
Bibir pria itu menempel pada bibirnya, hangat dan panas, bermain mengusap bibirnya, ********** lembut. Dengan gerakan pelan Adry menggigit bibir bawah Raina sehingga wanita itu membuka celah. Lidahnya langsung masuk dan bermain disana. Membuat Raina kehilangan akal yang seharusnya tetap dia gunakan.
Tangan pria itu mulai menarik tali jubah Raina, dan menurunkannya dari bahu Raina. Menyusuri kulit halus wanita itu. Tubuh Raina mulai meremang, setiap sel darahnya bergerak dengan cepat memompa jantungnya.
Bibir itu mulai bergerak ke bawah menyusuri kulit leher dan berhenti di nadi lalu menyesapnya. Raina menengadahkan wajahnya ke atas. Tatkala, tangan Adry mulai bergerak untuk meremas bagian tubuh depannya yang menonjol. Raina tersentak. Dia menatap manik mata Jamrud itu lekat.
"Jangan sekarang," kata Raina dengan nafas naik turun. Adry tidak menghentikan gerakannya tetapi tersenyum licik, dia melihat wajah Raina mulai memerah karena gairah. Wanita itu mulai melenguh pelan.
"Kenapa?" bisiknya lembut di telinga Raina. "Aku tahu kau juga menginginkannya." Dia lalu mengulum cuping hidung itu pelan. Sedangkan tangannya mulai bergerak ke bawah.
"Adry jangan," ucap Raina. "Aku belum siap."
"Sungguh," kata Adry dengan suara serak penuh gairah. Tadinya dia hanya ingin bermain dengan wanita itu namun dia malah terpancing dengan gairahnya sendiri.
"Jangan lakukan, jika kau membayangkan istrimu ketika bersamaku," kata Raina terengah-engah merasakan tangan Adry yang mulai kebawah perutnya.
"Jangan sebut yang lain ketika kita bersama," kata Adry, dia tidak ingin bermain dengan sabun lagi sedangkan dia punya tempat halal untuk melampiaskan keinginannya.
Raina menyentuh pipi Adry dengan lembut dan menatap ke dalam matanya dengan dalam.
"Kalau begitu lihat aku dan sebut namaku ketika kita melakukannya," ucap Raina.
"Kau terlalu banyak bicara."
Mereka mulai saling sentuh, meluapkan keinginannya, merasakan gesekan antar kulit itu. Berbagi peluh bersama. Hingga Adry mencapai puncaknya. Kebersamaan mereka begitu mendebarkannya walau wanita itu belum pandai untuk melakukannya. Itu membuktikan bahwa hanya dia yang pernah menyentuhnya, setelah itu tidak ada pria lain yang melakukannya.
Perasaan itu membuatnya bangga karena hanya dia yang bisa memiliki Raina seutuhnya. Dia tidak meragukan Raina lagi seperti tadi. Wanita itu memang benar-benar menjaga dirinya selama ini dengan baik. Bagian inti tubuh wanita itu yang masih terasa sulit untuk ditembus membuktikan semuanya.
__ADS_1
Adry memandangi wanita yang ada di dalam pelukannya. Wajahnya yang mungil berada di dalam lengannya. Matanya tertutup rapat setelah lelah bercinta. Dia mengecupnya perlahan takut membangunkan wanita itu.
Satu kali permainan tidak membuatnya puas namun dia tidak ingin membuat wanita itu terlalu lelah. Besok anak mereka akan melakukan operasi dan Raina butuh tenaga banyak untuk melaluinya. Adry mulai menutup matanya. Bayangan Nita mulai kembali lagi. Rasa bersalah mulai menghampiri.
"Maaf, Sayang, tetapi hanya ini satu-satunya cara agar kita tetap bisa bersama," batin Adry. Kembali lagi dia membuka matanya menatap Raina. Apakah jika waktunya tiba, dia akan rela melepaskan wanita itu untuk dimiliki pria lain, sedangkan dari awal wanita itu adalah miliknya. Rasa ragu kembali menghampiri.
Adry kembali menatap wajah Raina. Wanita itu mengubah posisi tidurnya kali ini menghadap ke arahnya dan mencari tempat nyaman dalam dada Adry. Membuat pria itu kegelian dan sesuatu yang dia jaga untuk tidak bangkit lagi akhirnya menegak tatkala kulit mereka kembali bersentuhan.
Adry mengerang membuat Raina membuka matanya.
"Ada apa?"
"Kau membuatku menginginkanmu lagi," kata Adry.
Tanpa menunggu jawaban Adry mulai menyerang Raina lagi membuat sesi kedua penyatuan mereka di tengah malam. Membuat malam yang dingin terasa panas.
Adry mengambil handphone miliknya dan menghubungi layanan pesan antar. Dia memesan dua kopi dan sarapan pagi. Setelah itu, dia menutup kembali panggilan telephon itu.
Mata besar Raina sedang berkedip memandangi dirinya ketika dia menurunkan tangannya. Seulas senyum terbit dari bibir Adry.
"Kau sudah bangun," kata Adry mengusap lembut rambut Raina yang halus. Raina lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela melihat sinar matahari sudah masuk melalui celah-celah korden berwarna biru gelap.
Raina langsung bangkit, namun tubuhnya terasa sakit semua. Dia memegang bahunya dan memijat pelan.
"Lelah? Maaf," kata Adry.
"Tidak ada kesalahan mengapa kau harus meminta maaf," kata Raina.
__ADS_1
"Telah membuatmu bekerja keras tadi malam," cetus Adry membuat pipi Raina memerah. Mereka baru melalui malam yang panas bersama.
"Aku harus kembali ke kamarku," kata Raina hendak bangkit namun tangan Adry menahannya.
"Mandi saja di sini," kata pria itu.
"Bajuku ada di kamar depan," terang Raina. Adry lantas melepaskan Raina pergi dengan berat. Wanita itu meraih jubah yang tergeletak di lantai dan menutup tubuhnya dengan itu.
Dia langsung pergi ke kamarnya dan masuk ke kamar kecil yang berada di dalamnya. Setelah itu, dia melamun di depan meja riasnya.
Ada begitu banyak hal yang belum dia ketahui. **** adalah semacam pengetahuan, dan sekarang dia tahu sengatan kecemburuan seksual dengan cara yang belum pernah dia alami sebelumnya. Membayangkan Adry melakukan apa yang telah mereka lakukan dengan wanita lain, dan dalam kasusnya Nita, istri pertamanya, membuat hatinya sakit.
Dia tahu bahwa percintaannya bersama Adry berbeda dari apa yang mereka bagikan tadi malam, bahwa itu adalah tugas yang tidak dibawa oleh cinta atau kasih sayang.
Namun, pria itu menanggalkan pakaian mereka, saling menatap tanpa sehelai benang pun menjadi penghalang, dan memasuki tubuh serta saling merasakannya.
Setelah bersama, haruskah dia melepaskannya pada wanita lain? Adry adalah milik Nita dan dia hanya meminjamnya sebentar. Mereka bahkan sudah hampir mempunyai anak sampai tiga kali dan telah menjalani pernikahan hampir sepuluh tahun lamanya.
Pemahaman baru Raina tentang percintaan mengubah pandangannya tentang masa lalunya dan membuatnya lebih bersimpati pada penderitaan Nita. Wanita itu pasti merasa sangat sedih jika tahu suaminya telah berkhianat.
Raina mencengkeram tepi meja rias saat gelombang rasa tidak aman melanda dirinya. Adry mencintai Nita, dia tahu ini. Namun, Adry juga menginginkankannya, dia sangat yakin.
Adry juga seorang pria terhormat dan tidak akan pernah mengungkapkan bahwa persatuan mereka telah membuatnya menginginkannya. Dan bagaimana dengan sikap Adry sendiri?
Dia mengajukan pertanyaan ini dalam hatinya, sedangkan Adry berharap bahwa dia akan diam nantinya. Hal itu membuat sesak dadanya. Kembali lagi, Adry melakukan ini memang atas dorongan nafsu dan itu semata hanya karena dia menginginkan anak darinya setelah itu mereka akan berpisah.
Sifat serakah kembali hadir dari dirinya. Dia menginginkan Adry setelah apa yang mereka lalui. Namun, untuk membuat pria itu terkesan dan tergila-gila padanya itu bukan hal mudah. Apalagi jika Adry tidak puas dengannya.
__ADS_1
Dia menegakkan bahunya. Jika dia bisa membujuk Adry untuk mengajarinya, maka dia yakin dia bisa menyenangkannya. Dia ingin membuat candu untuk Adry. Bagaimanapun Adry telah memilikinya dalam dan luar. Seolah-olah pria itu, telah mencap namanya di kulit Raina.