
Semua orang langsung menatap wanita berambut pirang, dia adalah salah seorang kepala pegawai di kantor ini. Seorang janda beranak satu yang sudah jatuh cinta pada Roy semenjak gadis namun tidak pernah dilirik oleh pria dingin itu.
Wajah Roy mengeras. "Kau!"
"Usir dia dari kantor ini sekarang ini juga!" perintah Roy.
Wanita itu langsung duduk bersimpuh dengan tangan menyatu di dada.
"Pak Kumohon jangan pecat saya. Saya harus membiayai anak saya satu-satunya bagaimana saya dapat membesarkannya jika dikeluarkan dari kantor ini," tangis wanita berambut pirang itu tetapi Roy tidak mengindahkannya. Dia berjalan masuk ke lift tetapi satu kakinya di pegang oleh wanita itu.
"Maafkan saya Pak! Saya tidak pernah melihatnya jadi tidak tahu jika dia itu sangat penting bagi Anda. Lagipula, sudah sepuluh tahun lebih saya bekerja di kantor ini dan selama ini saya tidak pernah melakukan kesalahan."
"Sayangnya, kau melakukan kesalahan yang berat," ujar Roy dengan tatapan mata yang tajam dan membunuh, membuat suasana menjadi hening dan mencekam. Dia lalu memerintahkan pada yang lain untuk menarik tubuh wanita berambut pirang itu dari kakinya dan mengusirnya keluar dari gedung.
Semua terdiam. Tidak ada yang berani berani bersuara bahkan untuk bernafas sekalipun. Roy tipe bos yang tidak banyak komplain tetapi ketika dia dia mulai tidak menyukai sesuatu maka dia akan menyingkirkan itu dari hadapannya saat itu juga.
Sedangkan di bawah, Hana ditarik keluar oleh petugas keamanan. Semua orang mengernyitkan dahi. Baru tadi Hana digandeng mesra oleh Roy kini dia seperti perampok yang ketahuan mencuri.
Hana kesal karena Roy lama sekali datangnya. Dia berjalan pelan dan melihat ke belakang. Tidak peduli dengan tatapan mata semua pegawai di lantai bawah.
"Awas kau nanti, aku akan membuat pelajaran denganmu karena membuatku dipermalukan seperti ini. Sesepuh Yakuza, kau belum tahu siapa aku!"
"Ayo cepat jalan," satu petugas mendorong tubuh Hana agar berjalan dengan cepat. Tubuh Hana oleng dan hampir terjatuh. Tangannya lalu ditarik oleh seseorang dan detik kemudian dia dalam dekapan orang itu. Hana mencium bau parfum seperti aroma hutan pinus yang menenangkan.
"Kau berani sekali menyentuh wanitaku!" seru Roy. Suara Roy menbuat bergetar ruangan itu. Dua penjaga tadi bersimpuh depan Roy
"Maaf Pak, saya tidak tahu jika dia bersama Bapak. Saya hanya di suruh Bu Susan untuk mengusirnya keluar!"
__ADS_1
"Aku tidak mau dengar alasanmu," bentak Roy. Dia lalu melihat kepala keamanan yang mendekat.
"Hey kau, usir mereka dari sini dan aku tidak mau melihat mereka dan wanita satunya berada di lingkungan kantor ini."
"Satu lagi, ambil semua atribut kantor dari mereka. Tidak terkecuali pakaian yang mereka kenakan!"
"Pak, tapi bagaimana saya akan pulang tanpa pakaian. Saya mohon ampuni kami."
"Kau sudah mempermalukan wanitaku tanpa bertanya terlebih dahulu, kau patut mendapatkannya!" Kedua petugas keamanan itu menunduk. "Aku bahkan ingin juga mematahkan tangan yang menyentuhnya!"
"Tidak... Pak... maafkan saya... saya mohon jangan lakukan itu."
"Sudahlah, tidak usah mematahkan tangannya, ini sudah cukup."
"Tidak ada yang boleh memperlakukanmu dengan buruk, tidak ada satu orangpun. Kalian lihat baik-baik dia. Jika bertemu hormati dia seperti kalian menghormatiku. Jika aku mendengar keluhannya, kalian akan menerima akibat yang mengerikan nantinya."
Di dalam lift yang tertutup Hana langsung mendorong tubuh Roy menjauh. Dia menjauh.
"Maaf!" ucap Roy.
Hana tidak mengatakan sesuatu.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Aku kira kau ada di belakangku tadi."
Tidak ada reaksi dari Hana. Wanita itu tetap melihat ke depan.
Pintu lift terbuka. Roy hendak meraih tangan Hana tetapi Hana berjalan terlebih dahulu. Roy hanya menghela nafas berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Semua orang menyapa mereka dengan sopan. Hana tidak peduli, dia menegakkan bahu dan kepalanya. Sesaat langkahnya mulai ragu.
"Jalan terus sampai di ujung," ucap Roy memberi arah Hana.
"Selamat sore Pak, Bu," sapa seorang wanita berpakaian rapih. Sepertinya dia sekretaris Roy, pikir Hana.
"Siapkan teh untuk kami dan beberapa camilan. Satu lagi bawa baju baru untuk ibu anakku."
Hana melirik ke arah Roy ketika tatapan mereka bertemu Hana langsung membuang mukanya.
"Baik, Pak. Apakah ada yang lain lagi?"
"Aku mau bakso mercon ukuran jumbo, harus panas dan pedas."
"Dua!" lanjut Hana. Sekretaris itu melihat ke arah Roy.
"Bawakan itu juga!"
Roy lalu membukakan pintu ruangannya dan Hana mulai masuk ke dalam. Pintu kemudian ditutup.
Hana menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Hanya ada warna hitam dan putih. Nampak kaku, seperti pemiliknya. Hana tersenyum sendiri dengan pemikirannya itu.
"Ada yang lucu?" tanya Roy. Hana diam saja, lalu duduk di salah satu sofa melepaskan sepatunya dan meluruskan kaki yang terasa lelah dan pegal.
Hana tidak memperhatikan Roy. Dia memperlihatkan sifat cuek membuat Roy salah tingkah.
"Kau ingin minum apa?" tanya Roy membuka lemari pendingin. Hana tetap tidak mau menjawab. Roy menghela nafas.
__ADS_1