Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pelajaran


__ADS_3

Ekspresi Nita tampak pasrah ketika melihat wajah Adry merah padam. Adry tidak memberinya waktu untuk melakukan apapun dan mengatakan apapun. Dia maju ke arah Nita dengan tatapan tajam yang seperti ingin menghabisinya.


"Apa yang... ," ucap Nita terpotong.


Plak! Sebuah tamparan keras melayang di pipi Nita hingga membuat wanita itu terhuyung dan hampir jatuh ke lantai. Hal yang tidak pernah Adry lakukan selama ini.


Roy berdiri bersandar di pintu dengan tangan di lipat di dada. Dia nampak menikmati pemandangan ini.


Nita menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Ada apa ini Adry," ucap Nita gagap dan takut.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Adry dengan nada dingin. "Kenapa?"


Kegelisahan tampak di wajah Nita. Bibirnya bergetar dan tatapannya kosong. Dia menunduk sembari memegang pipinya yang masih terasa panas dan memerah.


"Aku tahu ini tidak akan berarti tetapi aku menyesal."


"Menyesal? Kau bilang menyesal. Apa yang kau lakukan membuat Raina hampir mati saat ini. Secara tidak langsung kau adalah penyebab semua masalah ini. Aku sudah cukup bersabar padamu, Nita. Namun, balasan apa yang kudapatkan, sebuah pengkhianatan dan itu lebih buruk dari sebuah perselingkuhan!"


Roy yang mendengar hampir tersedak dan Nita melihatnya. Dia lalu bergegas menatap ke arah Adry lagi.


"Ibu," ucap Nita lesu.


Adry tersenyum sinis, " Ibu, jika kau punya niat baik dan kau wanita yang baik kau tidak akan melakukan hal itu pada Raina. Kau dan dia sama-sama wanita, aku tidak habis pikir bagaimana kau setega itu memisahkan ibu dan anak. Di mana akal sehatmu, Nita?"


Nita menangis di depan Adry. Dia memegang kaki pria itu.

__ADS_1


"Ya, aku melakukan karena takut kehilanganmu. Sudah berkali-kali kukatakan jika Mom menekanku agar memberikan keturunan padamu jika tidak dia akan menikahkanmu dengan wanita lain dan membuangku dengan caranya. Aku tidak ingin itu terjadi, jadi aku menuruti semua yang diperintahkan ya. Semua rencana itu dibuat oleh Ibumu. Aku hanya pion untuk memuluskan jalannya. Aku sama seperti Roy." Tunjuk Nita pada Roy. Roy langsung berdiri tegak menatap ke arah Adry.


"Ya, Tuhan kau ingin melempar masalah ini lagi padaku. Bukankah berkali-kali sudah kukatakan sebaiknya kau mundur, jika tidak ingin terluka. Tapi kau selalu meminta ku membantumu dengan tangismu itu yang membuatku tidak berdaya selain itu menang Ibu juga menyruhku, aku bisa apa mendapat tekanan dari kalian berdua. Namun, aku masih punya hati. Aku berusaha agar Raina bisa keluar dari perangkap kalian walau setengahnya sudah terjadi," ungkap Roy.


"Bukankah kau melakukannya karena menyukai Raina?" desak Nita.


"Demi Tuhan aku menganggap Raina seperti adik yang tidak pernah kumiliki. Raina sama sepertiku tidak punya orang yang bisa diandalkan jadi aku bersimpati padanya."


Nita lalu menatap kearah Adry berusaha untuk memegang lengannya tetapi Adry menghindar, seperti sudah jijik pada wanita itu. Nita menelan Salivanya dengan sulit.


"Sebenarnya malam kemarin aku ingin meminta maaf dan ingin menyelesaikan pernikahan kita, terus terang akupun sama lelahnya dengan dirimu. Aku ingin sendiri menikmati hidupku yang hilang selama beberapa tahun. Aku lelah dengan kepura-puraan ini." Nita menghela nafas panjang.


"Aku tidak ingin menjadi beban hidup Raina lagi dan membuatnya sedih karena dia sedang hamil. Lagipula, aku sadar bahwa aku salah satu penyumbang terbesar kesedihannya. Aku pun tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawa seseorang apalagi anak yang tidak berdosa yang ada dalam perut Raina. Dan aku berharap kau dan Raina mungkin bisa memaafkanku ... dan menjadi teman sesudahnya mungkin... ," Isak Nita tetapi tidak membuat Adry bergeming atau merasakan sedikit simpati. Hatinya telah mati pada wanita di depannya.


Adry tersenyum sinis dengan menggelengkan kepalanya. Dia mundur ke belakang. ''Tidak mungkin aku bisa memaafkanmu semudah itu Nita. Apalagi untuk menjalin pertemanan dengan mu setelahnya. Aku bahkan muak melihat wajahmu. Jangan dekati aku, terutama Raina. Jika aku tahu kau berusaha untuk berada di dekatnya atau menemuinya, aku bersumpah kau akan menyesalinya."


"Tidak ada kata maaf untukmu Nita, sekarang katakan padaku di mana. Leon?"


"Leon," Nita tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Adry. Tatapannya kosong.


"Dimana dia, Nita?" desak Adry lagi. "Nita katakan di mana anakku!"


"Di-dia dibawa oleh Ibu pergi."


"Breng .... suek ...!" Adry menendang meja di dekatnya hingga terpental jauh.

__ADS_1


Prang!


Pyak!


Nita memekik ketakutan menutup kedua telinganya. Adry melampiaskan kemarahannya dengan melempar barang2 yang ada di ruangan itu.


"Aku memberi waktu padamu satu ini untuk pergi dari rumahku dan membawa serta barang-barangmu! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Terakhir aku menitipkan Leon dan kau melepaskan amanahmu!"


"Kumohon Adry, jangan lakukan hal ini padaku!"


"Jika sesuatu terjadi pada Leon aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang. Aku jamin itu Nita!"


"Pelayan!" panggil Adry pada semua pelayan di rumah ini. Lalu terdengar derap langkah kaki para pelayan mendekat.


"Aku perintahkan kalian untuk mengemasi barang-barang Nita keluar dari rumah tanpa sisa. Jika masih ada yang tinggalkan buang jauh dari rumah ini karena hanya akan membawa kesialan semata."


"Adry setidaknya beri waktu padaku sebentar saja untuk menerangkan semuanya!"


"Tidak ada yang perlu diterangkan apalagi dijelaskan. Kau sudah punya waktu banyak dan aku sudah memberi semua yang kau inginkan. Bahkan mengasuh Leon. Nyatanya, kau telah mengkhianati kepercayaanku, Nita. Aku kecewa padamu, sangat kecewa."


"Selama ini aku menutup mata akan kekuranganmu dan berusaha mengerti semua yang kau rasakan. Nyatanya, kau tidak pernah mau mengerti apa keinginanku. Kau dengan keinginan dan nafsumu sendiri. Jika aku tega, aku akan memasukkanmu ke penjara tetapi tidak. Aku masih ingat tentang kebersamaan kita hal itu yang membuatku melepaskanmu. Tetapi aku tidak rela kau menyakiti Raina dengan begitu dalam sehingga aku memilih mengusirmu dari hidupku. Andai kau manjadi Nita yang baik hati, aku pasti tetap mempertahankanmu."


"Adry," ucap Nita lemah.


Adry lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang. Roy mantap iba pada Nita tetapi dia ingin memberi wanita itu pelajaran untuk sadar dari kesalahannya.

__ADS_1


Dia mendekat kepada Nita. "Pulanglah!" katanya lirih lalu meninggalkan wanita itu sendiri dalam keterpurukan.


Nita meraung keras meratapi nasibnya. Semua telah terjadi dan kini dia telah kehilangan apa yang dia miliki sebelumnya. Yang paling menyedihkan adalah dia tidak punya tempat berbagi kesedihan. Pada Roy, dia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya. Biarlah dia pergi jauh dari semua orang menghabiskan sisa hidupnya yang tinggal menghitung hari.


__ADS_2