
"Tapi kau tidak harus membohongiku, aku kecewa Nita," ungkap Adry. Dia lalu duduk di sofa sedikit jauh dari Nita yang berada di tempat tidur. Dia nampak sedang memikirkan sesuatu sembari menundukkan wajahnya. Tangannya memegang pinggiran busa kursi dengan erat. Seperti sedang menahan kemarahannya.
Nita tidak pernah melihat Adry semarah ini kecuali ketika mereka dulu bertengkar hebat dan Adry meninggalkannya begitu saja. Memutuskan hubungan mereka. Nita merasa sangat takut.
"Kau tadi bilang jika Dokter Ryan tahu semuanya dan aku penasaran bagaimana ceritanya Raina yang kalian pilih?" tanya Adry.
Oh, jadi dia hanya peduli dengan Raina. Pikir Nita perih. Bukan dirinya? Hatinya hancur seketika.
"Dokter Ryan merekomendasikan banyak wanita tetapi setelah kuteliti latar belakangnya aku tidak menyukainya. Suatu hari, aku mendengar pembicaraan Raina dan Dokter Ryan. Mereka membicarakan masalah Leon dan kesulitan uang yang sedang dilandanya. Setelah itu, aku mencari tahu tentang wanita itu dari dokter Ryan. Pria itu awalnya menolak dengan mentah tetapi aku mencoba menerangkan jika aku dan Raina akan saling diuntungkan. Aku bisa memperoleh keturunan darimu dan Raina bisa menyelamatkan Leon. Lalu atas desakan dariku dia berbicara pada kita."
Suara tepuk tangan bergema. Dengan gerakan pelan dan tatapan mata tajam Adry di tujukan ke Nita.
"Kau pembohong ulung, aku tidak tahu jika kau akan melakukan hal itu," ungkap Adry sinis.
"Semua kulakukan demi kau, aku ingin kau punya keturunan asli tanpa harus berpisah darimu. Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu. Kau tahu jika kau adalah separuh nafasku. Tanpamu aku tidak bisa bertahan untuk hidup.
Adry menghembuskan nafas kasar. Dia mengadu kedua giginya dan bangkit meninggalkan Nita sendiri. Tidak ingin larut dalam emosi yang menjadi.
***
"Adry!" panggil ibunya ketika Adry terlihat hanya berdiam diri saja melamun.
"Coba kau lihat mobil siapa yang datang!" perintah Ibu Adry.
Adry langsung melihat ke depan dengan penuh semangat dan harapan itu hilang seketika ketika melihat mobil sedan berwarna putih yang masuk ke dalam halaman mansion keluarga Quandt. Adry menarik nafas panjang.
Sopir keluar dari mobil dan membukakan pintu bagi Nita. Wanita itu lantas turun dari mobil. Sebuah senyuman dia langsung tujukan ketika melihat Adry. Namun, kesedihan terlihat jelas dari matanya yang indah.
Nita berjalan dengan gerakan pelan dan anggun seperti biasanya. Dia memakai dress berwarna putih dengan belahan dada yang rendah. Terlihat menarik tetapi tidak bisa membuat hati Adry tertarik.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang," sapanya mencium pipi kanan kiri Adry. Adry terdiam tidak membalas atau menolaknya. Dia memang marah tetapi dia memahami alasan Nita melakukannya.
Nita lalu menyapa kedua orang tua Adry yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hai, Nita apa kabarmu?" tanya Tuan Carl. Dia bersikap seolah-olah semua biasa-biasa saja tidak ada masalah yang terjadi dengan pasangan itu.
"Baik, Ayah," jawab Nita. Dia lalu mencium pipi kanan kiri kedua mertuanya.
"Bu," sapa Nita menunduk. Ibu Adry memang orangnya kaku seperti Adry tidak bisa diajak bercanda. Hal itu pula yang membuat dia tertekan ketika Ibu Janet menyudutkannya soal cucu. Dia mengatakan akan menyuruh wanita untuk hamil anak Adry jika dia tidak segera kunjung memberikannya anak.
Harga diri Nita kala itu terasa jatuh, dia merasa rendah dan putus asa. Hanya Dokter Ryan dan Angel yang membuatnya bangkit untuk bisa menatap masa depan lagi.
"Kau terlihat cantik hari ini," ucap Janeta tanpa senyuman melihat Nita dari bawah hingga ke atas. "Tetapi kau memang selalu terlihat sempurna." Janeta menghela nafasnya seperti menahan sesuatu untuk dia ucapkan.
"Terima kasih atas pujiannya. Bu," balas Nita tersenyum.
Raina yang berada di dalam mobil mulai merasa lemas melihat sepasang paruh baya berdiri di belakang Adry. Rasa gugup dan gelisah melanda dirinya. Tangannya seketika berkeringat dingin.
"Itu Ayah, Bu," ucap Leon antusias. "Eh Tante Nita ada di sana juga."
Raina lalu melihat ke arah wanita di belakang wanita paruh baya yang tertutup bayangan.
"Nita juga ada di sini? Sebenarnya apa yang Adry rencanakan?" Wanita itu terlihat cantik. Apakah Adry akan mengambil Leon dan memilih Nita lalu membuangnya?
"Ayo," ajak Roy ketika melihat Raina hanya duduk terdiam tidak kunjung keluar dari mobil. Leon menyenggol tubuh ibunya, membuat Raina terhenyak.
Raina lalu keluar dari mobil terlebih dahulu baru setelahnya Leon. Belum juga dia melangkah maju kakinya yang menggunakan highless setinggi 15 cm tiba-tiba keselip dan hilang keseimbangan. Untung saja Roy memegang pinggangnya namun hal itu membuat wajah Adry memanas. Dia hanya mengepalkan tangan tanpa maju membantu Raina.
Carl dan Janeta saling berpandangan. Berbicara melalui kedua mata mereka. Nita sendiri hampir tertawa lepas dia mengatup kedua bibirnya rapat untuk menahan suara yang hampir keluar.
__ADS_1
"Hati-hati, Bu!" kata Leon memegang lengan ibunya dengan kedua tangannya yang kecil.
Raina menganggukkan kepalanya. Dia lalu berdiri tegak dan mencoba berjalan dengan anggun. Sepatu ini terlalu tinggi untuknya sehingga menyulitkannya untuk berjalan. Jika hanya lima atau tujuh centi saja dia sudah terbiasa.
Ketika Raina hendak mencapai latar, Adry mengulurkan tangan membantunya menaiki beberapa anak tangga serta menjaga keseimbangan wanita itu.
"Kau baik-baik saja?" bisik Adry. Raina menatap wajah Adry dan mengedipkan mata seolah menjawab 'Ya'.
"Ya, Tuhan, Adryan kecil, Yah," ucap Janeta takjub melihat Leon yang berdiri gagah di belakang Raina. Carl menganggukkan
Janeta lalu mendekat ke arah Leon dan berjongkok.
"Hallo, Sayang. Siapa namamu?" panggilnya. Carl berdiri di belakang Janeta memandang takjub pada Leon.
"Leon Arthur," jawabnya.
"Wow, nama yang bagus harapan yang besar pasti diberikan saat memberi nama itu."
"Ya, ibuku ingin agar aku sekuat singa dan sejaya Raja Arthur," Leon menoleh ke arah ibunya.
Carl dan Janeta melihat ke arah Raina. Wanita itu tersenyum canggung dan gugup.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya," sapa Raina dengan bahasa Inggris yang kaku.
"Selamat malam, namaku Carl Quandt, ayah dari Adry." Carl mengulurkan tangannya. Raina lalu mencium punggung tangan pria itu membuat mata Janeta membelalak besar. Nita menahan tawa untuk kedua kalinya. Adry memegang bahu Raina dan menggelengkan kepalanya membuat wanita itu terlihat bingung dan bodoh.
"Maaf Yah, kalau negara Indonesia mencium tangan sebagai bentuk penghormatan pada orang yang disegani atau orang yang lebih tua," terang Adry.
Carl menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan, Janeta mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1