
Adry lalu membawa Raina pulang. Pria itu tidak mengatakan apapun mengenai persetujuan dokter untuk kelahiran Raina secara normal walau dengan beberapa catatan penting.
Raina berpikir dia akan dikurung oleh Adry di dalam kamarnya selama beberapa hari. Harus menaikkan kakinya ke atas setelah mereka masuk ke dalam unit apartemen. Namun, hal berbeda dikatakan oleh Adry.
"Kau boleh berjalan-jalan sedikit hanya jangan sampai kelelahan. Tidak berdiri untuk waktu yang lama sampai kau menjalani persalinan yang tinggal menunggu hari. Hmm aku seperti ingin waktu itu berlangsung lama lagi. Aku menyukai kondisimu yang sedang mengandung ini."
Ariana melebarkan matanya. Dia gemuk dan tidak berbentuk tetapi Adry selalu mengatakan jika dirinya sangat cantik dan seksi. Tubuhnya juga padat sehingga terasa hangat ketika dipeluk. Entah itu hanya sebuah basa basi belaka atau pria itu memang mengatakan jujur tentangnya. Apapun itu perkataan Adry selalu bisa membuat pipinya merona merah.
"Kau dengarkan apa yang dokter katakan tadi jika kau bisa melakukan apapun tetapi jika ada sesuatu yang aneh dan terasa tidak biasa kita harus waspada. Kita juga harus lebih berhati-hati dengan semuanya agar tidak terjadi masalah yang serius dengan kehamilanmu."
Raina merasa terharu atas ucapan tulus Adry. Matanya merebak dan mendekat ke arah Adry lalu mengecup bibirnya kilat. Dia menghembuskan nafas keras agar dadanya lega lalu tersenyum bersemangat.
Adry mengusap rambut Raina lembut. "Aku sudah memesan baju untukmu agar dikirimkan kemari. Kau bisa mengatakan apa yang kau butuhkan agar asistenku bisa membelikan barang kebutuhanmu."
"Barang kebutuhan?" Wajah Raina terlihat panik. "Kita harus ke toko perlengkapan bayi untuk membeli barang kebutuhan bayi kita nantinya. Oh , aku ibu yang buruk melupakan kebutuhannya. Aku bahkan belum mempunyai popok atau selendang untuk membedong bayi kita setelah lahir."
"Tenang Raina kau belum akan melahirkan hari ini. Kita bisa memesan barang sesuai dengan keinginanmu melalui aplikasi. Atau kau mau menyerahkan ini semua pada asistenku?"
"Akan lebih menyenangkan kita berbelanja sendiri."
"Kau tidak boleh terlalu banyak berdiri dan berjalan."
"Kita bisa menggunakan kursi roda," juta Raina keras kepala.
"Okey, kita akan membeli beberapa barang sesuai keinginanmu, seperti baju yang ingin kau beli untuknya. Lainnya biar itu kita pesan lewat aplikasi saja."
__ADS_1
Adry tahu benar dengan wanita. Mereka tidak akan merasa puas jika tidak berbelanja sendiri. Dia lalu menuntun Raina duduk di sofa dan mengangkat kaki wanita itu agar lurus lalu mengganjalnya dengan bantal.
"Ingat tetapi hanya beberapa barang saja tidak banyak. Aku tidak mau melihat kau kelelahan."
"Adakah wanita yang merasa kelelahan ketika berbelanja? Rasanya tidak ada. Mereka akan tetap bersemangat walau harus mengelilingi seluruh isi mall selama seharian penuh."
"Aku paling tahu itu," kata Adry. Raina menyipitkan matanya menatap pria itu.
"Apakah aku salah bicara? Beberapa wanita memang terlihat gila belanja."
"Ya, Nita contohnya. Apakah kau sering mengajaknya berbelanja?"
"Dia sudah mahir melakukannya tanpa harus kutemani."
"Berarti itu artinya aku tidak mengerti tentang belanja dan barang bagus, begitu maksudmu?" Adry menghela nafasnya mendengar tanggapan Raina yang negatif. Itulah wanita selalu sensitif. Niat hati tidak ingin membicarakan masalah Nita tetapi pada akhirnya merembet kesana dan membuat masalah baru.
Pria itu berjalan ke dapur mengambil segelas air dari galon dan meneguknya sekali. Dia lalu mengambil handphone di tangan dan memesan beberapa pesan yang masuk. Dahinya mulai berkerut ketika membaca pesan dari Sersan Andika. Dia lalu membalas dengan mengatakan akan menemuinya setelah dia dapat kesempatan.
Beberapa pesan dari ibunya dan Nita hanya dia baca tanpa membalasnya.
Adry memasukkan kembali handphone itu ke saku depan. Mengambil jus jeruk dari kotak minuman di lemari pendingin menuangkannya ke dalam gelas dan membawanya ke sofa dimana Raina sedang duduk dengan ponsel jadul miliknya.
"Kau lihat ada banyak sekali yang harus kita beli," pekik Raina ketika melihat Adry. Dia memperlihatkan beberapa gambar perlengkapan bayi lengkap.
Adry memberikan jus itu pada istrinya lalu mengangkat kaki Raina untuk diletakkan diatas pangkuannya. Dia melihat handphone Raina bukannya menatap ke arah gambar yang Raina tunjuk.
__ADS_1
"Aku sampai tidak tahu kau punya barang sejelek ini," kata Adry. Raina tersedak ketika mendengarnya. Adry lalu melempar handphone itu ke arah kotak sampah. Raina membuka mulutnya lebar tidak percaya dengan apa yang Adry lakukan.
"Kau ...!" tunjuk Raina dengan muka merah padam.
"Aku akan membelikan yang model terbaru untukmu, hari ini juga!"
"Bukan masalah membelikan lagi tapi ini yang kedua kalinya kau membuang handphoneku. Lagi pula dulu kau berjanji membelikanku sebuah handphone tetapi sampai terakhir bersama kau tidak membelikannya. Roy malah yang perhatian dan memberikan hal itu padaku. Kau itu sangat pelit dan tidak berperasaan."
Wajah Adry merah gelap. Dia mengeratkan kepalan tangan agar tidak melampiaskan kemarahannya pada Raina. Menghela nafas panjang berkali-kali. Menatap wajah lugu wanita itu.
"Okey, jadi Roy lebih tahu apa yang kau butuhkan dari pada aku?"
"Bukan begitu maksudku," Raina menggigit lidahnya sendiri. Merasa bersalah telah mengeluarkan kalimat itu. Namun, itu isi hati yang dia pendam selama ini jika Roy lebih tahu tentang perasaannya daripada Adry sendiri.
"Aku pelit?" tanya Adry geli dan jijik dengan kata itu. Baru kali ini ada orang yang mengatakan dia pelit dan itu istrinya pula.
"Apa yang tidak kuberikan padamu, Raina? Handphone itu? Aku tidak membelikannya bukan karena aku 'pelit' tetapi itu tidak berguna untukmu saat di Jerman. Kau tidak punya kerabat atau teman yang bisa kau hubungi di sana. Lagi pula aku tidak ingin kau berhubungan dengan Jo pada saat itu. Kau tahu aku sangat tidak menyukainya!"
"Jadi saat itu kau cemburu?" tanya Raina yang bahagia mendengar pengakuan Adry.
"Ya, dan aku egois karena tidak ingin membagimu dengan siapapun, kecuali Leon. Aku hanya ingin kau di rumah memikirkanmu bukan orang lain. Intinya hidup dan duniamu hanya berkisar tentangku. Selain itu, aku tidak ingin kau mendengar berita di luaran sana tentang kita. Dan hal terpentingnya adalah aku tidak ingin kau mendapat tekanan dari keluargaku atau dari pihak luar manapun."
Raina menatap ke dalam mata hijau itu. Merasa tersentuh dengan penjelasan Adry.
"Aku hanya ingin melindungimu sampai kau siap untuk keluar dan bertemu dengan banyak orang."
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku karena selalu berpikir buruk tentangmu," sesal Raina.