
"Lidah pria itu memang manis tetapi sayangnya aku tidak terbuai dengan kata-katamu," jawab Karina.
"Akh kau menyakiti hatiku," ucap Roy. "Kau bohong jika mengatakan tidak terbuai, buktinya kau tadi mengerang sewaktu lidahku bermain di dalam mulutmu," ledek Roy. Karina memukul lengan kiri pria itu.
"Aww... sakit, Schatzi," ucap Roy memegang dadanya.
"Sorry aku lupa," kata Karina. Dia heran mengapa pria dingin itu menjadi hangat seperti ini? Apakah para dokter itu salah mengoperasinya sehingga otaknya bergeser?
Karina lalu memakaikan baju Keropi pada tubuh besar Roy. Namun, sayang. Baju itu masih kekecilan di bagian dada sehingga tidak bisa dikancing.
"Lebih baik kita ganti yang lain," ucap Karina.
"Tidak, aku menyukainya."
"Nanti kau masuk angin," balas Karina.
"Tidak akan, kau lihatkan perban yang menutup sebagian besar tubuhku ini. Belum lagi selimut tebal yang ayah berikan ini membuatku gerah."
"Apa kau mau memakai selimutku saja, tidak terlalu tebal," tawar Karina.
"Kau saja yang jadi selimutku, mumpung di rumah sakit jika kau sesak nafas dokter bisa langsung menanganinya," lanjut Roy membuat wajah Karina memerah karena kesal diledek dan di rayu dengan sangat tidak romantis.
"Kau itu sebenarnya kenapa sih, tidak seperti biasanya dingin dan angkuh?" tanya Karina tidak bisa menahan lidah untuk bertanya akan perubahan sikap Roy.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku baru sadar jika kau itu cantik," ucap Roy asal.
"Oh, ya katanya kau membawa makanan kesukaanku," kata Roy.
"Raina yang membawakannya. Memang apa makanan kesukaanmu?" tanya Karina penasaran. Pasti makanan mahal pikirnya.
Dia lalu mengambil bekal makanan yang dia bawa. Duduk di samping Roy dan membukanya.
"Kau suapi ya, dadaku masih sakit jika aku menggerakkan tangan," ujar Roy.
"Modus!"
"Itu kenyataannya, jika kau tidak percaya, aku akan makan sendiri tetapi jika nanti jahitanku lepas atau sobek kau harus yang bertanggung jawab."
Karina meringis membayangkan hal itu terjadi pada Roy. "Baiklah, kau tidak akan melakukan apapun. Aku akan di sini untuk membantumu."
Karina lalu mulai membuka kotak makan. Dia pikir kotak seperti itu biasanya berisi makanan Jepang. Matanya membelalak lebar setelah melihat apa isinya.
"Nasi goreng petai?" tanya Karina bergidik ngeri. Dia tidak suka dengan jengkol dan petai yang bisa membuat bau mulut.
__ADS_1
"Aku suka semua makanan yang dicampur dengan petai. Itu nikmat, apalagi jika makanan itu pedas. Nyummy... semua makanan restoran kelas dunia lewat oleh perpaduan rasa pedas dan gurihnya petai," terang Roy.
Karina lalu mulai menyuapi Roy.
"Kau coba, ini itu enak," kata Roy.
"Tidak terimakasih, aku terlalu waras untuk membuat mulutku bau."
"Hal gila bisa menyenangkan termasuk ini. Kau tidak akan sakit jika memakannya bahkan akan ketagihan jika sudah mulai mencoba."
"Jangan berusaha untuk mempengaruhi pikiranku."
"Aku tidak berusaha mempengaruhi hanya membujukmu, mungkin bisa berhasil nanti.''
Karina memutar bola matanya malas mendengar omongan Roy.
"Bagaimana dengan pemakaman Ayahmu?" tanya Roy.
"Semua berjalan lancar karena bantuanmu," kata Karina.
"Aku senang mendengarnya."
"Apakah kau menemui kesulitan di sana?"
"Apakah semua masalah itu sudah selesai?"
"Belum, aku meminta mereka menangguhkan waktu untukku menjawab semua pertanyaan yang akan mereka tanyakan nantinya."
"Sampai kapan?"
"Setelah tujuh hari kematian ayahku. Setelahnya, aku harus memberikan pernyataan pada pihak yang terkait dengan kasus Ayah."
"Berarti tinggal tiga hari lagi kau ada di sini?" tanya Roy. Karina menganggukkan kepala.
"Setelah itu kau akan kemana lagi?"
"Aku akan ke Amerika untuk mengambil barang bukti milik Ayah. Mungkin itu bisa membantu pihak yang berwajib untuk menentukan siapa aktor besar di belakang masalah ini. Aku hanya ingin melaksanakan permintaan ayah yang terakhir." Karina menunduk sedih.
"Pasti ini terasa berat untukmu, sangat. Apalagi ketika tahu orang yang menolongku juga dalam keadaan koma. Aku hampir tidak bisa menahan perasaanku dan menyalahkan pada Tuhan atas semua masalah yang terjadi. Aku hampir tidak bisa mempercayainya lagi," Karina lalu terisak.
Roy memiringkan tubuhnya dengan pelan lalu menangkup wajah Karina dengan tangannya.
"Semua masalah itu terasa berat jika kita pikir tidak mampu melaluinya. Namun, bila kau percaya bisa menjalaninya maka itu akan terasa biasa saja. Kehilangan orang yang kita cintai juga terasa sulit untuk menerimanya. Namun, kehilangan karena dia telah kembali kepada Tuhan tidak sesakit kehilangan karena sebuah kesalahan. Kau tahu kenapa? Karena kau yakin, jika dia telah berada di surga bersama Tuhan dan malaikat yang menyanginya."
__ADS_1
Karina mengangguk lalu memeluk leher Roy.
"Terimakasih karena kau mau membantuku melewati semuanya sehingga aku merasa mudah untuk melaluinya."
"Jangan sungkan meminta bantuan padaku," kata Roy.
"Kenapa? Bukankah kita tidak punya hubungan apapun?"
Roy terdiam. Dia menarik nafas dalam. "Seperti yang sudah kukatakan tadi jika aku tidak bisa menawarimu hubungan apapun. Namun, aku tidak bisa menyangkal jika aku tertarik padamu Hal itu membuatku tidak bisa melihatmu mendapat kesulitan," jujur Roy.
"Aku tidak ingin kau tergesa-gesa menjawabnya, pikirkan semuanya sebelum menentukan sikap."
"Kau terlalu banyak berpikir," ujar Karina melepaskan pelukannya. Bangkit karena makanan di wadah telah habis.
"Aku hanya realistis. Kau tahu jika aku tidak bisa menawarkan apapun padamu. Tidak harta dan tidak cinta. Aku belum mempunyainya untuk bisa kuberikan padamu."
"Apa karena Nita kau tidak bisa membuka hatimu untuk wanita lain?" selidik Karina.
Wajah Roy memucat seketika. "Apakah Raina atau Kak Adry yang menceritakan dia padamu?"
"Tidak! Aku mendengar kau selalu menggumamkan namanya ketika tidak sadar kemarin malam," ungkap Karina melengos. Dadanya terasa berat untuk mengucapkan nama seorang wanita yang menjadi penyebab hubungan mereka tidak akan bisa terjalin dengan semestinya.
"Apakah seperti itu?" tanya Roy lagi. Karina menganggukkan kepala.
"Aku akan menceritakannya hanya saja bukan saat ini."
"Kapan?" Tanya Karina penuh harap.
"Ketika aku sudah yakin tentang hatiku," ungkap Roy.
"Jika kau tidak yakin seharusnya kita tidak perlu melanjutkan hubungan ini karena hanya akan menyakiti kita saja," ucap Karina.
"Banyak orang yang berhubungan tanpa ada cinta mereka melakukannya karena saling memberi keuntungan pada keduanya."
"Itu seperti bisnis saja."
"Ya, seperti itu."
"Apa kau juga melakukan hubungan itu dengan Nita?" cecar Karina.
"Hubungan kami sangat dalam. Kau tidak akan bisa membayangkannya."
"Kalau begitu aku menyerah saja. Aku tidak bisa menerima tawaranmu. Aku tidak bisa hidup dalam bayangan wanita lain ketika kau sedang bersamaku."
__ADS_1
"Aku hanya coba melupakannya, berharap kau bisa membantuku melakukannya," balas Roy membuat Karina tertegun.