
Roy menatap kosong ke depan. Kakinya terasa berat untuk kembali melangkah dalam rumah ini. Adry dan Raina memaksa untuk membawa Roy kembali ke rumah mereka di Berlin. Mereka tidak tega melihatnya sendiri.
Carl yang tidak datang menjemput Roy menyambutnya. Dia memeluk tubuh Roy dan menepuk punggungnya. Hati orang tua mana yang tidak sakit melihat anaknya selalu jatuh tertatih di depannya.
Roy terdiam namun kristal bening terjatuh dari sudut matanya menggambarkan betapa hancurnya dia saat ini.
Carl merenggangkan pelukannya dan memegang wajah Roy dengan kedua tangannya. "Kau pasti bisa melalui semua ini."
Roy menggelengkan kepala dan memeluk Ayahnya. Saat ini yang dia butuhkan adalah tempat bersandar bukan hanya kata-kata.
"Kami selalu ada untukmu," ucap Carl bergetar.
Roy menyeka air matanya. Dalam bayangan kabut dia melihat Janeta ada di depan pintu menatapnya. Wanita itu duduk di kursi roda, terlihat kurus serta lemah. Bukan seperti Janeta yang angkuh dan sombong yang dia kenal. Ya, dia memang tidak ingin melihat atau mendengar keadaan wanita itu lagi semenjak kejadian penembakan itu. Namun, kini dia harus berhadapan dengan wanita itu lagi yang mungkin akan menyiramkan garam dalam lukanya lagi.
"Maaf, Ayah tidak bisa mendampingimu di saat."
"Aku tahu jika Ayah harus menunggu Ibu dan Leon," ujar Roy tegar.
Carl tersenyum kecut.
"Sebaiknya kau istirahat setelah melakukan perjalanan panjang."
Carl lalu mengajak Roy masuk sedangkan Raina menatap kedua orang itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kapan Roy akan bahagia? Baru saja dia menemukan kehidupannya lalu dengan kejam Tuhan mengambil kebahagiaan itu." Dia menoleh pada Adry dan memeluknya.
Adry menarik nafas berat. Hatinya juga ikut merasakan sakit yang Roy rasakan. Adiknya memang tidak mengatakan apa-apa namun dia terlihat menangis dalam diamnya. Dia sangat terpukul dan Adry tahu hal itu.
Janeta ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya ketika melihat Roy hanya melewati tanpa mau melihat ke arahnya.
Raina dan Adry berjalan ke arahnya. Raina berhenti sedangkan Adry berjalan begitu saja. Hal paling menyiksa adalah ketika anak marah sampai tidak mengatakan apapun. Hanya diam saja.
"Bu, apakah Ibu baik-baik saja?" tanya Raina mendorong kursi roda Janeta masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Janeta. Saat ini memang hanya Raina yang bisa dia tanyai. Selain menantunya itu tidak ada yang memberi tahu apa pun.
Raina lalu membawa Janeta ke sebuah ruangan santai. Dia duduk di sana.
"Roy baru saja menikah belum satu bulan."
"Ya, Ayah mertuamu telah memberitahuku. Aku senang mendengarnya. Jika dia sudah menikah lalu dimana istrinya."
Mata Raina merebak. Dia menyeka sudut matanya yang mulai basah lagi.
"Dia... dia...," bibir Raina gemetar tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Raina menunduk.
"Karina tertembak ketika sedang mengambil bukti berharga yang menyatakan jika Ayahnya tidak sepenuhnya bersalah dalam kasus yang membelit keluarga mereka," potong Adry tiba-tiba.
Janeta membuka mulutnya lebar.
"Kari-na yang..., " Janeta tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Janeta tidak mengatakan apapun dia memutar kursi rodanya pergi ke kamar. Dia sempat mendengar perkataan Adry dalam kejauhan.
"Kau lihat dia nampak biasanya saja dengan keadaan Roy. Untuk apa kau bersimpati padanya."
Janeta berhenti, menarik nafas dalam meneruskan kembali jalan kursi rodanya.
***
Roy hanya mengurung diri terus dalam kamarnya. Tidak menyentuh makanannya sama sekali dan tidak mengucapkan satu patah katapun. Tidak ada satu orang pun yang bisa membujuknya untuk kembali menjalani hidup.
Dia menerawang kan pandangannya jauh ke depan. Duduk di jendela sambil menatap langit dengan pandangan kosong.
Dia sempat mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Roy tidak menoleh dan tidak peduli siapa yang datang ke kamar. Mereka pasti akan mengatakan hal yang sama setiap harinya. Tentang hidup dan tentang makan serta minum. Hal yang mulai dia abaikan. Dia bahkan ingin lekas mati namun Tuhan masih ingin dia hidup untuk menyiksanya. Setidaknya itu yang Roy rasakan. Dia sudah tidak percaya lagi dengan Tuhan. Apalagi neraka karena selama ini pun dia hidup seperti di neraka.
Dia menghela nafas. Bahkan oksigen sepertinya enggan untuk masuk ke paru-parunya. Dadanya sering kali terasa sesak karena menahan semua kesedihan ini. Mengapa nasibnya selalu diliputi oleh derita?
__ADS_1
"Roy," panggil Janeta membuat Roy tersentak.
Untuk apa wanita itu kemari? Apakah untuk mengejeknya atau membunuhnya untuk kedua kali? Batin Roy. Pria itu lantas menoleh dan tersenyum mengejek.
"Kau mau apa datang kemari? Kau pasti bahagia jika melihatku menderita," ujar Roy turun dari jendela dan melangkah ke arah Janeta yang duduk di kursi roda.
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku turut sedih dengan kematian Karina."
Roy tertawa keras sambil menengadahkan wajahnya ke atas seperti orang gila. Dia lalu menunduk di depan wajah Janeta serta menunjuk wanita itu dengan jarinya.
"Jangan bersandiwara di depanku karena aku sudah tahu wajah aslimu dari dulu. Tinggal katakan apa yang kau inginkan. Kau tahu jika aku lelah dengan semua ini dan kau jangan memancing masalah lagi!"
Janeta tersenyum tipis. Dia tahu pasti Roy akan mengatakan ini. Semua tidak salah setelah apa yang dia lakukan pada semua orang dalam keluarga ini. Saat ini yang dipikirannya hanya satu. Dia ingin meninggal dengan kenangan yang indah. Dia tidak mau mati dengan mendapatkan hujatan semua. Dia ingin mengakhiri semuanya dengan baik.
"Kau pasti sangat kecewa bahkan mungkin terlalu membenciku. Itu wajar setelah apa yang kulakukan. Bahkan anakku Adry sampai saat ini pun tidak mau menerimaku dengan baik. Aku sadar diri kalau aku pantas menerima semua kebencian dari kalian. Aku tidak peduli itu."
Roy memiringkan kepalanya dan menatap Janeta dengan sinis dan mengejek.
Janeta menarik nafas sebelum meneruskan kata-katanya.
"Kau tahu jika naluri seorang ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pun aku. Aku tidak suka membagi semuanya dengan anak dari wanita simpanan. Tidak setelah apa yang ayahmu dan ibumu lakukan padaku."
"Aku berusaha melindungi apa yang menjadi hal anakku karena hakku untuk menerima cinta Carl sudah diambil ibumu jadi aku tidak ingin hal Adry juga diambil olehmu."
"Aku bahkan tidak berpikir untuk mengambil apapun dari Quandt tidak sepeserpun."
"Kau mungkin tidak namun ayahmu mungkin akan melakukannya." Roy menatap ke arah Janeta yang nampak tenang ketika mengatakan semuanya.
***
Lima hari berpikir kemana arah cerita ini. Jadi libur sama up sedikit. Tadi malam baru dapat pencerahan.
Mau bantu apa g? Waktu itu Roy kan punya tatto, tatto apa ya, harimau atau naga (Aku lupa yang mana) ? Soalnya aku suka pakai dua tatto itu di cerita novel ku, ini berkaitan dengan cerita Roy ke depan.
__ADS_1