Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Dingin dan Cuek


__ADS_3

Hingga malam hari Roy belum pulang juga rasa khawatir dan cemas merasuk dalam pikiran Hana. Belum lagi pria itu tidak memberi kabar sama sekali padanya. Apakah begitu susah mengetik sesuatu mengatakan jika dia pergi kemana dan sama siapa? Hana menggerutu.


Meninggalkan kamar Ayu yang sudah terlelap setelah minta ditemani. Melangkah masuk ke kamar Bagus.


"Kamu belum tidur Gus?" tanya Hana menatap anaknya yang masih memegang buku pelajaran. Anaknya itu lantas meletakkan buku diatas meja.


"Aku lupa bilang sama Ibu kalau aku mewakili sekolah ikut lomba cerdas cermat," terang Bagus.


"Ayu tadi cerita tapi ini sudah malam sebaiknya tidur dulu. Percuma dong belajar sampai tengah malam jika ujungnya saat pelajaran mengantuk.


Bagus tersenyum. Hana langsung menarik tubuh anaknya ke tempat tidur lalu menyuruh nya berbaring setelah itu dia ikut berbaring di sisi Bagus.


" Aku kangen tidur bareng Ibu." Bagus memeluk Hana. Memang sudah lama dia tidak menidurkan anaknya yang paling besar ini karena dia harus ke kamar Ayu terlebih dahulu dan menemaninya tidur. Jika ke kamar Bagus anak itu pasti sudah tertidur pulas.


"Ibu juga rindu tidur bareng kalian berdua. Kalau mau kalian pergi ke kamar saja kita tidur bersama."


"Memang boleh? Nanti Ayah?" Bagus tidak meneruskan katanya.


"Ayah juga senang kok," kata Hana. Kedua anaknya memang dekat dengan Roy tetapi terasa masih ada jarak diantara mereka. Terutama Bagus, dia masih sungkan menyampaikan sesuatu kepada Ayahnya lebih suka berterus terang pada Hana. Mungkin mereka masih butuh waktu lebih banyak untuk saling mengakrabkan diri.


"Kalau Ayah dan Ibu menikah berarti akan terus bersama?" tanya Bagus.


Hana menganggukkan kepala.


Bagus lalu memeluk Hana dan mendusel di tubuh wanita itu seperti anak kecil.


"Aku sayang Ibu," ucap Bagus.


"Ibu juga sayang kalian," balas Hana.


Bagus memandangi Hana lalu perlahan menutup matanya dan mulai tidur terlelap.


Setelah memastikan Bagus tidur, Hana keluar dari kamar. Dia pergi ke kamarnya sendiri mengganti baju rumah dengan baju tidur dan menutupinya dengan jubah. Setelah itu, dia mematut diri di cermin memastikan wajahnya tidak terlihat kusam.


Raina pernah memberi pesan padanya jika seorang istri harus selalu cantik di depan suami saat mereka pulang atau di rumah.


'Banyak wanita di sekitar suami kita, mereka bahkan lebih cantik dan seksi dari kita. Jadi sebisa mungkin kita jangan terlihat kusam dan cemberut yang membuat suami kita tidak suka melihatnya. Mereka pulang dan lelah, ingin beristirahat dengan tenang di rumah, sebisa mungkin kita memberi mereka pelayanan yang terbaik agar mereka tidak perlu mencari pelayanan ditempat lain.Ingat calon suamimu bukan orang biasa, jadi kau harus menjaganya dengan baik.'


Hana duduk menunggu kepulangan Roy di ruang tamu. Sesekali berjalan keluar berharap mobil suaminya masuk lewat gerbang. Namun, tidak juga kunjung terlihat.


Akhirnya, dia duduk di anak tangga depan rumah. Memegang handphone yang dibelikan oleh Roy melihat postingan orang-orang yang muncul silih berganti. Hingga akhirnya, seorang penjaga berjalan menuju pintu gerbang rumah dan mulai membukanya. Mobil yang Roy naiki mulai masuk ke dalam.


Seorang penjaga yang lain berlari dan membuka pintu mobil Roy. Pria itu lantas keluar dari mobil dan melihat Hana sedang berdiri menunggunya. Wajahnya nampak khawatir.


"Kenapa duduk di depan pintu, udara di luar dingin kau bisa sakit nanti," tanya Roy mendekat lalu mencium kening Hana.


"Aku khawatir, kau belum juga pulang."


"Kau bisa menungguku di dalam."


"Sudah, tapi kau terlalu lama pulangnya jadi aku tidak sabar, harus bolak balik melihat keluar."


Roy mengacak rambut Hana pelan lalu memeluk pinggang wanita itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Apa kau mau makan? Jika iya akan kupanaskan makanannya."


"Aku ingin makan, tapi makan dirimu," goda Roy.


"Ish kau, kita belum sah dan kau memperlakukan aku seperti istri terus."


"Kalau begitu kita sahkan saja besok." Mereka mulai masuk ke dalam kamar.


"Kau bilang akan menunggu Ayah dan Ibu untuk menyaksikan pernikahan kita."


"Ya, sudah besok kita ke Jerman menikah, lalu kembali ke Indonesia baru melakukan resepsi."


"Kau mengatakan semuanya seperti mudah, padahal ini pernikahan." Hana membantu melepaskan jas yang Roy kenakan. Lalu dasinya.


"Aku dulu juga begitu ketika bersama Karina, ingin menikah malam, siangnya langsung saja menikah." Hana menghentikan gerakannya sejenak baru melanjutkan lagi.


Roy menatap bibir Hana berkerut. Wajahnya yang tadi teduh kini nampak ditekuk. Dia menunduk untuk mencium Hana namun wanita itu pergi meninggalkannya.


"Aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu." Hana keluar dari kamar. Roy menggerakkan alisnya, mengangkat bahu sedikit.


"Sulit sekali mengerti wanita. Menunggu pulang, setelah datang malah didiamkan."


Roy lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia melihat Hana sudah berbaring memunggunginya.


Roy menatap kopi hangat yang masih mengepul di meja sofa. Dia mulai menyesap lalu meletakkan lagi. Membuka laptop dan mulai mengetik, nampak berpikir.


Hana yang belum tidur menjadi kesal sendiri dengan kelakuan dingin Roy. Bukannya mendekat dan merayu, pria itu malah lebih memilih pekerjaannya. Padahal baru beberapa hari yang lalu dia berjanji akan meninggalkan pekerjaannya jika malam. Itu adalah waktu terbaik bagi mereka dan pria itu malah merusaknya.


"Pria dingin, tidak peka!" gerutu Hana.


Seorang mata-matanya melihat jika ada kotak penyimpanan khusus di kamar pria itu. Dia harus bisa mencari cara agar bisa masuk ke sana.


Hana yang kesal karena didiamkan lalu mulai bangkit. Dia turun dari ranjang hendak keluar kamar.


"Kau mau kemana?"


"Tidur bersama anak-anak!" kata Hana.


Sebelum Roy berpikir, Hana mulai membuka pintu ruangan.


"Hana, kembali ke ranjangmu! Kamarmu ada di sini."


"Aku rindu tidur dengan anak-anak," jawab Hana mulai menarik kenop pintu.


"Hana, sudah kubilang kembali ke ranjang!" suara Roy mulai meninggi, wajahnya nampak menegang. Hana tidak pernah melihat Roy seperti itu. Yang dia tahu Roy selalu berlaku lembut padanya. Apakah ini sifat asli pria itu, Hana tidak tahu. Mata wanita itu mulai merebak.


Roy bangkit lalu berjalan mendekat ke arah Hana. "Aku tidak bermaksud membentakmu, tapi kau sulit untuk diberi tahu."


"Aku atau kau yang sulit untuk dimengerti!" ucap Hana emosi tapi dengan nada rendah yang penuh penekanan. Wanita itu lantas pergi kembali ke ranjangnya dan mulai berbaring.


Roy mendekat ke arah Hana dan memeluknya dari belakang.


"Maaf, aku ada proyek penting dan harus segera dikerjakan. Jadi aku...." ucapan Roy tertahan oleh perkataan Hana.

__ADS_1


"Sana teruskan," ujar Hana sewot.


"Kau marah!"


"Tidak!" Nada tinggi jelas terlihat. Roy yang tidak pandai membujuk akhirnya hanya diam di sebelah Hana melihat ke sekitar lalu kembali menatap Hana.


Rupanya wanita kalau marah dan ngambek itu mengerikan. Lebih membuat tegang daripada ditodong senjata musuh.


Seharusnya dia menyimpan hadiah atau sesuatu untuk membujuk wanitanya jika marah tapi tidak ada semuanya sudah langsung diberikan ke Hana.


Roy menghembuskan nafas keras, tidak tahu harus melakukan apa. Dia berbaring di sebelah Hana meletakkan satu tangan di pinggang wanita itu. Tangannya ditepis oleh Hana. Wanita itu makin bergerak menjauh.


Roy mendekat lagi Hana bergerak ke pinggir begitu seterusnya hingga Hana hampir jatuh dan pinggangnya direngkuh oleh Roy, pria itu lantas mengangkat tubuh Hana ke atas tubuhnya.


Hana menolak tapi Roy memeluknya erat. Hana mulai merajuk dengan memukul dada Roy. Pria itu melihat wajah Hana yang sembab.


"Hei kau menangis kenapa? Apa karena aku lebih memilih pekerjaanku?" Roy memegang wajah Hana dan menyibak rambut yang menutupinya.


"Tidak apa-apa, tidak usah pedulikan. Lepas dan turunkan aku sekarang!''


" Ish kau makin cantik jika merajuk. Bibirnya bertambah penuh dan seksi," ucap Roy tersenyum.


Hana lantas turun dari tubuh Roy dan menyeka wajah.


Roy bangkit duduk menatap Hana. "Katakan kenapa kau menangis, akun tidak pandai menebak hati wanita."


"Aku rindu dengan rumah kontrakanku, ingin tinggal di sana.''


Wajah ramah Roy berubah menjadi serius. "Mengapa kau mengatakan itu?"


"Tidak apa-apa. Aku akan tinggal di sana saja!"


"Hana... "


Wanita itu memunggunginya dan menarik selimut hingga seleher.


Roy lalu berbaring di sebelah Hana dan meletakkan kepala di lehernya menyatukan kepala mereka. Sesekali menyesap kulit Hana yang putih membuat wanita itu kegelian.


Tangannya yang besar masuk ke dalam selimut dan mengusap pelan pa** wanita itu, hingga tangannya masuk ke dalam.


"Tidak peka! Suka memerintah! Suka membandingkan dan selalu seperti ini saja," rutuk Hana dalam hati. Namun, mulutnya bersuara aneh ketika tangan Roy mulai merayap ke segala arah ke tempat yang Hana tidak bisa menolaknya.


"Aku lelah, ingin tidur!" ucap Hana ketika bibir Roy menyesap tengkuknya. Sebuah erangan keluar dari bibirnya.


"Sungguh? Tadi kau marah melihatku bekerja. Bukankah ini waktu kita berdua. Quality time kita, jadi hanya kita. Bukankah ini yang kau mau?"


Hana mengambil tangan Roy dari tempat pria itu mencari kenikmatan. Lalu menghadap ke arah pria itu dan menatapnya.


"Sayang, semua bukan sekedar tentang se**, ini soal perhatian."


"Aku tahu jika akhir-akhir ini mulai sibuk, aku tidak bisa menghindari pekerjaanku. Maaf jika menduakanmu dengan pekerjaanku," ujar Roy.


Hana menekuk bibirnya ke bawah. Membuat Roy gemas lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Jika kau lebih suka pekerjaanmu maka kau tinggal saja dengan itu. Aku dan anak-anak bukan cuma pajangan di rumah yang hanya dilihat sekilas lalu di tinggal pergi. Peliharaan juga butuh diperhatikan," ucap pedas Hana.


__ADS_2