Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Modus Nakal


__ADS_3

"Okey tidak menyuruh, aku yang ingin melakukannya kan? Begitu... tidak apa-apa, anggap saja aku yang memaksa untuk melakukannya." Karina mengatakannya dengan memendam perasaan kesal.


"Aku...," ucapan Roy terhenti karena Karina masuk ke dalam kamar mandi beberapa saat kemudian dia datang dengan sebuah baskom berisi air hangat.


Dia lalu mengambil handuk bersih dari tas yang dia bawa dan mengambil pakaian yang tadi dia sempat beli di jalan. Pakaian tidur dengan karakter Keroppi.


"Apa itu akan kugunakan nantinya?" tanya Roy.


"Kenapa kau tidak suka? Jika tidak mau akan kubuang ke tempat sampah."


"Tidak apa-apa, aku menyukainya hanya saja aku tidak memakai pakaian seperti itu. Itu seperti bukan diriku."


"Saat ini bukan saatnya mengeluh tentang penampilan yang terpenting adalah kenyamanan. Ini nyaman digunakan dan terbuat dari bahan katun yang lembut, sejuk dan tidak kaku." Karina mengatakannya dengan nada tegas.


"Apa kau yang membelinya atau Raina?" tanya Roy.


"Aku tadi mencari baju tepat yang bisa kau gunakan. Baju rumah sakit itu memang bisa digunakan tetapi aku tidak menyukainya. Ini akan membuat penampilanmu lebih baik."


"Jadi kau memilihnya untukku?"


"Apa itu masalah?" tanya Karina.


Roy menggelengkan kepala cepat. Karina meletakkan baskom air hangat di kursi besi. Sedangkan baju dan handuk disampirkan di pinggiran tempat tidur.


Dia merasa tenang karena sebagian besar alat bantu kehidupan Roy telah dilepaskan terutama alat bantu pernafasan.


Dia lalu membantu Roy duduk dan mulai menyeka tubuh Roy. Kulit tangannya mulai menyentuh bahu pria itu yang keras dan liat, serta bergelombang. Dia menahan nafas dan menelan ludah dengan sulit.


Lalu mulai turun ke bawah hingga ke pinggangnya yang berbentuk dan langsing. Imajinasi nakalnya yang ingin menyentuh kulit pria itu mulai berkeliaran. Dia ingin mengusap dengan telapak tangannya bukan handuk. Merasakan kulit pria itu dibawah kulitnya. Okey, dia wanita yang terbiasa melihat kehidupan bebas di Amerika tetapi belum merasakannya sendiri. Jadi jika pikiran liar itu menghampiri bukan hal memalukan, menurutnya.


"Sedikit naik ke atas, itu sangat gatal," terang Roy. Karina menurut.


"Hmmm seperti itu, enak... lebih baik...," ucap Roy.


"Apakah kau sudah dibersihkan oleh perawat tadi?" tanya Karina penasaran.

__ADS_1


"Mereka tidak melakukannya karena aku bilang sudah dibersihkan olehmu tadi pagi."


"Kenapa kau tidak meminta?"


"Jika kau yang melakukannya lebih berperasaan," Karina menghentikan gerakannya. Roy menahan tawa tetapi dadanya terasa sakit. Dia memegangnya.


"Kau kenapa lagi?"


"Sakit, tapi tidak apa-apa, pria tidak boleh mengeluh." Roy menyeringai entah itu karena tersenyum atau menahan sakit atau pula kedua-duanya.


"Sudah," ucap Karina. Hendak mengangkat baskom miliknya.


"Bagian depan belum," kata Roy. Raina lalu pindah posisi ke depan. Dia mulai menyeka bagian dengan Roy. Nafas pria itu terdengar jelas. Tatapan matanya yang tajam membuat Karina seperti dikuliti. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang menyiksa ini dan pergi keluar ruangan.


Roy mengambil dagu Karina dan mengangkatnya. Sebelum Karina sempat mengatakan apapun, Roy menyambar bibir wanita itu. Mengindahkan pemikiran logis apapun yang bisa menghentikannya. Bibir Karina terasa lembut dan beraroma seperti embusan angin yang bertiup dari samudra.


Tangannya yang sedang terhubung dengan selang infus memegang punggung belakang wanita itu. Mengusapnya lembut.


Karina mengerang kecil dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Roy. Roy memandang sepasang mata itu terpejam serta merasakan tubuh wanita itu yang lemas dan bergetar diatas kulitnya.


Roy terhanyut. Dia sadar dia tidak bisa menahan diri jika menyentuh paha Karina untuk mengetahui apakah wanita itu juga mendambanya?


Selang infus di tangannya tertarik karena gerakan implusif yang timbul dari dirinya. "Sial," umpatan mulai terdengar dari bibir Roy sembari melihat ke arah pergelangan tangan yang tersemat jarum infus di sana.


Gerakan mereka terhenti. Karina lalu meletakkan handuk basah di atas pahanya dan memegang tangan Roy. "Apakah kau baik-baik saja?"


"Sebuah peringatan kecil, Karina," ucapnya tersenyum lalu menghadiahi karena dengan kecupan ringan. Nafas Karina tersengal sehingga membuat dada wanita itu naik dan condong ke depan. Namun, Roy tidak mendengar bunyi aneh dari paru-parunya seperti yang dia dengar pada hari itu.


Setelah yakin Karina tidak akan mengalami sesak nafas atau harus mendapatkan perawatan, Roy baru merasa lega.


Karina mengambil kembali handuk yang dia genggam dan mengusap leher Roy. Roy menengadah.


"Kau merawatku seperti seorang ibu yang melakukannya pada anaknya. Begitu lembut dan perhatian?"


"Kau menyukainya?" tanya Karina menatap matanya tangannya masih berada di leher bahu pria itu. Roy tidak menjawab apapun tetapi dia kembali mencium pipi Karina lembut.

__ADS_1


Mereka terdiam, hanya suara nafas mereka yang cepat terdengar hingga beberapa detik sampai aliran cepat darah mereka mereda.


Roy tahu bahwa ini bukan saat yang tepat tetapi dia bisa merasakan jika ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ingin momen ini berlalu begitu saja tanpa sebuah pengakuan.


"Aku begitu ingin kau menemaniku di ranjang Karina. Bukan aku ingin bersikap sebagai pria brengsek tetapi untuk sebuah ikatan lebih serius aku tidak bisa melakukannya. Sebelum aku yakin dengan apa yang kuinginkan."


"Tentu saja kau boleh menolaknya jika itu terasa tidak sopan atau terburu-buru. Namun, aku akan menunggu kau di sana. Di gubug kecil pinggir pantai milikku jika kau menginginkannya."


"Roy...," ucap Karina tetapi dipotong oleh Roy.


"Aku tahu...," Roy mengecup bibir Karina. "Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Namun, aku begitu ingin kau tetap berada di sisiku sekarang."


Ekspresi keterkejutan memenuhi sepasang mata Karina sebelum wanita itu menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Terlalu banyak yang dipertaruhkan sekarang ini." Karina meletakkan telunjuk di bibir Roy.


"Aku tahu."


Dengan enggan Karina memundurkan tubuhnya ke belakang membiarkan udara ada diantara mereka berdua. Dia merindukan Roy untuk alasan yang tidak dia ketahui. Untuk itu dia pergi kemari dan agar mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan. Tentang perasaannya.


Karina membenahi gaun santainya. Menarik bagian bawah leher yang dijahit kerut dan jarinya menelusuri pinggiran buah d*d* nya. Sesuatu yang belum pernah di sentuh oleh pria lain, pikir Roy nakal.


Karina menulusuri arah mata Roy. "Kau menatapiku, Roy," ucapnya keberatan.


Roy mengangkat kelopak mata dan tersenyum.


"Du bist wunderschön," ucapnya. "Artinya kau cantik sekali."


"Kau yakin ada begitu banyak wanita cantik di pulau. Aku bukanlah salah satu wanita cantik yang bisa memikat hatimu."


Roy sangat menyukai ketika merasakan saat Karina merasa tidak percaya diri. Menikmatinya hingga wanita itu berpaling.


Dengan satu jari, Roy mengalihkan kembali tatapan Karina kembali ke arahnya.


"Tidak satupun secantik dirimu," bisik Roy. "Tidak seorang pun, secantik dan semenarik dirimu."

__ADS_1


__ADS_2