
Mereka telah sampai di rumah sakit ,Ditya segera membopong tubuh Wati yang terkulai lemas itu lalu membaringkannya di ranjang rumah sakit dan segera ditangani oleh dokter
Ditya terlihat sangat panik dan sangat kawatir takut terjadi apa apa pada diri Wati terutama pada kandungannya itu , Sementara Pak Sugeng dan Bu Ratih terlihat biasa biasa saja bahkan masih menunjukan raut raut kecewa bercampur kesal .
Hingga Dokter pun keluar dari kamar pemeriksaan dan memberitahu Mereka bertiga kalau keadaan Wati hanya stres dan terlalu lama di air hingga menyebabkan dirinya pingsan dan mengenai kandungannya baik baik saja hanya saja Dokter berpesan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali takutnya bisa berakibat fatal pada calon bayi yang ada di kandungannya dan pasien boleh dibawa pulang .
"Tu kan Mama bilang juga apa Dia hanya pingsan biasa lagian ngapain Kamu berguyur lama dibawah air shower seperti itu sungguh merepotkan saja ."Ucap Bu Ratih saat Mereka telah sampai di apartement .
" Ma tolong jangan bicara seperti itu pada Wati , Dia tengah mengandung calon cucu Mu Ma ." Balas Ditya
Sementara Wati hanya menunduk dengan mata berkaca kaca sungguh Dia menyesali semua kenyataan ini , Andaikan saja dulu Dia tidak memaksa Ditya untuk menikahinya secara siri lalu segera hamil agar dapat direstui oleh Orang Tua nya Ditya mungkin saja kepedihan hati dan kehancuran persahabatnya dengan Tyas tidak akan terjadi .
Wati menyesali betapa bodohnya dirinya yang terpedaya oleh nafsu dan dibutakan oleh kata cinta itu hingga rela menjadi madu dari sahabat karibnya hingga menyebabkan kehancuran rumah tangga sahabat karibnya itu , Dan kini Dia seakan tengah menuai karma itu sedikit demi sedikit dimulai dari kemarahan kedua Orang Tua Ditya berikut penolakannya dan restu yang Dia hayalkan dulu itu pun jauh dari gapaian tangannya .
" Sudah sampai mana sidang perceraian Mu dengan Tyas Dit ?" Tanya Pak Sugeng dengan nada datar .
Dan perkataan Pak Sugeng barusan lah yang membuyarkan lamunan penyesalan Wati .
"Aku tidak tau Pa karena kemarin Aku sengaja tidak mau hadir di persidangan itu ." Jawab Ditya jujur
"Kenapa Kamu tidak hadir di persidangan itu , Bukankah ini yang Kamu harapkan Kalian berpisah lalu Kamu bisa hidup bersama Dia ?"Tanya Bu Ratih sembari menoleh kearah Wati yang tengah duduk.di samping Ditya .
__ADS_1
"Ma Dia punya nama tolong panggil Dia sesuai namanya Wati jangan hanya Dia Dia saja ." Sahut Ditya membela Wati
"Tidak penting bagi Mama Dit ." Jawab Bu Ratih ketus
" Maaa ." Ucap Ditya
" Sudah Mas nggak papa ." Sahut Wati seraya menggenggam erat tangan Ditya .
Hal itu pun membuat Pak Sugeng dan Bu Ratih semakin emosi .
" Ditya dulu Papa kerja mati matian cari uang untuk menyekolahkan Kamu agar menjadi manusia yang berpendidikan dan MamaMu selalu mengajariMu tentang kebaikan juga tanggung jawab Papa dan Mama selalu mendidikMu dengan baik dan penuh kasih sayang berharap Kamu jadi orang yang baik dan sholeh namun nyatanya apa Kamu melempar kotoran ke muka Papa dan Mama mu dengan kejadian ini ." Ucap Pak Sugeng sembari menatap Ditya dengan tatapan itimidasi .
" Sekarang apa yang akan Kamu lakukan di hadapan orang tua Tyas dan juga dimana Kami harus menyembunyikan Muka ini ,Keluarga Mereka itu sudah berjasa banyak Dit pada keluarga Kita lalu Kamu menghancurkan semua ini dengan tindakan bodoh Mu ini ." Lanjut Pak Sugeng .
" Tyas itu wanita baik baik dan juga dari keluarga baik baik yang Kami pilihkan untukMu , Dia gadis yang manis penuh tanggung jawab , sopan dan penuh kasih sayang Mama sangat menyayangi Dia spenuh hati namun Kamu dengan kebodohanMu itu malah menukarnya dengan Wanita yang Mama dan Papa tidak tau dari mana asal usulnya ." Sahut Bu Ratih .
" Perceraian Mu dengan Tyas itu Papa dan Mama sungguh tidak bisa menerimanya Dit ." Ucap Pak Sugeng lirih dan terlihat Beliau menitikkan air mata dipipinya .
" Pa, Ma tolong ijinkan Wati bicara sebentar ." Ucap Wati memberanikan diri meminta ijin kepada Pak Sugeng dan Bu Ratih untuk bicara
Pak Sugeng dan Bu Ratih menoleh kearah Wati dan tanpa menjawab sepatah katapun atas perkataan Wati barusan .
__ADS_1
" Pa , Ma tolong maaf kan Kami atas semua ini dan Kami sudah sepakat akan bercerai setelah anak ini lahir , Perceraian Mas Ditya dan Tyas itu tidak akan terjadi Pa Ma biar Aku dan anak ini yang pergi dari kehidupan Mas Ditya Aku merelakan Mas Ditya hidup bahagia kembali dengan Sahabat Ku Tyas ." Ujar Wati yang berusaha tegar menyampaikan keputusannya itu dan berharap agar kemarahan kedua orang tuanya Ditya itu mereda .
"Apa maksudMu dengan kata Sahabat itu ?" Tanya Bu Ratih penasaran .
"Ya Tyas adalah sahabatKu dan Aku mengetahuinya setelah Kami menikah ."Jawab Wati
"Jika Kamu tau Tyas adalah sahabatMu dan Ditya adalah Suaminya SahabatMu lalu kenapa Kamu tetap melanjutkan pernikahan siri Kalian hingga Kamu hamil , dan juga kenapa Kamu rela menghancurkan persahabatan Mu dengan Tyas hanya demi cinta dan nafsu saja dimana hati nuraniMu kenapa Kamu tega pada MenantuKu ?" Tanya Pak Sugeng dengan nada datar namun mampu membungkam Wati dan juga Ditya hingga Mereka berdua pun tak mampu menjawabnya .
" Kenapa Kamu diam seribu bahasa begitu ,dan tidak menjawab pertanyaanKu barusan apa Kamu pikir ucapanMu barusan bisa Kami percaya dan jawabannya tidak ." Lanjut Pak Sugeng .
" Sekarang juga Aku akan menelpon kedua Orang Tuanya Tyas dan menyuruhnya untuk membawa kedua Orang Tua Mu kesini supaya Mereka tau kelakuan anak gadisnya itu ." Lanjut Pak Sugeng tegas .
"Pa tolong jangan lakukan itu Mereka tidak tau tentang semua ini Pa ,Ditya mohon jangan memberitahu Mereka Pa ." Kata Ditya memohon agar Sang Papa tidak menghubungi Orang Tuanya Tyas dan juga Orang Tua nya Wati
Sementara itu Wati hanya diam dan pasrah mendengarkan perkataan demi perkataan dari Mertuanya itu .
" Diam Kamu Ditya jangan banyak bicara , Kemarahan Papa ini bukan tanpa sebab dan semua karena kesalahan Mu dan juga Dia hingga membuat semuanya hancur berantakan jadi sekarang Kalian harus bertanggung jawab ." Bentak Pak Sugeng yang emosinya kembali tersulut itu .
Pak Sugeng segera menghubungi Pak Samsul Ayahandanya Tyas , Beliau memberitahu Besan nya untuk ke Jakarta juga meminta kepada Pak Samsul untuk mengajak kedua Orang Tuanya Wati untuk ikut ke Jakarta besok pagi .
Wati merasakan ketakutan yang luar biasa , Dia tidak bisa membayangkan betapa marah dan murkanya kedua Orang Tuanya besok dan juga wajah kecewa kedua Orang Tuanya Tyas .
__ADS_1