Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kecewa dan Terluka


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain satu keluarga sedang makan pagi dan berbincang bersama.


"Kau tahu dimana Hana, Hani?" tanya Alisa pada putri bungsunya.


"Tidak tahu dan tidak pernah melihatnya padahal aku sudah mencari tetapi tidak menemukannya," ungkap Hani menampilkan ekspresi sedihnya.


"Ibu sebernarnya sudah pernah menemuinya di rumah kontrakan nya. Tunggu, ibu pernah melihatnya jualan di pinggir jalan lalu menemuinya di tempat kontrakan. Akan tetapi kakakmu itu sungguh sangat keras kepala. Dia tidak mau menerima uang yang ibu berikan padahal saat itu dia dalam kesulitan."


Hana menatap ke arah David yang sedang menatap pula ke arahnya.


"Wah, itu hanya triknya agar Ibu kasihan padanya dan memaafkan semua kesalahannya. "


Alisa terdiam.


"Tapi kini dia sudah bersama suaminya. Dia adalah anak dari pemilik dari sebuah perusahaan, CEO di kawasan Asia yang perusahaannya beroperasi di Indonesia," terang Alisa.


"Iya dia bersama dengan Tuan Roy Hendrik Quandt pria yang ingin kita ajak bekerjasama dengan perusahaan kita."


Hani menjatuhkan alat makannya. Dia mengambil segelas air dan meminumnya.


"Ada apa Hani?" tanya Alisa.


"Tidak apa-apa, aku terlalu banyak memberi sambal pada bubur ayam ini," ucapnya mengelap mulutnya.


"Yah, Bu, aku harus pergi ke kantor dulu." Hani lalu bangkit dan pergi dari ruangan itu.


"Dia sangat berdedikasi sekali dengan perusahaan. Pantang menyerah," ujar David.


"Yah, Bu, aku harus pergi ke kantor pusat," pamit Brandon meninggalkan rumah itu. Brandon bekerja menjadi manajer cabang di sebuah bank ternama.


Hani masuk ke dalam mobilnya. Di saat itu, Brandon masuk ke dalam mobil.


"Mau apa kau kesini!" ucap Hani sinis.


"Kita harus bicara!"


"Apanya yang perlu dibicarakan lagi! Sudah ku katakan jika kita tidak ada hubungan apapun lagi. Kecuali sebagai adik dan kakak di depan ayahmu dan ibuku!"

__ADS_1


"Baiklah. Kita hanya adik kakak. Aku butuh tumpangan, kau mau mengantarkanku ke kantor kan?" Hani terdiam. "Sebagai kakak."


Hani mulai menyalakan mobilnya. lalu melajukan kendaraannya keluar dari rumah kediaman Praktikno.


wajah wanita itu nampak kuser dan tidak nyaman berkali-kali Brandon melirik ke arahnya. ada Pak Hani apa ini ada hubungannya dengan Hana.


"Kau tahu itu tapi masih bertanya saja. Bukankah sebagian uang itu kau juga ikut menikmatinya? Oh lupa, jika aku menggunakannya untuk memasukkanmu bekerja di sana. Bodohnya aku yang mau diperdaya dan diperalat oleh mu!"


"Untuk itu aku ingin membicarakan masalah ini denganmu. Ini tentang reputasiku di perusahaan itu. Saat ini aku sedang dipromosikan untuk menjadi manager di kantor pusat."


"Oh... aku ikut senang, aku yang membantumu dan wanita lain yang menikmati hasilnya. Kini ketika aku dalam masalah serta perusahaanku dalam masalah kau tidak mau membantuku!"


"Bukan tidak mau, tetapi uangku tidak sebanyak itu untuk mencicil hutang perusahaan. Kau tinggal jual saja pabrik itu lalu hidup bersamaku. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu!"


"Apa yang bisa diharapkan dari seorang manager biasa? Uang? Berapa gajimu Brandon?"


"Itu cukup untuk biaya hidup kita."


"Jika kau setia mungkin akan kupikirkan tetapi kau... menjijikkan. Kau mencari wanita lain ketika bekerja di kota itu, mencampakkan ku begitu saja. Aku benci padamu, Brandon!'' ungkap Hani sengit.


"Oh sweet, aku terharu. Sayangnya aku bukan wanita polos dan bodoh lagi yang bisa kau permainkan," ejek Hani kesal. Begitu banyak yang sudah dia berikan dan korbankan untuk pria itu dulu. Akan tetapi, yang dia dapat hanya kekecewaan. Kini tidak lagi. Hani yang sekarang berada dengan Hani yang dulu.


"Ingat Brandon, jika kau bisa mengusir jauh Hana dari hidupku, aku pun bisa melakukan hal yang sama denganmu. Akan mudah bagiku untuk menghancurkan semua yang kau miliki sekarang. Jadi jangan berbangga hati karena memilikinya. Ingat, ada andil ku dalam setiap langkahmu!"


Brandon menoleh dan menatap Hani. Wanita nya itu kini telah berubah menjadi wanita yang keras dan tangguh. Di saat perusahaan mulai kolaps, Hani selalu berada di garda terdepan untuk menyelamatkannya. Dia pantang menyerah sekaligus menakutkan.


"Sudah sampai, kau bisa turun," ucap Hana dingin.


"Aku bisa membantumu agar bank di sini memberi keringanan padamu untuk membayar hutang."


"Aku sudah melakukan yang mesti dilakukan! Kau kalah cepat denganku. Sana kerja saja dan habiskan uangmu untuk wanita lainnya. Aku tidak butuh belas kasihan pria yang tidak tahu diri sepertimu."


Brandon menghela nafas lalu keluar dari mobil Hani. Setelah itu, Hani menjalankan mobilnya tanpa melihat lagi ke arah Brandon. Kedatangan pria itu seperti menaburkan luka dalam di hatinya. Apa yang tidak dia lakukan untuknya? Tetapi dengan mudah dia mengkhianati Hani dengan hidup bersama dengan bawahan pria itu. Dia muak pada semua orang.


"Hati hanya akan membuat orang menjauh dari kesuksesan."


***

__ADS_1


Hana mulai mencukur janggut Roy dengan sangat hati-hati dan pelan. Takut alat itu akan membuat kulit Roy terluka. Dia duduk di wastafel sedangkan kedua tangan Roy menumpu dipinggir wastafel mengungkung Hana.


Pria itu memandangi Hana tanpa berkedip. Tidak pernah bosan dengan wajah sederhana dan polos itu.


"Sudah!" kata Hana senang. Dia mengamati tampilan Roy sambil menggigit bibirnya senang.


Roy yang gemas lalu mengecup bibir Hana.


"Ih... kau itu apa tidak bosan!" ucap Hana.


"Mana ada bosan."


Hana bertepuk tangan dan tersenyum senang. "Kau tampak tampan dan jauh lebih muda jika tanpa bulu-bulu itu."


"Sebetulnya bulu itu bisa membuat pria terlihat lebih gagah dan tampan. Selain itu wanita mendapat sensasi geli jika tersentuh olehnya."


"Ih, kau genit." Hana memegang rahang Roy dan mengusap nya. "Aku lebih suka yang bersih. Nampak lebih muda, apalagi jika kau memotong rambutmu dengan model terkini, pasti akan lebih tampan."


"Kau saja yang memotongnya."


"Tidak, itu tidak akan bagus. Sebaiknya, kita ke tukang cukur untuk membabat rambut panjangmu."


"Baiklah jika itu maumu, tapi kau harus ikut dan kau yang memilihkan modelnya."


"Tidak masalah."


Hana ingin turun tapi Roy malah mendekat. "Aku mau membersihkan itu."


"Biarkan saja. Aku ingin mencoba menciummu tanpa cambang, agar kau bisa menilai lebih nikmat yang mana." Roy mulai mendekat dan menyatukan bibirnya dengan bibir Hana. ******* nya pelan lalu menuntut lebih dalam.


Tangannya mulai bergerak nakal membuka ikat jubah wanita itu dan mulai masuk ke dalamnya. Memainkan apa yang bisa dia pegang. Hana mengerang nikmat.


Lalu mulut pria itu mulai turun membuat Hana mendongakkan kepala ke atas, membiarkan Roy berbuat sesukanya.


Tangannya memegang erat pinggiran wastafel. "Apakah kau tidak be... ker... ja hari ini. Ehmmm?"


"Aku sedang bekerja membahagiakanmu."

__ADS_1


__ADS_2