon?


"Sangat senang," seru Leon dengan antusias.


"Kalau begitu cium pipi Tante," kata Nita berjongkok. Leon lalu mencium pipi Nita. Adry tersenyum melihatnya. Hal itu membuat hati Raina menjadi perih.


Mereka seperti sebuah keluarga bahagia jika tanpa dirinya. Adry juga terlihat senang kali ini. Raina menoleh ke samping, mengerjakan matanya agar air mata tidak jatuh turun ke pipinya yang putih.


"Anak pandai," kata Adry mengacak rambut Leon. Leon lalu pergi ke atas.


"Maaf kami terlambat pulang. Tadi Adry juga mengajak Leon ke pusat permainan di mall."


Oksigen di ruangan ini seperti berkurang, dadanya terasa sesak sekarang. Raina menghela nafas sambil menganggukkan kepala.


"Silahkan duduk," kata Raina sopan. Nita lalu memeluk lengan Adry dan mengusapnya.


"Suamiku mungkin lelah. Sebaiknya kami 'pulang' ke rumah. Dia bisa istirahat tenang di sana."


"Oh, ya sudah tadinya aku ingin membuatkan secangkir kopi atau mungkin teh hangat."


"Tidak perlu, kopi tidak baik untuk kesehatannya. Dia ada sedikit gangguan Hepatitis jadi dilarang minum kopi." Sindir halus Nita.


"Aku sudah sembuh, Sayang, lagi pula aku juga minum kopi setiap pagi dan tetap sehat," ujar Adry merasa tidak enak.


"Tetap saja itu tidak bagus untukmu tetapi kau tetap saja menerjangnya. Aku sebagai istri harus mengingatkanmu mana yang baik dan tidak. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa karena hidupmu berarti hidupku," tegas Nita lembut.


Adry menatap ke arah Raina dengan rasa bersalah. Pandangan mata mereka sempat beradu tetapi Raina segera memutuskannya.


"Ya, sudah kita pulang sekarang. Mungkin Leon membutuhkan bantuan Raina sekarang. Raina kami pulang sekarang." Adry lalu membalikkan tubuhnya.


"Ehm, tunggu dulu. Kita harus meminta ijin pada Raina untuk membawa Leon pergi akhir Minggu besok."


"Pergi?" tanya Raina bingung.

__ADS_1


"Adry dan aku ingin mengajak Leon bertemu dengan ayah dan ibu mertua."


__ADS_2