Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Akhir Kisah


__ADS_3

"Bukankah kau ada dalam sebuah speedboat yang ada di sungai itu?" Semua orang menatap Roy dan Hani bergantian.


Wajah Hani memucat seketika. "Itu fitnah."


Roy membenarkan letak kacamatanya lagi.


"Katakan itu di pengadilan karena kau akan didakwa sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Hana."


"Bukan aku yang merencanakan semuanya."


"Sayangnya si tua Maruli mencuci bersih tangannya dari kasus ini dan semua bukti kini terarah padamu. Nikmati saja akhir hidupmu di balik jeruji besi." Roy lalu menarik tangan Hana yang ingin mengatakan sesuatu pada Hani.


"Kau katakan saja di pengadilan. Percuma kau mengatakannya di sini karena telinganya sudah rusak dan hatinya telah mati."


***


Pengadilan terhadap kasus percobaan pembunuhan terhadap Hana berlangsung selama tiga bulan. Hani dipaksa oleh Maruli untuk mengakui bahwa dia dalang dari semua kejahatan itu jika ingin selamat.


Akhirnya pengadilan memutuskan menghukum Hani selama dua puluh tahun. Hana sebetulnya tidak tega hanya saja itu diluar dari kehendaknya.


Semenjak itu, Hani tidak mau ditemui oleh Hana.

__ADS_1


***


Perayaan pernikahan Hana dan Roy berlangsung meriah. Dilakukan di dalam hotel milik Jonathan. Semua terlihat tersenyum cerah. Gelak tawa anak yang sedang berlarian terdengar keras.


"Bukankah ibu sudah mewanti-wanti agar baju Hana tidak kekecilan ketika di gunakan," sindir Ibu Janeta.


Hana menunduk malu sedangkan Raina dan Adry, menahan tawanya. Roy sendiri menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa, kita maklum jika Roy terlalu lama sendiri sehingga tidak tahan melihat gadis muda di sebelahnya," celetuk Carl. Membuat tawa Adry meledak.


"Ayah benar. Namun, aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu Roy. Rasanya beban berat di pundakku terangkat. Lega."


"Berarti sudah berapa bulan umur calon keponakanku ini?" tanya Raina mengusap perut Hana.


"Ck ... anak nakal seharusnya kau nikahi dia dulu baru resepsinya," ujar Janeta.


"Bu, semua tidak semudah itu, ada kasus yang harus kami selesaikan terlebih dahulu," terang Roy.


"Untung kau sudah selesaikan semuanya dengan baik. Aku sampai khawatir jika Hana atau anak-anakmu terluka karena kegilaan Hani dan Maruli lagi."


"Aku tidak akan pernah membiarkannya. Jika dia berani menyakiti keluargaku lagi maka aku akan membunuh semua keluarganya."

__ADS_1


"Roy," Hana menarik tangan Roy mengingatkannya agar tidak menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan.


"Roy benar, aku jika jadi dia pun akan melakukan hal yang sama," bela Adry.


"Anak-anak Ayah akan selalu melindungi keluarganya dengan nyawanya Hana. Istri hanya perlu duduk tenang di rumah mengurus keluarga," kata Carl.


Hana mengangguk.


"Sudah jangan bahas hal itu. Kita sedang bahagia saat ini," ujar Raina.


"Kami akan ke sana menemui para tamu," ajak Raina pada Adry.


Roy memegang tangan Hana dan memasukkan jarinya di sela-sela jari Hana. Hana menoleh menatapnya dengan penuh cinta. Sebuah senyuman manis tersimpul dari bibirnya yang ****.


"Hana, terimakasih karena kau datang ke dalam hidupku. Kau membawa anak-anak yang membuat ceria hidupku yang sunyi, menyalakan lagi pelita cinta di hatiku sehingga hidupku yang gelap ini jauh menjadi berwarna."


Hana menyentuh rahang Roy dan mengusapnya pelan.


"Kau sudah mengatakan itu berulang kali."


"Aku akan mengatakannya setiap hari walau kau bosan mengatakannya."

__ADS_1


Pipi Hana merona mendengarnya.


"Aku tidak bisa berkata romantis sepertimu, tapi aku bahagia kau menjadi bagian dari hidupku."


__ADS_2