
Raina terkejut melihat Adry berjalan sembari menatap tajam padanya. Rasa sakit menghujam ke dasar uluhatinya.
"Aku hanya ingin bersama Leon dan jika itu sebuah kesalahan di keluarga ini, aku memilih untuk pergi saja dari keluarga ini bersama Leon."
"Sudah kukatakan jangan coba kau melakukan itu, memikirkannya saja pun tidak boleh," suara Adry merendah tetapi penuh penekan.
"Untuk apa aku tinggal ditempat orang yang tidak menghargaiku. Kau pun tidak percaya padaku, jadi untuk apa aku bertahan padamu. Sudah kukatakan jika hidupku terlalu berharga jika hanya untuk menangisi kau saja!"
"Raina!" bentak Adry, rahangnya sudah mengetat.
"Ayah memarahi Ibu? Ayo, Bu kita pergi dari sini saja! Aku tidak akan hidup dengan orang yang ingin menyakiti hati Ibu," ujar Leon tiba-tiba yang muncul di balik pintu.
Adry lalu memukul tembok dengan kesal. Dia tidak tahu harus pada siapa dan membela siapa?
"Bukan begitu Nak, Ibumu ini...."
"Jika Ayah tidak mau mendengar Ibu dan aku untuk apa kami di sini, tidak dihargai dan buruknya tidak didengarkan. Hidup kami baik-baik saja sewaktu belum berada di sini. Aku bisa bebas melakukan sesuatu apapun sesuai keinginanku walau aku sakit. Namun, aku menyukainya."
"Di sini aku punya semuanya tetapi terasa hampa, bahkan untuk bersama Ibu saja, aku dilarang," lanjut Leon.
"Siapa yang melarangmu?" tanya Adry.
"Semua aturan yang membosankan di rumah ini yang melarang, Ayah kira mengapa Ibu sampai bertengkar dengan nenek?'' Leon menatap tajam neneknya sembari mengusap air matanya.
"Anak ini otaknya sudah dicuci agar membenci keluarga kita," ujar Janeta berbisik pada Adry dan menepuk bahunya. Adry menatap ke arah Raina yang mengalihkan pandangannya ketika tatapan mereka bertemu.
"Percuma berbicara dengan ayahmu, Nak. Kita pergi saja dari sini," ucap Raina handak berjalan keluar kamar menggandeng Leon.
"Kemana?" tanya Adry.
"Jangan halangi jalanku, aku akan pergi dari sini!"
Nita berdiri di sudut ruangan, diam menyaksikan semuanya. Pemandangan yang dia tunggu selama ini, kepergian Raina dari hidup Adry. Dia tidak rela jika Adry dimiliki wanita siapapun.
"Jika kau mau pergi silahkan tetapi jangan bawa Leon," ujar Adry. Raina tertawa keras sembari menangis. Hatinya kecewa mendengar hal ini. Benar kata Roy mereka hanya butuh Leon bukan dirinya. Raina lalu memegang bahu Leon.
__ADS_1
"Semua orang, sudah memperingatkan Ibu agar tidak percaya pada ayahmu, dia itu hanya butuh kau bukan Ibu. Tadinya ibu tidak percaya, kali ini Ibu membuktikannya sendiri. Kau pewaris mereka bukan darah daging mereka karena jika kau darah daging mereka, mereka akan bertanya apa yang kau inginkan bukan apa yang mereka inginkan terhadapmu," ujar Raina berapi-api. Adry yang mendengarnya sakit hati.
Plak!
Adry menampar wajah Raina hingga wanita itu terjatuh. Semua orang menutup mulutnya. Leon lalu maju ke depan ayahnya.
"Om ambil saja ginjal ini, aku tidak butuh! Sudah kukatakan jangan buat Ibu menangis tetapi Om malah memukulnya. Jangan harap aku akan memanggilmu Ayah lagi mulai hari ini karena aku membencimu!" ucap Leon dengan dada sesak dan air mata serta penuh penekanan membuat Adry bagai di sambar petir.
"Maaf Nak, itu Ayah tidak sengaja," ujar Adry gemetar. Dia juga tidak tahu mengapa dia tega melakukan itu pada Raina. Dia hanya tidak ingin mendengar kata perpisahan.
"Tidak, aku lebih baik mati tetapi bisa bersama dengan wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan air matanya dari pada hidup dalam .... " Leon menunjuk sekitarnya "tetapi tanpa Ibu. Aku tidak mau. Aku lebih baik tidak mengenalmu dari pada tahu bahwa ayahku adalah pria yang suka membuat Ibu menderita," geram Leon dengan mengepalkan kedua tangannya. Bahkan urat-urat kecil di kulit lehernya nampak jelas keluar.
Kaki Adry melemas mendengarnya. Jiwanya rontok seketika.
"Nak, kau tidak boleh mengatakan hal itu pada ayahmu," ujar Janeta dengan nada lembut.
"Om tidak seharusnya melakukan itu pada Ibu dan kau tidak seharusnya memarahiku," ujar Leon berani dia paling tidak suka jika melihat Ibunya menangis.
"Aku tidak bermaksud memisahkan kalian," ujar Janeta yang tidak bisa menekan Leon bagaimanapun dia adalah pewaris rumah ini.
"Ibumu saja yang salah menerima maksud kami."
"Ada apa ini?'' tanya Carl tiba-tiba.
"Hanya kesalahpahaman," ucap Janeta pada suaminya. Leon lalu maju ke depan kakeknya.
"Aku dan Ibu ingin kembali ke rumah kami. Jika kalian merasa rugi karena telah memberikan ginjal ini silahkan ambil lagi. Aku tidak apa-apa hidup tanpa ginjal dari pada dipisahkan dari Ibu," ucap Leon berani menatap Carl. Pria itu melihat Adry kecil dari dalam diri anak itu. Tegas dan pemberani.
Carl lalu menatap tajam semua orang yang ada di sini. Dia melihat wajah Raina yang memerah.
"Siapa yang memukul Raina?" tanya Carl dengan nada tinggi. Semua terdiam tidak bersuara.
"Aku, Ayah," ucap Adry tertekan.
"Kau memukul seorang Ibu di depan anaknya, kau sangat buruk! Dia adalah wanita yang melahirkan dan membesarkan anakmu dengan baik, dengan segala keterbatasannya. Sebesar apapun salahnya kau tidak berhak melakukan itu," ujar Carl.
__ADS_1
"Tetapi Sayang dia tidak bersalah dia hanya membelaku," ujar Janeta membela anak kesayangannya.
"Kau lihat Raina, Leon dan ayahnya itu sama mereka sama-sama tidak suka jika ibunya disakiti, mereka akan membela setengah mati. Namun apapun itu Adry tetap salah." Pria itu berusaha menjadi penengah dalam situasi ini.
Carl lalu menunduk dan menatap Leon.
"Katakan pada kakekmu ini apa yang kau inginkan?''
"Aku hanya ingin kembali ke rumah kami dimana aku bisa memakan makanan ibu, aku bisa bermain dan belajar bersama Ibu dan bisa melakukan semua bersamanya," ucap serak Leon sembari terisak.
"Kau akan mendapatkan apa keinginanmu?" ucap Carl.
"Tetapi Sayang!" Carl merentangkan tangannya ke depan wajah Janeta.
"Adry bawa mereka ke apartemen lama, mereka butuh ketenangan."
"Aku tidak mau bersama dengan Om itu, dia telah memukul Ibu," ucap Leon.
"Adry kau dengar dia telah memberikanmu hukuman berat. Tidak diakui oleh anak sendiri," Carl tertawa.
Adry mengalihkan pandangannya mengusap pelupuk matanya yang sempat basah. Dia lalu mendekat ke arah Raina. Menghela nafas dalam.
"Kesalahanku sangat besar, jika kau bersedia maafkan aku," ucapnya. Raina menganggukkan kepala. Adry lalu berjongkok di depan Leon.
"Sayang, maafkan Ayahmu ini, karena telah berbuat hal yang buruk pada ibumu."
Leon lalu berjalan ke arah Raina dan memeluknya. "Maafkan Ayahmu, Nak!'' Leon menengadah, menatap wajah ibunya.
"Tapi Ibu," Leon terlihat keberatan.
"Ibu tidak pernah mengajarimu untuk mendendam ataupun menyimpan kebencian pada siapapun. Apalagi dia ayahmu," kata Raina.
"Namun, dia telah memukul Ibu, aku tidak suka itu," ucap Leon. Adry menutup matanya. Menahan rasa sakit di dada.
"Leon...," ucap Raina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
***
Kalau mau aku up tiga bab lagi besok beri vote kalian untuk novel ini, dan jangan lupa tinggalkan jejak biar othornya semangat nulis.