Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pengganggu Tua


__ADS_3

Seperti jadwal yang telah direncanakan. Karina akan bertemu dengan Ibu Adry yaitu Nyonya Janeta. Wanita nampak terlihat anggun Dengan balutan jumpsuit berwarna putih dengan sepatu highless yang senada mempercantik penampilannya



Janeta nampak anggun dengan pakaiannya. Dia duduk dengan tenang menatap pemandangan sekitarnya. Senyumnya mengembang tatkala melihat kehadiran Karina.


"Sudah lama menunggu, Nyonya," sapa Karina tersenyum.


"Hanya sepuluh menit, itu tidak terasa karena saya sedang menikmati pemandangan alam sekitar."


"Bagaimana kabarmu?" balik Janeta.


"Seperti yang Anda lihat," kata Karina duduk di salah satu kursi dari rotan dengan busa putih tebal. Angin berhembus kencang membuat rambutnya yang tergerai bergerak-gerak tidak beraturan. Karina lalu menyematkan Surai hitamnya di belakang telinga.


Seorang pelayan datang menyerahkan buku menu. Karina membacanya dan memesan satu cappucino dan croissant.


"Aku belum sarapan tadi," ujar Karina.


"Silahkan, aku sudah pesan kopi hitam tadi," ujar Janeta.


Setelah memesan makanan, Janeta menatap Karina. Dia menghela nafas sebelum mengatakan sesuatu.


"Bagaimana apakah kau mendapatkan apa yang kumau?"


"Ya, ini dia," kata Karina membuka dompet putih di meja, mengeluarkan flashdisk dari dalam.


"Ini berisi semua informasi yang kau butuhkan."


Janeta mengambilnya. Asisten yang berdiri di belakang kursi memberikan laptop pada wanita itu. Janeta lalu meneliti isinya. Dia tersenyum puas.


"Kau memang orang yang bisa aku andalkan." Wanita itu menarik flashdisk itu dari laptop dan menyimpannya.


"Sekarang katakan dimana orang tuaku?" kata Karina.


"Mereka ada di salah satu rumah sakit kecil di Jerman. Kau bisa mencarinya kesana. Minta alamatnya pada asistenku ini." Janeta lalu bangkit.


"Tunggu apa kau bisa dipercaya?" tanya Karina.


"Apa aku pernah membohongimu?" balik Janeta berlalu pergi.


Asisten Janeta lalu memberikan sebuah kartu rumah sakit pada Karina.

__ADS_1


"Kau bisa mengecek melalui sambungan telepon dan tanyakan keberadaan orang tuamu. Jika kau menipu kami maka kami tidak segan-segan menghabisi keduanya." Asisten wanita itu berkata dingin pada Karina.


"Apakah Nyonya akan membayar upah kerjaku?" tanya Karina penasaran.


"Uang itu akan ditransfer satu jam lagi, kami akan mengecek terlebih dahulu, apakah data yang kau berikan itu valid atau tidak?"


"Kalian meragukan pekerjaanku? Aku tidak mungkin bermain-main jika itu berkaitan dengan keselamatan orang tuaku."


"Nyonya juga tidak senang jika dikhianati. Aku harap kau tidak sedang membohongi kami. Terasa aneh karena kau kembali sendiri dengan selamat sedangkan temanmu yang lain ...?" Asisten itu mencebik sembari mengangkat dua tangannya.


"Aku pakai otak untuk bekerja," ujar Karina.


"Mungkin," balas asisten itu.


"Sebenarnya apa yang akan Nyonya Janeta lakukan pada anak dan menantunya?" tanya Karina pada asisten itu.


"Itu bukan urusanmu," ucap wanita itu menatap dingin dan tajam pada Karina sebelum meninggalkannya sendiri.


Karina termangu menatap kartu di tangannya dengan pandangan kosong sampai tidak menyadari seorang pria tua duduk di kursi yang tadi ditempat oleh Janeta.


"Nona apakah kau tidak ingin meminum kopinya? Jika tidak, biar aku saja yang meminumnya."


Karina mengalihkan pandangannya kepada pria tua itu lantas mengambil kopi di tangan pria itu dengan cepat.


"Kau itu sangat kejam pada pria yang lebih tua, Cantik."


"Kau sendiri sudah tua tidak punya sopan santun. Duduk tanpa permisi dan meminta kopi milik tamu yang lain," sungut Karina tidak suka.


"Siapa namamu, Cantik."


"Jangan panggil aku Cantik, kita tidak saling mengenal dan sebaiknya kau pergi dari sini sekarang karena moodku sedang tidak baik hari ini." Karina mendesah, memakan roti itu dengan kesal sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Tatapannya kini tertuju lagi pada pria berambut perak dengan kaca mata di hidungnya yang mancung.


"Masih banyak tempat duduk kosong yang lain, kau bisa memakainya tanpa harus mengganggu diriku."


"Terus terang, saat ini aku hanya ingin mengganggu dirimu," ucap pria itu tertawa kecil.


Karina mengerang marah. Dia mengepalkan tangannya dan memanggil pelayan untuk meminta tagihan makanan.


"Kau mengganggu nafsu makanku saja," ujar Karina dengan wajah memerah. Pelayan datang.

__ADS_1


"Berapa semuanya?" tanya Karina.


"Semua sudah dibayarkan oleh Tuan ini," terang pelayan itu.


Karina menatap malas pada pria disampingnya yang sedang menatapnya dengan pandangan mengejek.


"Aku akan membayar sendiri tagihannya," kata Karina.


"Tidak bisa karena sudah dibayarkan," ujar pelayan itu sekali lagi.


"Kalau begitu aku pesan makanan dan minuman yang sama lalu berikan pada pria tua itu. Aku yang akan membayarnya," tegas Karina.


"Tapi... ," pelayan itu ingin mengatakan sesuatu ketika pria itu menggelengkan kepala.


"Aku tidak mau punya hutang apapun dengan semua orang," gumam Karina berjalan ke arah kasir dan melakukan semua yang dia mau.


"Biar makanan itu untukmu saja," kata pria tua itu. "dan biarkan apa yang dia mau lakukan!"


"Baik Tuan," kata pelayan itu undur diri.


Karina lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil semua barang miliknya. Dia melangkah dengan cepat berharap Roy tidak sedang mengawasi. Dia sama sekali tidak melihat penampakan pria itu di manapun.


Karina mencoba mencari paspor miliknya di koper tetapi dia tidak menemukannya. Dia lalu mengaduk kembali koper itu, lemari dan melihat ke setiap sudut tempat itu. Namun, barang itu tetap tidak ada.


"Kau mencari ini?" tanya pria tua yang tadi ada di restauran. Pria itu sudah berdiri di balkon kamar tidur bersandar dengan pagar pembatas dan menyilangkan kedua kakinya. Satu tangannya memegang buku berwarna hijau sedangkan tangan yang lain di masukkan dalam saku celananya.


"Kau .... bagaimana kau bisa dimana kamarku dan bisa masuk kemari?" tanya Karina terkejut.


Dengan santai, pria tua itu maju ke depan, masuk melewati pintu kaca berjalan hingga berhadapan dengan Karina.


"Aku bisa melakukan apapun."


"Sangat tidak sopan untuk melakukan itu, Sir," ucap Karina geram.


"Sekarang serahkan buku paspor itu padaku!" seru Karina dengan mata membelalak dan memerah.


"Tidak akan, ini akan jadi jaminan ku," kata pria itu malah memasukkan buku itu ke dalam saku jasnya yang kaku.


Tunggu, Karina paham dengan baju jas kaku itu. Dia menyipitkan mata menatap bola mata cokelat terang di balik frame berbentuk kotak. Satu pikiran tentang pria tua itu melesat dalam otaknya. Rupanya dia sedang dipermainkan saat ini olehnya. Sebuah senyum smirk terpampang jelas di bibirnya.


Karina maju ke depan satu langkah hendak menyentuh dan memegang kulit wajah pria itu. Pria itu memundurkan kepalanya dan mengangkat kedua alisnya ke atas.

__ADS_1


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya pria itu. Tiba-tiba Karina tertawa keras dan terpingkal-pingkal.


__ADS_2