Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tidak Berhak!


__ADS_3

Roy kembali ke rumahnya dalam keadaan kesal setengah mati. Selama ini tidak pernah ada yang mempermainkan dirinya seperti ini. Tidak Nita dan Karina. Nita jujur dengan keinginannya dan Karina adalah istri yang sempurna yang dia miliki.


Hana? Bagaimana bisa dia hamil? Bukankah dia sudah diperiksa dan dia tidak hamil sama sekali. Jika itu bukan anaknya mengapa semua orang mengatakan bahwa kami itu mirip? Apakah Bagas memang mirip dengannya? Roy melihat tampilan dirinya di spion mobil.


Roy tidak bisa menilai penampilannya sendiri. Dia lalu menghela nafas. Keluar dari mobil dengan kepala tertunduk dan bahu yang turun.


Separuh hatinya sangat berharap jika Ayu dan Bagus itu anaknya. Untuk mengisi kehidupannya yang suram dan sepi. Tawa mereka mungkin akan menghiasi rumahnya yang terasa seperti tempat pemakaman.


"Om," panggil Leon menyentak dirinya. Roy menoleh. Sesaat pikirannya hilang dan pergi. Detik kemudian dia baru sadar jika hari ini keponakan tersayangnya datang. Masalah Hana ini benar-benar membuat hati dan pikirannya kacau.


"Leon, kapan kamu sampai. Maaf jika Om tidak menjemputmu. Ibumu mengatakan jika kau tidak usah dijemput." Roy mendekat ke arah Leon dan memeluknya.


"Ya, aku memang tidak ingin dijemput karena aku ingin keliling kota ini terlebih dahulu. Aku sangat rindu dengan Jakarta dan rumah kami yang dulu."


"Jadi kau pergi ke rumah lamamu?" tanya Roy.


Leon mengangguk. "Apakah rumah itu sudah dijual karena ada penghuni baru di sana?"


"Om tidak faham mengenai masalah itu, kau bisa tanyakannya pada Ayah atau Ibumu?"


Leon menghela nafas dalam. "Om kenapa pulang larut? Kata Hyun tadi, Om sudah pulang dari tadi?"


"Hyun sudah kemari?"


Leon mengangguk. "Tadi dia membawa tumpukan berkas yang harus Om tanda tangani."


Mereka lalu berbicara banyak. Setelahnya Roy membersihkan diri dan menghadapi tumpukan pekerjaannya di ruang kerja. Dia berkerja hingga lupa waktu dan istirahat.


Pagi hari ketika dia akan melahap makan paginya, dia teringat akan Ayu dan Bagus yang mungkin tidak sarapan pagi. Atau mungkin sarapan hanya dengan kecap saja.


"Buatkan sarapan pagi yang enak hari ini. Nasi goreng spesial, susu dan roti. Masukkan dalam. bekal makanan. Buatkan untuk tiga orang," perintah Roy pada pelayannya.


"Memang untuk siapa Om?" tanya Leon yang baru saja turun ke bawah.


"Untuk teman kecilku di pinggir jalan," ujar Roy enggan untuk berbicara lebih banyak.


"Aku kira untuk teman wanita Om, jika iya Ibu dan Ayah akan sangat senang mendengarnya."


"Aku tidak pernah memikirkan wanita," ujar Roy.

__ADS_1


"Wah... kalau Om tidak mau menikah nanti keduluan aku, Om akan jadi duda lapuk," ujar Leon menggigit buah apel yang baru diambilnya.


"Hidup tanpa wanita itu tenang," ungkap Roy.


"Saking tenangnya hingga rumah terasa sunyi seperti pekuburan. Ayolah Om, cari wanita cantik dan nikahi dia. Buat hidup Om ceria dan berbunga. Wanita itu semangat hidup."


"Kau belum tahu kejamnya hidup Leon. Tidak tahu bagaimana hidup mempermainkanmu hingga kau tidak ingin punya apa-apa lagi. Kenapa? karena ketika kau merasa memiliki sesuatu, kau tidak ingin kehilangannya."


Leon terdiam tahu bagaimana cerita Roy yang kehilangan istri yang baru dia nikahi. Namun, Leon tidak tahu jika Nita juga pernah jadi bagian hidup Roy.


Roy mengganti pakaiannya dengan baju santai walau masih terlihat rapi dan resmi. Dia memakai celana kain dan kemeja hitam. Pelayan sudah membawakan semua yang dia inginkan. Dia menguras isi dapurnya untuk dibawa ke rumah Ayu dan Bagus. Gila memang tapi dia tidak tega membayangkan kedua anak itu kelaparan karena tidak punya makanan.


Dia mengendarai mobil nya menuju ke rumah Ayu dan Bagus. Diperlukan waktu satu jam lebih untuk sampai ke daerah yang dituju. Di tengah jalan dia melihat Hana sedang menunggu angkutan umum di depan sebuah pasar.


Roy lalu menghentikan kendaraannya di depan wanita itu. Hana menyingkir mencari tempat yang lain. Namun, Roy mengikuti dengan membuka kaca mobil samping. Dia mulai meng klakson Hana.


Hana yang sedang bingung lalu dibuat terkejut dengan kehadiran Roy di depan matanya. Dia lalu membuang muka.


"Ayo naik, aku antarkan pulang," ajak Roy.


"Tidak usah, aku bisa sendiri."


"Sudah ku katakan jangan lagi datang!" ucap Hana tanpa mau melihat ke arah Roy.


Roy akhirnya keluar dari mobil mengabaikan suara klakson dari belakang mobilnya yang menginginkan dia untuk cepat jalan.


"Mas... ini jalan umum dilarang berhenti sembarangan!" teriak salah seorang pengemudi.


"Ini darurat, istriku sedang marah dan akun harus membujuknya pulang," ujar Roy cuek dan dingin mendekat ke arah Hana.


Hana membuka mulutnya, wajahnya merah padam ketika mendengar ucapan pria itu. Dia ingin menentang tetapi semua pengemudi di belakang Roy berteriak agar dia masuk ke mobil.


"Ayo masuk!" Roy memeluk bahu Hana.


"Mbak cepat, jika tidak anak saya terlambat sekolahnya!" teriak salah seorang pengemudi.


"Mba kalau merajuk di kamar saja biar tidak membuat macet!" seru pengemudi yang lain. Akhirnya, Hana masuk ke dalam mobil Roy dengan dongkol.


"Terimakasih," teriak Roy pada orang sekitar, sebelum masuk ke ruang kemudi.

__ADS_1


"Licik!" ucap Hana ketika Roy mulai mengemudi kan kendaraannya.


"Aku belajar dari bisnis jika ingin menang harus menggunakan semua cara."


"Hidup jauh berbeda dari bisnis. Jika bisnis itu soal uang tidak punya hati sedangkan hidup harus memakai hati."


"Hatiku telah lama mati," celetuk Roy. Membuat Hana menatap dirinya.


"Aku harus ke toko di jalan sana untuk membeli bahan plastik."


"Berapa uang yang kau dapat sehari ketika berjualan?"


"Untuk apa kau tanyakan itu."


"Jawab saja!" terdengar nada perintah dari sana.


"Dua ratus itu dengan modal."


"Kalau begitu aku akan membayar mu sekian agar hari ini kau cukup menemani Bagus saja di rumah. Dia masih sakit."


"Tidak bisa seperti itu. Aku tidak butuh belas kasihmu!"


"Ini bukan soal belas kasihan tetapi ini tentang kepedulianku pada anakmu. Dia terluka karena mobilku jadi aku bertanggung jawab hingga dia sembuh."


Hana terdiam, sangat sulit untuk mematahkan kata-kata Roy. Hana meremas tangannya sendiri. Dia nampak tidak nyaman di dekat Roy.


"Apa Bagus demam lagi semalam?" tanya Roy.


"Sedikit panas tetapi langsung turun setelah meminum obat yang diberikanmu."


"Syukurlah jika begitu."


"Ayu? Dia sekolah?"


"Dia menunggu Bagus di rumah."


"Ck... kau mengorbankan masa depan anakmu hanya demi selembar uang. Seharusnya kau membiarkan dia sekolah dan kau sendiri yang menunggui anakmu," tanggap Roy.


"Memang siapa kau? Beraninya kau mengatakan hal itu padaku. Kau baru datang ke rumahku kemarin, lalu kau seolah mengatakan jika aku ibu yang buruk untuk anakku! Kau tidak berhak mengatakan itu!" tegas Hana.

__ADS_1


__ADS_2