Saat Suamiku Lebih Memilih Temanku

Saat Suamiku Lebih Memilih Temanku
Karma (2)


__ADS_3

Ditya keluar dari ruangan Dokter.dan dengan langkah gontai Dia berjalan menyusul Wati yang tengah berbaring lemas di ruang perawatan itu .


" Ditya ,Apa yang terjadi Wati kenapa mukamu lesu sekali Le ?" Tanya Bu Ratih saat melihat Ditya berjalan menuju kamar Wati


" Ma , Pa ." Jawab Ditya


Dan tak berkata apa apa lagi Ditya langsung memeluk Sang Mama erat erat dan menangis di pelukan Sang Mama


" Kenapa Kamu Dit , Apa yang terjadi ?" Tanya Bu Ratih kaget


" Iya bukannya dijawab kok malah nangis bikin Orang Tua bingung saja cepat katakan ada apa ." Sahut Pak Sugeng sedikit gusar.


" Ditya kehilangan calon anak Kami Pa ." Jawab Ditya dengan terbata bata .


" Apaaaaaa , apa maksudmu Ditya Winata ?" Giliran Bu Ratih yang bertanya dengan sedikit berteriak .


" Wati keguguran Ma bayi yang di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan akibat pendarahan hebat tadi siang dan juga Dokter memberitahu Ditya kalau rahim milik Wati harus segera dilakukan operasi pengangkatan sebab ada benjolan yang dicurigai adalah tumor ." Jawab Ditya sembari menghapus air matanya .


" Kenapa bisa terjadi pendarahan kan setau Mama Wati itu tidak kerja , lalu dimana sekarang Dia dirawat ?" Tanya Bu Ratih


Ditya kemudian mengajak kedua Orang Tuanya menuju kamar tempat Wati di rawat , Dan ssampainya dikamar tersebut Bu Ratih dan Pak Sugeng berjalan memdekat kearah Wati dan Mereka pun kompak menatap Wati yang masih terbaring lemas dengan tatapan sesikit iba .


Tak berselang lama Wati pun bangun dari pingsannya , Dia menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung dan secara refleks Wati meraba perutnya yang tadi sakit luar biasa itu .


"Pa ,Ma ,Mas Ditya apa yang terjadi kenapa Wati bisa di sini ?" Tanya Wati bingung


Pak Sugeng dan Bu Ratih lebih memilih untuk diam dan enggan menatap wajah Wati yang masih pucat itu sebab tidak tega , Sementara Ditya berjalan mendekat kearah Wati lalu membantunya untuk suduk bersandar diatas tumpukan bantal dan memeluk erat tubuh Wati sembari meneteskan air mata .


Wati kaget bercampur heran kenapa Ditya memeliknya erat erat dan menangis pilu , dan Wati pun membalas pelukan Sang Suami siri nya itu tanpa sedikit curiga hingga akhirnya Dia pun tersadar saat merasakan tangisan Ditya itu tidak lah wajar dan pasti terjadi apa apa .


" Mas kenapa Kamu menangis sebenarnya ada apa ?" Tanya Wati dengan suara lirih

__ADS_1


" Dek Kita harus ikhlas dengan ujian ini ." Jawab Ditya seraya melepaskan pelukannya itu


" Ikhlas kenapa Mas , dan ujian apa yang Kamu maksud itu tolong cepat katakan saja ." Balas Wati penasaran .


" Calon anak Kita Dek ." Ucap Ditya tanpa meneruskan perkataan selanjutnya Ditya memilih untuk kembali memeluk tubuh Sang Istri siri dengan erat erat serta kembali menangis .


" Iya anak Kita kenapa Mas , Bukankah Dia baik saja saja di sini ?" Tanya Wati seraya mengelus perutnya


" Kita kehilangan bayi di dalam kandunganMu itu ,Dia sudah gugur akibat pendarahan yang Kamu alami tadi siang ." Jawab Ditya


" Nggak itu nggak mungkin Mas , Kamu pasti bohong ya kan Pa Ma ." Ucap Wati dengan nada emosi sembari menatap kedua Mertuanya yang masih tetap acuh itu


" Aku tidak bohong Dek , Barusan dokter meminta Aku keruangannya dan Beliau menjelaskan kalau Kamu sudah keguguran dan juga Dokter memberitahu Aku kalau rahim Mu harus diangkat sebab mengalami kerusakan akibat pendarahan dan juga ada benjolan di dalam nya yang diduga adalah sel tumor ." Kata Ditya menjelaskan pada Wati


Wati menangis histeris manakala mendengarkan penjelasan Ditya barusan , Dia tidak terima dengan kenyataan bahwa bayi didalam kandungannya itu sudah tidak ada lagi , Dia menangis histeris seraya menjambak jambak rambutnya sendiri hingga membuat semua yang ada di ruangan tersebut menjadi prihatin tak terkecuali Pak Sugeng dan Bu Ratih .


" Kita harus ikhlas menerima cobaan ini Dek ." Ucap Ditya seraya memeluk Wati yang masih terguncang emosinya itu .


" Semua ini salah Tyas Mas , Dia harus membalasnya." Balas Wati dengan nada emosi seraya mengusap air matanya


Wati diam seribu bahasa tak berani menjawab pertanyaan Pak sugeng barusan , Sementara Ditya juga bingung dengan ucapan Wati barusan sebenarnya apa yang terjadi pada Mereka sebelum pendarahan itu terjadi .


" Jawab Wat apa yang terajdi sebenarnya kenapa Kamu tiba tiba memyalahkan Tyas ." Balas Ditya


Antara menjawab atau tidak pertanyaan barusan Wati menjadi bingung sendiri hingga akhirnya Dia pun mengumpulkan segenap keberaniaan nya untuk jujur berterus terang tentang apa yang terjadi sebelum pendarahan tersebut .


Kemudian Wati pun menceritakan semuanya termasuk saat dirinya menemui Tyas di ruko tempat usahanya itu juga perdebatan antara Mereka berdua hingga akhirnya Dia pun pulang kerumah dan merasakan perutnya sakit luar biasa tersebut .


" Untuk apa Kamu menemui Dia , bukankah Aku sudah melarang Kamu untuk menemuinya ?" Tanya Ditya dengan sesikit emosi


" Aku hanya meminta Dia untuk tidak lagi hadir dan menjadi bayang bayang dalam anganMu Mas , Aku ingin Kita bisa bahagia tanpa bayangan Nya saja ." Jawab Wati

__ADS_1


" Tindakan Mu itu tidak masuk akal dan sekarang lihat lah Kita kehilangan bayi Kita gara gara emosi Mu itu ." Balas Ditya


" Nggak Mas , bayi ini gugur gara gara Tyas , Dia yang menyebabkan Aku keguguran ." Sahut Wati penuh emosi


Pak Sugeng dan Bu Ratih pun sontak kompakenoleh kearah Wati dan Ditya , Mereka menatap Wati dengan tatapan marah .


" Stop menyalahkan Orang lain atas musibah yang Kamu alami sekarang ini ." Ucap Pak Sugeng emosi


" Seharusnya Kamu bisa memaknai musibah ini sebagai teguran atas kesalahanMu kemarin , jadikan semua ini sebagai bahan evalusi diri sendiri atas kesalah kesalahan yang telah Kamu perbuat dulu dan meskipun sangat menyakitkan terima lah dengan ikhlas cobaan ini bukannya malah menyalahkan Tyas yang sudah sangat jelas tidak ada hubungannya dengan musibah ini ." Ujar Bu Ratih menasehati Wati .


"Dan Kamu Ditya Winata Mama dan Papa tak pernah mengajari Mu menjadi seorang laki laki yang plin plan seperti ini ,Dia hamil anakMu tetapi Kamu bukannya memberikan perhatian lebih malah sibuk menyesali per pisahanMu dengan Orang yang jelas jelas sudah Kamu hancurkan hatinya dan Kamu tolak cintanya itu ." Lanjut Bu Ratih seraya menatap wajah Sang Putra serius


" Ini adalah karma untuk Kalian berdua atas kebohongan yang Kalian sembunyikan dibelakang Tyas dulu ,jadi Kalian harus terima dengan lapang dada dan ikhlas ." Sahut Pak Sugeng dengan nada lirih namun tegas itu


Wati hanya bisa mendengarkan nasehat kedua Mertuanya itu tanpa berani membantahnya , Dia mulai berpikir dan membenarkan semua perkataan kedua Mertuanya tersebut mungkin ini adalah karma untuknya atas keegoisannya merebut kebahagiaan milik sahabatnya itu .


Pak Sugeng dan Bu Ratih pun beranjak keluar ruangan , Sementara Ditya masih setia di samping Wati .


" Mas apakah setelah Aku keguguran ini Kamu akan segera meninggalkan Aku, juga apakah rahim Ku harus diangkat tidak bisakah diobati saja agar Aku tidak kehilangan rahim ?" Tanya Wati dengan suara memelasnya .


Ditya menjadi tidak tega mendengar pertanyaan dari Wati barusan , Jika dulu Dia berniat untuk menceraikan Wati setelah anak itu lahir namun nyatanya sekarang berbeda Ditya sungguh tidak tega meninggalkan Wati .


" Kamu jangan berpikir macam macam dulu , sekarang Kamu istirahat dulu agar kesehataanMu segera pulih ." Jawab Ditya tegas .


Wati yang memang sangat mencintai Ditya itupun menuruti perintah Ditya untuk istirahat saja tanpa banyak bertanya .


Saat Wati sudah istirahat dengan tenang , Ditya beranjak keluar ruangan dan Dia pun berniat menemui Dokter diruangannya untuk menanyakan tentang kemungkinan opsi lain selain operasi .


Dokter pun memberitahu Ditya kalau operasi adalah tindakan yang tepat namun Dokter juga memberi opsi lain yakni pengobatan jalan yang rutin namun harus menunggu hasil pemeriksaan besok apakaah benjolan itu tumor atau miom .


Ditya pun berterima kasih kepada Dokter atas penjelasannya yang sedikit banyak masih memberinya harapan itu dan Dia pun segera kembali ke kamar tempat Wati dirawat untuk memberitahunya tentang opsi penyembuhan lewat pengobatan tersebut .

__ADS_1


Wati sedikit tenang mendengarkan penjelasan Ditya itu , meskipun kini Dirinya berduka karena kehilangan calon bayi dalam kandungannya namun seenggaknya Dia masih memiliki rahim dan itu artinya Dia masih punya kesempatan untuk hamil kembali .


Setelah menjelaskan cukup gamblang kepada Wati , Ditya pun pamit keluar sebentar untuk membeli makanan dan minuman karena dirinya merasa lapar sebab dari siang tadi hingga malam ini belum ada sepotong pun makanan yang masuk kedalam perutnya .


__ADS_2