Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Keluarga Utuh


__ADS_3

"Tidak. Aku tidak pernah melihatmu seperti itu. Aku mencintaimu dari hatiku terdalam bukan karena apa, siapa atau dari mana, jangan pernah berpikir seperti itu lagi," ungkap Roy


Karina lalu memeluk Roy. "Aku hanya merasa tidak percaya diri dengan penyakit ku ini karena itu aku berpikir demikian. Penyakit ini seakan-akan bisa membunuhku sewaktu-waktu."


"Aku tak ingin melihat atau meraba apa yang akan terjadi di masa depan. Aku hanya peduli pada masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sewaktu-waktu tapi aku tahu apa yang akan kulakukan. Kali ini aku hanya ingin bersamamu, selamanya."


"Terkadang aku bangun dalam keadaan kehabisan nafas, ada rasa ketakutan dan hampa yang bersamayam dalam hati. Berpikir apakah aku akan mati dalam kesendirian dan kesepian. Namun, kali ini aku tidak takut lagi." Karina menatap manik mata cokelat milik Roy.


"Karena aku sudah tahu bahwa ada kau di sisiku yang selalu menemaniku."


Roy menggelengkan kepala, dadanya merasa nyeri dan sesak jika membicarakan tentang kematian. Cukup Nita, jangan ada lagi Karina.


"Kau akan baik-baik saja, aku janji kau akan baik-baik saja... aku akan menjagamu melebihi diriku sendiri dan tidak akan kubiarkan kau ... ." Roy tidak bisa meneruskan kata-katanya. Hanya pelukan eratnya saja yang menyiratkan sebuah ketakutan yang sangat.


Pria itu buru-buru menghapus air mata yang sempat keluar dari pelupuk matanya. Lalu, menarik rambut dengan satu tangan dengan satu tangan lain tetap memeluk Karina erat.


"Jangan pernah katakan tentang kematian lagi. Itu kata terlarang untukku."


Karina kini tahu bagaimana rasanya dicintai dengan sangat dan bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk itu. Kini dia hanya ingin mempunyai seorang anak. Hal yang sudah lama diimpikan, mempunyai keluarga sempurna layaknya orang kebanyakan.


Setelah itu, Roy merogoh ke laci nakas dan memberikan satu botol tablet untuknya.


"Minum ini setiap hari, agar kau tidak hamil."


***


Raina sendiri tetap berbaring di kamarnya. Adry benar-benar melarangnya turun dari tempat tidur bahkan untuk ke meja makan pun di larang. Pria itu memang selalu protektif jika, dia sedang hamil. Kadang perhatiannya yang berlebihan membuat Raina jengah sendiri.


Dia menatap Adry yang telah selesai mandi dan duduk menghampirinya. Suaminya itu terlihat berkali-kali tampan, membuat Raina tidak berhenti menatapnya.


"Aku tahu jika aku tampan, kau tidak usah memandangiku seperti itu."


"Narsis," ujar Raina memalingkan wajah menahan senyum. Dia melihat ke arah lain.


"Aku akan ke kantor hari ini," ucap Adry. Raina mencebikkan bibir. Entah mengapa dia ingin agar Adry berada di rumah saja menemaninya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganku?" ucapnya.


"Ada Frans, dia akan membantumu." Tangan Adry membelai wajah Raina.


"Dia selalu sibuk dengan Ibu. Lagipula Ibu lebih membutuhkan dia daripada aku."


"Aku hanya akan berada di kantor sampai pukul dua untuk menghadiri rapat dengan klien."


"Aku... tidak ingin kau tinggal tapi kau punya pekerjaan dan tanggung jawab, jadi mau bagaimana lagi." Raina menghela nafas dan mengangkat bahunya sedikit. Entah mengapa kehamilannya kali ini membuat dia lemas dan mudah lelah. Dia pun hanya ingin tidur saja sepanjang hari. Tidak seperti kehamilan Leon dan Rere yang selalu punya energi lebih untuk bekerja.


"Lagipula jika kau tidak bekerja bagaimana bisa membiyai hidupku dan anak-anakmu nanti. Aku tidak mau mereka kelaparan," lanjut Raina bercanda.


Adry tersenyum kecut teringat bagaimana Raina yang kelaparan ketika hamil Rere. Kondisi istrinya waktu itu sangat mengenaskan. Hatinya berdesir nyeri jika memikirkannya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kau atau anakku kesulitan lagi. Cukup sudah, kau mengalaminya dahulu, tidak kini atau esok."


Raina membuka mulutnya sejenak lalu faham dengan perasaan suaminya yang sensitif jika membicarakan masa lalu. Dia menangkup pipi Adry dan mendekatkan wajahnya.


"Aku percaya kau akan melakukan yang terbaik untuk kami. Aku hanya bergurau saja tadi," ujar Raina mengecup bibir suaminya.


"Entahlah, perasaan bersalah masih bersemayam dalam diri sehingga aku selalu merasa apa yang sudah kulakukan padamu terasa kurang. Aku selalu takut jika kau hidup tidak bahagia bersamaku padahal kau telah menyempurnakan hidupku dan memberikan kebahagiaan yang tidak terkira."


Rere lalu masuk ke dalam kamar Raina dan Adry secara tiba-tiba. Dia membawa sebuah kotak mainan berisi boneka di dalamnya.


Adry dan Raina mengendurkan pelukannya. Menatap buah hatinya.


"Ayah, coba lihat aku membawa mainan yang baru Kakek belikan. Boneka Barbie yang cantik. Ayah lihat rambutnya seperti diriku," terang Rere.


Adry lalu memangku Rere.


"Boneka yang cantik. Ini memang seperti kau. Nampaknya, kakek sengaja memesan boneka yang mirip denganmu," ujar Adry yang melihat jika itu mainan khusus.


"Masa sih," kata Raina melihat boneka Rere. Dia menutup mulutnya.


"Kau benar, ini mirip Rere."

__ADS_1


"Cantik kan, Bu?" ujar Rere. Raina menganggukkan kepalanya.


"Ayah berencana untuk mengurangi pekerjaannya di perusahaan. Dia akan berangkat namun hanya untuk mengawasi saja. Sedangkan, semua pekerjaan pusat akan diurus olehku."


"Itu bagus, diusia Ayah memang harus mengurangi pekerjaannya. Mempunyai kesibukan tetapi tidak padat seperti biasa."


"Dia akan menyerahkan urusannya padaku." Raina menganggukkan kepalanya.


"Apa kau belum faham juga?" ujar Adry kesal karena Raina terlihat biasa saja.


"Memang apa masalahanya."


Adry menghela nafas panjang. "Itu artinya pekerjaanku menjadi lebih banyak dan aku juga harus sering bepergian keluar negeri sedangkan kau sekarang sedang hamil."


"Kenapa tidak terpikirkan olehku." Raina memegang dagunya sendiri berpikir.


"Sebaiknya kau minta bantuan pada Roy saja!"


"Apakah dia mau kembali ke rumah ini setelah apa yang terjadi."


"Dia pasti mau. Nanti akan kubujuk dia." Roy memang lebih dekat dengan Raina daripada Adry. Dia segan pada kakaknya walau hubungan mereka baik.


"Selain itu, kita harus membuat resepsi untuk pernikahan Roy. Ini tidak adil jika dia menikah tanpa perayaan sama sekali."


Raina menekuk wajahnya. Adry tahu mengapa Raina melakukan itu.


"Kau lihat ibumu itu sangat cantik jika sedang marah atau merajuk," bisik Adry pada putri kecilnya.


"Kita juga akan membuat perayaan untuk kehamilan anak kita ini, serta memperkenalkan mu pada semua orang. Maaf jika aku belum pernah melakukannya." Adry membelai kepala istrinya.


"Tidak apa-apa, pengakuan orang luar tidak begitu penting. Bagiku lebih penting mendapat pengakuan dari ibu jika aku adalah menantunya." Raina mende**h.


"Aku sekarang tidak bisa merawat Ibu lagi karena sedang hamil. Padahal aku belum terlalu dekat dengannya dan dia belum bisa menerimaku," suara Raina terdengar sedih.


"Dia pasti akan menerimamu cepat atau lambat percayalah."

__ADS_1


Raina menganggukkan kepalanya.


"Kembali ke Roy. Jika dia bersedia apakah dia mau ke rumah ini? Bagaimana jika nanti ibu menolaknya?" tanya Raiana.


__ADS_2