Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kemarahan Adry


__ADS_3

Adry akhirnya berdiri di depan Janeta. Wajahnya merah padam, ada bara api dalam mata yang seakan ingin membakar Janeta hingga menjadi abu. Nafasnya terdengar memburu.


"Aku kira... kau hanya kejam pada kami, oh bukan pada Raina namun ternyata kau benci pada kami satu keluarga. Aku kira kau melakukan semua fitnah itu karena tidak suka pada Raina karena dia tidak punya status yang sama tapi aku masih bisa mentolelir karena kau merawat Leon dengan baik nyatanya kau tidak bisa membuatnya bahagia dengan tinggal di sini kau mengekang hidupnya dengan semua kegiatan yang melelahkan hanya karena egomu ingin terlihat terbaik di depan semua orang."


"Aku kira itu semuanya cukup tetapi ternyata kau tidak mau menghentikan semua kesalahan dan kejahatanmu. Kau bahkan mengancam seorang anak kecil, anak yang didalamnya mengalir darahmu. Nenek macam apa kau ini!"


"Tidakkah kau punya sedikit hati untuk bisa melihat hati orang lain?"


"Adry... kau ini tidak sopan berbicara seperti itu pada Ibumu." Peringat dari Carl.


"Ibu yang mana! Ibuku tidak seperti itu. Ibu yang kukenal penuh kasih sayang bukannya orang yang akan membunuh orang lain demi dirinya sendiri. Ibu yang mana? Yang bahkan rela menembak anaknya sendiri atau menjebak anak yang lain. Ibu yang mana yang ingin anaknya hidup menderita. Ibuku atau ibu yang lain tidak berbuat seperti itu. Seorang Ibu akan melindungi anaknya dan melakukan segala cara agar anaknya hidup bahagia. Kau.... kau hanya bisa menghancurkan tetapi tidak bisa membuat atau menyatukan sebuah keluarga jadi bahagia."


Mata Janeta memerah dan dadanya terasa sesak mendengar semua perkataan Adry.


"Aku dulu menyalahkan Ayah yang berselingkuh dengan wanita lain tetapi setelah melihat kelakuan ibu seperti ini, aku yakin Ayah melakukan itu bukan tanpa sebab. Ayah pasti merasa tertekan hidup bersama Ibu," tuding Adry geram.


"Adry! Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Ibumu. Dia ... " Carl terdiam.


"Kenapa Ayah?" Adry mendekati Carl.


"Dia kenapa? Apakah dia telah membuat hidup Ayah bahagia selama ini atau ayah merasa nyaman bersama Ibu?"


"Jika seperti itu mengapa Ayah berselingkuh dari Ibu? Apa Ibu kurang menarik atau apa... semua permasalahan ini bukannya datang dari perselingkuhan itu!" tekan Adry dengan wajah sengit.

__ADS_1


"Aku pernah melihat Ibu menangis karena semua yang Ayah lakukan. Dia tertekan namun Ibu berusaha untuk bangkit dan merawatku dengan baik. Ayah membawa Roy. Aku setuju dengan tindakan Ayah itu tapi aku juga mengerti ibu berat harus menerima anak dari selingkuhan Ayah. Sungguh aku tidak membela kalian berdua tetapi aku ingin meluruskan semuanya. Aku lelah dengan semua masalah keluarga ini yang tidak ada habisnya."


Janeta menangis keras. Semua yang Adry katakan memang benar, semua kesalahannya dan hatinya yang sakit karena kesalahan suaminya.


"Aku bahkan ingin membunuhmu saat ini Ibu tetapi Raina mengatakan bahwa seburuk-buruknya kau tetap saja kau adalah ibuku. Orang yang melahirkanku dan membesarkan aku dengan penuh cinta kasih."


"Jadi kalau aku masih berada di sini dan masih mau melihatmu adalah karena Raina. Orang yang paling ibu benci, orang yang ingin ibu hancurkan dan orang yang selalu ingin ibu sakiti. Kenapa, Bu? Kenapa? Apa salahnya pada ibu? Apakah dia pernah menyakitimu sampai engkau melakukan semua itu padanya? Apakah dia pernah berusaha untuk menguasai harta rumah ini dan menyingkirkanmu? Ataukah dia telah mengkhianatiku dengan Roy, s**t jika aku ingat kejadian itu aku merasa muak dan ingin muntah."


Adry meninju udara dengan sangat kesal.


"Jadi katakan padaku dosa apa yang Raina lakukan padamu hingga kau menyiksa hati dan perasaannya dengan sedemikian rupa!" bentak Adry sekuat tenaga.


Raina yang hanya berdiri di dekat pintu lalu maju ke depan untuk menenangkan suaminya. Dia memeluk Adry dari belakang.


"Kau sangat khawatir dengan keadaan Ibu? Apakah kau lupa bagaimana kau hampir saja merenggang nyawa karena perbuatannya? Dia bahkan tidak punya belas kasihan padamu sedikitpun." Suara Adry gemetar, dia menyeka air matanya dengan tangan kiri dan satu tangan yang lain menunjuk ke arah Janeta.


"Sudah kukatakan jika kita mengungkit masalah yang telah terjadi tidak akan pernah usai. Kita hanya akan menggali kisah lama yang pedih lebih baik kita menulis cerita lain yang lebih baik dan indah ... mungkin."


"Dia tidak akan paham dengan apa yang kau katakan Raina... tidak akan. Jika dia mengerti dan sadar maka dia memperlakukanmu dengan baik. Tetapi tidak kan? Dia bahkan mengejek dan membentakmu atau berbuat sesuatu yang merugikanmu. Masihkah kau mau membelanya?'' Raina terdiam.


"Aku kadang kesal dengan sifatmu itu... kau itu terlalu naif padahal tidak semua orang itu akan bersikap baik padamu."


"Jika kau masih mau marah dengan ibu silahkan. Aku lelah mau tidur dan istirahat. Tidak usah kau teriak-teriak, membuat kepalaku pusing saja. Jika kau mau meneruskannya lebih baik aku tinggal saja di rumah sakit." Setelah mengatakan itu, Raina lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari pintu.

__ADS_1


"Raina berhenti... kau tidak boleh berjalan seperti itu... ," teriak Adry yang khawatir. Raina menahan senyumnya. Leon yang melihat itu menaikkan alisnya dan Raina mengedipkan mata.


"Leon kita ke hotel saja. Suruh pengasuh membawa Rere ke bawah."


Tubuh Raina tiba-tiba dibuat melayang.


"Sudah kukatakan kau tidak boleh bergerak tanpa persetujuan dariku."


"Kau tidak perlu memperhatikan aku. Selesaikan saja masalahmu dengan Ibu dan Ayah jangan bawa-bawa diriku ke dalamnya," rajuk Raina.


Adry tetap menggendongnya naik ke lantai dua melewati lift, Leon mengikuti kedua orang tuanya.


Carl sendiri memandangi Janeta dan menghela nafas.


"Raina benar, jika pikiran kita tetap terjebak di masalalu maka yang ada hanya kebencian. Aku lelah dengan semua pertengkaran kita."


Carl lalu bersimpuh di depan Janeta mengusap air matanya. "Maafkan aku yang telah menyakitimu. Maaf... jika hal itu sangat membuatmu terluka... . Maaf juga karena aku tidak pernah memberi perhatian padamu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri hingga melupakanmu."


"Terkadang orang tua belajar dari anaknya. Kali ini aku belajar dari Adry, cara dia memperlakukan keluarganya. Hal yang tidak pernah aku lakukan padamu. Aku pikir kau adalah wanita hebat dan kuat yang bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Semua masalah diluar dari bisnis bisa kau selesaikan dengan baik. Kau bahkan bisa menjadikan Adry sebagai pria yang hebat. Bukankah itu karena didikan ibunya?" Janeta hanya bisa mengusap hidungnya yang basah dengan sapu tangan.


"Kau juga membuat Roy menjadi anak yang baik. Dia menjadi anak yang penurut dan tidak pernah membantahmu. Dia bahkan tidak memperlihatkan kemarahan dan kebenciannya padamu setelah insiden itu. Kenapa? Karena kau mengasuhnya dengan baik."


Tangis Janeta semakin keras.

__ADS_1


__ADS_2