Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Ibu Terbaik


__ADS_3

Roy terdiam ketika mendengar ucapan Hana. Dia sempat mendengar wanita itu mendengus kesal.


"Belok ke kanan di sana ada toko yang kutuju."


Roy tidak menurut, dia tetap lurus menuju ke rumah Hana.


"Kau... sebenarnya dengar tidak sih. Kalau tidak mau mengantarkan lebih baik aku turun saja di sini!" geram Hana jengkel.


"Sudah kukatakan aku akan menyewa jasamu untuk menunggu Bagus," ujar Roy sambil memegang dagu sendiri tanpa mau melihat ke arah Hana.


"Bagus itu anakku tanpa bantuan dari mu aku akan merawatnya. Bukankah selama ini aku juga yang merawatnya sendiri!"


"Kenapa kau tidak meminta pertanggungjawaban dari Ayahnya?"


Hana menoleh menatap Roy. Lalu tertawa sinis.


"Ayahnya hanya pria breng sek yang tidak bertanggung-jawab."


"Itu hanya pikiranmu atau kau memang sudah mengatakan kalau kau hamil anak-anak nya dan dia menolak?" desak Roy.


Hana terdiam. Tidak bisa menjawabnya.


"Hana, anak-anak akan lebih baik jika mereka bersama dengan ayahnya."


"Ini hidupku kau tidak perlu mengajariku apa yang baik untukku dan anak-anakku. Tanpa kau katakan aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka," ada nada sakit ketika Hana mengatakan itu.


Suara helaan nafas Hana yang panjang menjelaskan bahwa semua itu tidak mudah baginya. Ada banyak beban yang sedang dipikulnya. Roy bisa menebaknya.


Mereka lalu sampai di depan gang kontrakan Hana. Seperti biasanya Roy menghentikan mobilnya di depan Mushola. Hana lalu keluar meninggalkan Roy begitu saja.


Roy hanya menggelengkan kepala. Selama ini dia hidup tenang tanpa ada yang mengganggu. Kini baru saja dia bertemu dengan Hana dan banyak drama terjadi. Diusianya yang kelewat matang, dia tidak suka dengan drama yang akan menguras emosi dan pikiran. Namun, Hana masih muda bahkan teramat muda hanya saja dia dipaksa untuk merasakan kehidupan yang kejam.


Setelah mengambil bawaannya dia pergi ke rumah kecil Hana. Dia sempat bertemu dengan Pak Paryo yang menyapanya dengan ramah. Dia sempat berhenti menjawabnya. Lalu melangkah kembali menuju ke rumah Hana.


Ketika hendak membuka pintu, wajah mungil Ayu nampak keluar. Dia lalu berteriak histeris karena senang memanggil Bagus untuk keluar.


"Om bawa apa lagi? Bukannya jajan kemarin saja masih banyak?" kata Ayu mengambil salah satu tas plastik di tangan Roy.


"Makanan untuk kalian. Aku mengambilnya dari dapur." Roy melihat ke sekeliling namun Hana tidak kelihatan.


"Wow banyak sekali, kita bisa pesta. Daging, sayur, ini apa?"

__ADS_1


"Pasta," jawab Roy.


"Tidak ada mie instan?" tanya Bagus.


"Itu tidak sehat."


"Sehat, buktinya aku baik-baik saja memakan itu," balas Bagus.


"Kandungan di dalamnya akan membuat sampah yang tidak baik bagi tubuh selain itu mie akan membuat pencernaan kita padat sehingga susah buang air besar."


"Kami baik-baik saja makan mie instan. Benar kan, Kak," imbuh Ayu menguatkan argumen Bagus.


"Baiklah terserah apa kata kalian."


"Di mana ibu kalian?"


"Ibu akan mencuci baju di kamar mandi di ujung sana."


"Memang tidak ada kamar mandi di rumah ini?"


"Tidak! Kamar mandi kami bersama dengan pemilik kontrakan yang lain." Roy meringis mendengarnya. Kamar mandi bersama dengan pemilik kontrakan yang lain? Bagaimana rasanya?


Roy lalu membuka kotak makan untuk mereka berdua. Mereka mulai makan dengan antusias, mengatakan jika masakan itu enak.


"Tapi lebih enak masakan Ibu," ujar Bagus.


"Hmmm kau selalu mengatakan jika masakan ibu yang terbaik. Tapi memang seperti itu walau terkadang ada makanan yang lebih enak."


"Coba kalau ibu punya bahan makanan seperti ini, dia bisa memasak lebih enak," bela Bagus.


"Hmmm Ibu memang terbaik."


Roy yang mendengar ikut tersenyum, dia selalu mengatakan hal itu juga pada Ibu kandungnya sewaktu kecil. Mengatakan jika makanannya adalah hal yang terbaik. Namun, dimana Ibu kandungnya kini berada, Roy tidak tahu. Entah masih hidup atau sudah mati. Dia terlampau sakit hati karena dijadikan bahan tukar untuk membayar utang mereka pada bank.


"Sudah siang, Om harus segera pergi," kata Roy.


"Ini masih pagi Om, baru jam 8 pagi," ujar Ayu menatap ke jam dinding.


"Bagi Om ini sudah siang karena Om harus ke kantor," ujar Roy mengusap kepala Ayu.


"Oh ya nanti dimarahi Bos, Om ya, terus di pecat."

__ADS_1


Roy hanya tersenyum.


Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan diberikan pada Ayu dan Bagus.


"Wah, Ini buat kami?'' Ayu ingin mengambil namun tangannya di pegang oleh Bagus.


" Tidak usah, Om. Jajan yang Om berikan sudah banyak." Bagus terdiam untuk sejenak nampak berpikir.


"Lagipula Ibu pasti tidak akan suka," lanjut Bagas.


"Betul tidak mau?" tanya Roy.


Bagas menggeleng dengan mantap. Sedangkan Ayu nampak ragu, melakukan hal sama seraya menatap kakaknya.


"Ya, sudah."


Roy lalu keluar dari rumah kecil itu. Untung dia tadi sudah menyelipkan uang di bawah tudung saji untuk Hana. Dia pasti seperti kedua anaknya yang akan menolak uang itu jika dia memberikan langsung. Harga dirinya begitu tinggi. Dia sangat berbeda dengan wanita yang dia temui beberapa tahun lalu. Hana yang dulu langsung menerima pemberiannya tanpa malu-malu. Apakah orang bisa berubah dengan drastis?


Sebelum Roy keluar dari rumah kecil itu, Ayu memanggilnya. "Om, apakah besok Om akan kemari lagi?" tanyanya penuh harap. Roy membalikkan tubuhnya.


"Apakah Om masih boleh kemari lagi sedangkan ibumu sepertinya tidak suka jika Om kemari."


"Ibu memang selalu mengusir pria yang datang kemari."


"Iya kah?"


"Iya, bahkan pernah ada yang sampai disiram air cucian piring," tutur Ayu menggigit lidahnya sendiri karena dibelakang Roy ada ibunya yang berdiri dengan berkacak pinggang. Bagus menyikut Ayu.


"Ibumu sangat menyeramkan." Roy bergidik ngeri.


"Ibu itu wanita cantik yang lemah lembut," lanjut Bagus menatap ke belakang Roy. Pria itu lantas mengikuti arah pandang Bagus.


Roy melihat Hana yang baru saja mandi. Dia memakai daster kebesaran dengan rambutnya yang basah. Jika seperti itu Hana terlihat cantik dan nampak muda dari pada biasanya.


"Jika kau sudah tahu aku tidak suka kau kemari kenapa terus datang! Sekarang pergilah sebelum aku menyirammu dengan air ini," seru Hana tertahan. Dia masih punya malu untuk berteriak di depan semua orang. Di tangannya ada seember air bersih.


Roy maju dan tersenyum jahil. "Wanita cantik tidak pantas untuk selalu marah-marah. Kau akan terlihat lebih manis jika tersenyum dan bersikap lemah lembut seperti kebanyakan wanita." Roy mengerlingkan satu matanya lalu beranjak pergi. Namun sebelum itu dia berhenti di sebelah Hana dan berbisik di dekat telinganya.


"Nanti malam aku datang, masak yang enak ya!"


Wajah Hana memerah entah karena marah atau malu atau keduanya.

__ADS_1


__ADS_2