Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Makan Malam yang Menegangkan


__ADS_3

"Ada apa Tuan memanggil saya kemari?" tanya Rifky pada Roy dengan rasa takut jika melakukan sebuah kesalahan.


"Aku hanya ingin kau menyampaikan undangan ke Rombongan Nona Karina untuk datang ke kediaman utama. Nyonya Quandt menginginkan mereka datang, terutama untuk pasangan Mitch dan Karina."


"Adakah alasan khusus yang melantari undangan itu." Dahi Roy mengernyit mendengar ucapan Rifki. "Maksud saya jika mereka bertanya undangan itu untuk apa?"


"Katakan saja jika Raina sangat mengagumi Mitch dan suaminya sangat mengidolakan Clara."


"Baiklah akan saya sampaikan."


Rifky lalu berjalan menuju ke gedung utama dan mendekati Karina lalu mengatakan apa yang Roy ucapkan.


Rasa menyengat di lidah Karina memberitahunya agar berhati-hati dalam mengatakan sesuatu. Instingnya mengatakan jika pria itu masih menyelidiki tentangnya dan menjadikan acara makan malam ini sebagai alasan untuk mencari tahu tentang dirinya lebih dalam lagi.


"Apa yang akan dilakukan pria itu jika aku menolak?" Pertanyaan itu berseliweran dalam pikiran Raina. Membuat dia larut dalam pikirannya sendiri sementara rombongannya yang lain sedang membicarakan hal ini.


"Aku tidak bisa menolak jika Nyonya pemilik tempat ini yang mengundang," kata Mitch nampaknya dia juga terlihat sangat ramah dan bersahabat."


Mitch melihat ke arah Karina. "Sangat berbeda dengan suaminya," imbuhnya lagi.


"Lalu bagaimana denganmu Clara?" tanya Karina.


"Ehm aku dan Dave punya makan malam indah sendiri, bisakah kami tidak ikut bersama kalian dan sampaikan permintaan maaf kami."


"Lalu Sandra, May, Kenan, dimana mereka?" tanya Karina.


"Mau bertemu dengan temannya dan Sandra nampaknya sedang di pantai dengan Kevin," jawab Clara santai.


"Wow...," ungkap Mitch memandang Karina. Umur Sandra yang sudah memasuki usia 40 an menghabiskan waktu kencan bersama dengan Mitch yang masih berumur 26 tahun.


Mereka lalu menarik nafas bersama.


***


Kini akhirnya Karina dan Mitch yang berada di meja lebar dalam kediaman utama keluarga Quandt. Di depan Karina nampak seorang anak kecil yang manis dengan pita di kepalanya. Anak itu tidak melepas pandangannya dari Karina membuat wanita itu kikuk harus melakukan apa. Dia gugup dan seumur hidupnya tidak pernah berinteraksi intens bersama seorang anak balita. Bukan berarti dia tidak menyukai mereka namun dia tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat seorang anak menyukai dirinya.


"Aku memasak sate dan rendang untuk kita makan," kata Raina yang baru kembali dari dapur membawa sepanci penuh daging rendang yang beraroma wangi dan menggiurkan. Membuat lidah mengecap ketika mencium baunya.

__ADS_1


"Oh, sudah terlalu lama aku tidak mempunyai tamu entahlah kapan tepatnya terakhir kali ada tamu di sini. Ehm Jonathan ya... hanya dia yang jadi tamuku," kata Raina pada Adry.


Adry menganggukkan kepalanya sambil mengusap mulut Regina yang belepotan makanan. Anak itu sudah memakan makan malamnya terlebih dahulu sebelum semua orang berkumpul.


"Aku juga merasa terhormat telah menjadi tamu Anda, Nyonya Quandt," ujar Karina sopan takut lidahnya tergelincir dan mengatakan hal yang salah.


"Panggil saja Raina agar terdengar akrab."


"Maaf aku terlambat," kata Roy yang masuk ke dalam ruangan itu membuat suasana menjadi panas untuk Karina. Dia mulai merasa tidak nyaman ketika melihat pria itu ada diantara mereka.


"Hai, keponakanku yang cantik. Lihat kucirmu ini, wah seperti menara Eiffel tingginya."


Roy lalu mencium pipi Regina dan membuat anak itu kesal, berakhir dengan cubitan di pipi anak itu


"Mama... ," teriak Regina meminta tolong pada ibunya.


"Ibu sedang menyiapkan makan malam dulu Sayang kau bersama Ayah ya... ." Raina lalu memukul lengan Roy.


"Kau suka sekali menggoda Regina," katanya kesal.


Roy tertawa, sesuatu hal yang membuat Karina terpana. Dia tidak menyangka jika sosok dingin Roy bisa sehangat itu jika bersama keluarganya.


"Maaf, tadi aku sedang ada urusan di villa ujung pantai dan harus segera memeriksanya."


"Ada masalah apa?" tanya Adry.


"Hanya kabel listrik yang konslet dan membuat kebakaran kecil untungnya pondok itu belum dipakai."


"Kau tidak memberitahuku," kata Adry.


"Ku kira ini masalah kecil dan masih bisa diatasi."


"Hallo, Mitch," sapa Roy mengulurkan tangannya.


Mitch menyambut uluran tangan Roy. "Selamat malam, Roy." Mereka telah bersepakat sebelumnya untuk memanggil dengan panggilan kecil saja.


"Karina, kau tidak membawa temanmu yang lain?" tanya Roy mengulurkan tangannya. Sebuah sengatan listrik terjadi lagi membuat Roy menatap Karina memastikan bukan hanya dia yang merasakannya.

__ADS_1


"Kau tahu mereka sedang sibuk dengan liburannya dan ... kurasa kau sudah tahu," ungkapnya. Roy menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tahu setiap aktifitas di pulau ini kecuali di dalam kamar pribadi mereka.


Karina tidak menyadari jika akhirnya Roy duduk di kursi sebelahnya. Dia merasa tertekan dengan keadaan itu. Berdekatan dengan pria yang hanya bisa mendatangkan aroma dan kata-kata yang tajam untuknya. Bisakah dia bernafas ketika berada di sebelahnya?


Pria itu memakai kemeja hitam dengan celana, denim berwarna serupa. Sisi maskulinitas-nya sangat terasa, belum lagi aura besar yang berkelas dari pria itu membuat semua wanita yang berada di dekatnya akan luluh lantah pada pesonanya. Pesona Tuan rumah juga tidak kalah besarnya hanya saja dia sudah beristri.


Karina merasa canggung saat ini. Dia berkali-kali menarik rambutnya ke belakang telinga ketika berbicara dengan mereka. Berharap makan malam ini lekas selesai.


"Kau tahu, Karina sangat kesal ketika kau memberi kabar lama untuk menyetujui kunjungan kami," ujar Mitch membuat Karina memukul perut pria itu di bawah mejanya. Mitch meringis kesakitan.


"Kau kenapa?" tanya Raina cemas membuat Adry manyun.


"Asam lambungku sedikit naik mungkin karena makanan makanan pedas tetapi ini sungguh nikmat dan aku tidak bisa menahan diri untuk memakannya." Mitch dengan apik mencoba mengelabui pasangan itu.


"Benarkah itu?"


Karina mendapati Roy dengan menatapnya dengan eskpresi dingin serta tajam tanpa senyum sehingga membuat Karina sulit untuk menebak suasana hati pria itu.


"Kenapa pria itu tidak botak dan membosankan saja? Kenapa jantungku berdetak keras seperti genderang di tengah peperangan jika mendapat tatapannya atau berada di dekatnya?


"Wanita itu tidak suka ditolak Roy," ujar Raina membela Karina.


"Aku tahu itu dengan baik karena tumbuh bersama ... aku tidak ingin membicarakannya," ungkap Roy yang ingin mengatakan Janeta.


"Dan mencintai wanita bernama Nita yang tidak ingin ditolak keinginannya." batin pria itu.


Mereka bertiga terlihat tegang jika mengingat sebuah nama yang ingin mereka kubur.


Karina bisa melihatnya.


"Makanan ini sangat lezat, kau sangat pandai memasaknya, Raina," kata Karina mencairkan suasana lagi.


"Apakah kau bisa memasak?" tanya Raina.


"Dia bahkan tidak pernah masuk ke dapur," ujar Mitch tertawa. Wajah Karina terlihat ditekuk dan Mitch merangkul bahu wanita. "Sorry, bukan aku membuka aibmu tetapi jujur lebih baik."


"Wanita memang boleh mengejar karirnya tetapi dia tidak bisa melupakan pekerjaan rumahnya. Karena rumah itu yang akan ditempati suami dan anak-anaknya kelak. Membuat mereka senang dan nyaman salah satunya dengan memasak untuk mereka," sindir Roy. Dia teringat pada Nita yang mengejar karir dan melupakan kodratnya sebagai istri sehingga rumah tangganya berantakan.

__ADS_1


Namun, perkataan itu benar-benar menikam diri Karina dan sepertinya ditujukan kepadanya yang tidak becus menjadi wanita seutuhnya.


__ADS_2