
Bruk!
Bunyi mobil terdengar jelas kala sebuah sepeda menabrak bagian belakangnya.
"Aww...," teriak anak kecil mengerang kesakitan.
"Kau tidak apa-apa, Kak?" tanya Ayu mendekat Dia menjatuhkan sepedanya begitu saja di tanah.
Kaki Bagus nampak berdarah di bagian lutut.
"Aku baik-baik saja hanya saja?" tatapan Bagus beralih ke sebuah mobil mewah yang dia tabrak. Dua anak kecil itu saling pandang dan meringis kala melihat lampu belakang mobil itu pecah karena terkena setang sepeda yang masih tertancap di sana. Lalu bagaimana Bagus bisa jatuh. Dia terlempar dari sepeda itu.
"Pasti mama akan marah kalau tahu ini," ujar Ayu menggerakkan kepalanya.
"Eh kalian sedang apa?" bentak seorang pria patuh baya. Bagus dan Ayu lalu mengambil sepeda mereka. Hendak kabur namun Bagus nampak kesulitan untuk menjalankan sepeda yang telah peyok bagian rodanya.
"Gus, ayo cepat!" teriak Ayu tetapi terlambat karena pria itu sudah men jewer kedua telinga anak itu.
"Eh, kalian anak nakal apa yang kalian lakukan pada mobil Bosku?" bentak pria itu dengan mata besar yang memerah. Bagus dan Ayu nampak ketakutan.
"Aduh sakit Eyang, aku tidak sengaja," teriak Bagus.
"Tidak sengaja atau disengaja kalian harus bertanggung jawab."
Pria paruh baya itu lantas membawa Bagus dan Ayu masuk ke dalam rumah mewah.
Mereka nampak takjub dengan pemandangan halaman indah yang ada di dalam rumah itu. Sedangkan di layar nampak empat orang sedang duduk di sebuah kursi dari kayu.
Mereka melihat ke arah pintu masuk bersamaan.
"Kenapa kau bawa anak gelandangan masuk kemari, Pri?" ujat Aliya.
"Mereka habis menabrak mobil Tuan Roy. Lampu belakang Mobil Tuan pecah."
"Aku tidak sengaja. Lagipula salah mobil itu parkir di tempat sembarangan. Itu kan jalan raya bukan tempat parkir," ujar Bagus tidak terima disalahkan.
"Eh, sudah salah tidak mau meminta maaf."
"Kakakku benar, rumah ini luas kenapa harus parkir di pinggir jalan. Itu menyalahi aturan," bela Ayu tidak terima jika Kakaknya di salahkan.
Keempat orang itu menaikkan kedua alisnya menatap ke dua anak yang berani berbicara dengan lantang. Kedua anak ini terlihat tampan dan cantik namun nampak kotor dan tidak terawat dengan baik.
"Mereka benar, aku yang salah," ucap Roy menyesap kopinya.
"Tapi Tuan..., "
"Sapri kau boleh pergi," perintah Aliya. Sapri lalu undur diri dari tempat itu.
__ADS_1
"Kalian boleh bebas sekarang kalau nakal lagi... hmm tidak ada ampun," ancam Sapri, bukannya takut Ayu dan Bagas malah menjulurkan lidahnya.
"Apakah kami boleh pergi?" tanya Bagus.
"Tunggu, kau terluka seharusnya diobati. Melati ambil kotak obat di dalam," perintah Aliya.
"Tidak usah ini cuma luka kecil nanti akan sembuh sendiri," Bagus tersenyum. Senyuman yang menarik hati Roy. Dia seperti tidak asing dengan senyum itu.
"Itu bisa infeksi," kata Aliya mendekat lalu mengajak Bagus dan Ayu untuk duduk bersama mereka.
"Aku tidak apa-apa, sudah biasa."
"Buat kalian sudah biasa buatku ini luar biasa. Melati keluar dengan kotak P3K-nya. Dia menyerahkan pada Neneknya.
"Duduk di sini," kata Aliya.
"Baju kami kotor," ujar Ayu ragu.
"Tidak apa-apa, sini," Aliya mendudukkan Bagas dan Ayu di salah satu kursi panjang. Roy dan Jonathan hanya memandangi anak itu dan terdiam.
"Kalian sudah sekolah?" tanya Aliya mulai membersihkan luka itu. Melati yang hampir tidak pernah terluka memegang tangan ayahnya sembari meringis sedangkan Ayu nampak tergiur melihat roti sobek yang terlihat enak ada di depan matanya. Air liurnya hampir jatuh dan perutnya langsung berbunyi. Dia memegang perutnya sendiri.
Hal itu ditangkap mata oleh Roy. Dia lalu mendekatkan piring berisi roti itu pada Ayu.
"Kau mau?" tawar Roy. Mata Ayu menatap Roy. Membuat Roy teringat pernah melihat mata yang sama tapi dimana? Mungkin hanya perasaannya saja.
Roy dan Jonathan terkejut, mereka lalu tersenyum.
"Ini tidak ada racunnya. Kami pun memakannya lihat ini," Roy merompel sedikit roti itu dan memakannya, "lihat tidak berbahaya kan?''
" Tapi kata Ibu tetap tidak boleh. Nanti Ibu bisa memukul kami jika menerima pemberian dari orang asing."
"Di pukul?" tanya Melati. Kedua anak kembar itu mengangguk.
"Ibu sayang pada kami hanya saja kami punya peraturan yang harus ditaati termasuk tidak boleh menerima pemberian dari orang asing. Ada temanku yang diberi jajan oleh orang asing lalu diculik," terang Ayu.
Roy tersenyum miris. Dia mengerti mengapa ibunya keras dalam hal ini. Itu untuk kebaikan mereka.
"Namun, bagaimana jika orang itu bermaksud baik pada kalian?"
"Tetap tidak boleh. Ibu melarang untuk kebaikan kami," lanjut Ayu. Pernyataan Ayu itu membuat Roy tersentuh. Anak itu begitu menurut pada ibunya. Walau dia ingin sesuatu namun dia menahan diri untuk mendapatkannya jika tanpa restu dari sang ibu.
"Nah, sudah ...," kata Aliya. Mengusap luka yang sudah diberi plaster.
"Kalau begitu kami boleh pergi," ujar Bagus.
"Tunggu, biar kalian makan dulu," tawar Aliya.
__ADS_1
"Tidak terima kasih. Ibu pasti sudah menunggu kita di jalan." Bagas bangkit lalu menarik tangan Ayu untuk pergi dari tempat itu.
"Eh Nak, siapa nama kalian?" tanya Aliya.
"Aku Bagus dan ini Ayu."
"Kalian kembar?" tanya Melati. Kedua anak itu menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu berjalan menuruni anak tangga menuju ke halaman. Kaki Bagus yang sakit membuatnya sulit untuk berjalan.
"Bagaimana kalian pulang kalau buat berjalan saja sulit," kata Roy.
"Kami naik sepeda kok," ujar Bagus tersenyum.
"Biar Om antar ya," tawar Roy.
Bagus dan Ayu saling memandang. Ayu lalu membisikkan sesuatu pada Bagus.
"Jika Om ini mengantar kita nanti Ibu tahu dan melihat apa yang kita lakukan pada mobilnya. Bagaimana jika Om ini meminta uang buat perbaikan mobilnya yang rusak."
Bagus meringis mendengar ucapan adiknya itu.
"Tidak usah, Om, kami bisa sendiri."
"Nenek, Cantik dan Om ganteng Terima kasih atas bantuannya. Buat Om gagah. Kami bisa pulang sendiri," ucap Bagas lalu berlari tertatih bersama Ayu sambil bergandengan tangan.
"Jo, Tante aku pulang dulu. Ada urusan lain," ujar Roy yang ingin mengikuti anak itu. Naluri nya tidak tega melihat kedua anak itu pulang dalam keadaan sakit dan kelaparan.
"Hati-hati," ucap Aliya.
Roy setengah berlari mengejar kedua anak itu. Dia menemukan keduanya sedang berbincang sambil memegang sepedanya yang bengkok di bagian ban depan.
"Kalau Ibu tahu nanti pasti akan memarahi kita. Ibu pasti tidak punya uang untuk memperbaikinya."
"Ini salahku," ujar Bagus.
"Aku takut pulang," ujar Ayu dengan mata merebak.
"Nanti kalau ibu datang dan Kakak dimarahi kau bersembunyi saja."
"Tapi Ibu tidak akan marah kalau kita jujur."
"Kalau jujur, lbu lebih marah lagi. Kau ingin Ibu tahu jika Kakak sudah membuat mobil orang pecah." Ayu menggelengkan kepalanya.
***
Udah tiga bab... mana Votenya? Sepi banget komentarnya... lanjut... lanjut dong...
__ADS_1