
" Yas, Ibuk boleh tidak masuk Nduk? " Tanya Ibuk Seraya mengetuk pintu kamar tidur Sang Putri itu.
Tyas yang semula asik melamun sembari menatap foto wajah Naka di ponsel nya itu pun terjenggit kaget, Dia segera menyimpan ponsel di nakas samping kasur dan beranjak dari tempat tidurnya dengan berpura pura tengah merapikan baju bajunya di dalam koper.
" Iyya Buk silahkan masuk." Balas Tyas pura pura sibuk memasukan baju bajunya ke dalam lemari
" Lo katanya tadi ngantuk kok malah sibuk nata baju." Ucap Ibuk seraya berjalan mendekati Tyas.
" Iya Buk sebenarnya Tyas sudah ngantuk tapi mau masukin baju dulu ke dalam lemari setelah selesai barulah Tyas tidur." Jawab Tyas.
Bu Rukmi terlihat berjalan menuju kasur tempat tidur milik Tyas dan langsung duduk ditepian ranjang kasur itu, dan Tyas pun segera menyelesaikan pekerjaan nya itu lalu menyusul duduk disamping nya Ibuk.
" Nduk Ibuk mau tanya bolehboleh , tapi Kamu harus jawab jujur ya? " Tanya Ibuk seraya mengusap pundak Tyas
Tyas sedikit kaget dan heran mendengar ucapan Ibuk barusan, Dia pun penasaran apa yang sebenarnya ingin Ibuk tanyakan dan Tyas pun khawatir kalau pertanyaan itu menyangkut tentang Mas Naka.
" Nggeh Buk, silahkan bertanya dan InsyaAllah akan Tyas jawab dengan jujur." Jawab Tyas seraya memandang wajah Sang Bunda orang yang paling disayanginya itu.
" Sebenarnya ada masalah apa di Jakarta sana yang menimpa Kamu hingga membuatmu pulang lebih awal begini apakah itu menyangkut tentang usahaMu atau asmara Mu? " Tanya Ibuk seraya menatap wajah Tyas dengan seksama.
Tyas kaget bercampur bingung dengan pertanyaan Ibuk barusan, Terlihat Dia tengah berpikir keras menyusun kata kata untuk menjawabnya.
" Oh Tuhan apakah Aku harus berkata jujur atau Aku harus berbohong. " Monolog Tyas dalam hati.
" Nduk." Kata Ibuk seraya menyikut lengan Tyas itu dan sukses membuat nya tersadar dari lamunan singkatnya itu.
" Maaf kan Tyas Buk, nggak ada masalah apa apa kok semua baik baik saja hanya saja Tyas kangen dengan Ibuk dan Bapak jadi Tyas memutuskan untuk pulang lebih awal dari waktu yang telah Tyas dan Mbak Rina sepakati kemarin itu." Jawab Tyas berbohong seraya mencoba merayu Sang Ibuk berharap Beliau paham.
Nampaknya Bu Rukmi tau dan paham kalau Sang Putri saat ini tengah berbohong, Beliau menduga sudah pasti terjadi sebuah masalah besar yang menimpa nya itu.
"Kamu jangan berbohong Nduk, Ibuk ini orang yang melahirkan Kamu, jadi Ibuk tau kapan Kamu bicara jujur atau pun bicara bohong seperti sekarang." Balas Ibuk
Tyas kelimpungan dan sedikit kelagapan dengan kata kata Ibuk barusan, Dan Dia pun terlihat tengah menghela nafas nya panjang sembari menyusun keberanian untuk berkata jujur di hadapan Ibuk.
" Buk, Sebenarnya kepulangan Tyas yang lebih awal ini karena Tyas pengen menenangkan hati juga pikiran Buk sembari mengumpulkan energi untuk kembali ke Jakarta nanti." Jawab Tyas seraya memeluk pundak sang Ibuk dari belakang
__ADS_1
" Sebenarnya apa yang terjadi di sana, Kamu cerita ke Ibuk siapa tau Kami bisa bantu Kamu? " Tanya Ibuk seraya memegang kedua tangan milik Tyas
Tyas terlihat tersenyum manis kearah Ibuk " Sungguh ikatan batin Ibuk ini kuat buktinya beliau tau kalau dirinya tengah berbohong. " Ucap Tyas dalam hati.
" Tyas sedang ada masalah sedikit dengan Mas Naka Buk. " Jawab Tyas Seraya menunduk lesu
" Memang nya ada masalah apa hingga Kamu kabur begini? " Tanya Ibuk yang mulai penasaran itu
" Ah nggak ada masalah apa apa Buk, Kami hanya sedikit berdebat saja Buk." Jawab Tyas sedikit berbohong
Ibu paham kalau Tyas tengah berbohong namun Beliau tidak mau terlalu dalam ikut campur dengan hubungan Tyas dan Naka.
" Nduk memang nya sudah sejauh mana hubungan Mu dengan Naka dan apakah pihak keluarga nya tau tentang hubungan Kalian? " Tanya Ibuk sembari membelai lembut rambut Sang Putri kesayangan itu.
Tyas terlihat kaget dengan pertanyaan dari Sang Bunda barusan itu, Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut apakah Aku harus jujur berterus terang saja guman Tyas dalam hatinya.
Dia terlihat berpikir sejenak menyusun kata kata menjawab pertanyaan Ibuk, Tyas menghela nafas nya panjang berusaha mengumpulkan kekuatan dalam hatinya untuk berterusan terang.
" Buk, Tyas pengen cerita tapi Ibuk harus merahasiakan ini semua dari Bapak ya ." Kata Tyas seraya meraih tangan Ibuk
" Sebenarnya Tyas sedang ada masalah dengan Mas Naka Buk, selama ini Dia menutupi jati dirinya yang ternyata adalah seorang CEO perusahaan besar dan Dia juga menutupi kalau Dia pernah ada hubungan asmara dengan seorang wanita yang mana wanita itu kini hadir kembali ditengah tengah hubungan Kami yang bisa dibilang mulai serius dan hal itu membuat Tyas trauma Buk, seakan menggugah luka lama dan Tyas sangat takut kembali terulang ya meskipun pihak keluarga dari Mas Naka sudah tau tentang hubungan Kami berikut respon yang sangat baik namun hal itu tidak mampu mengelabui rasa trauma di hati Tyas." Ucap Tyas yang memulai berterus terang pada Ibuk
Ibuk mendengar kan curhatan hati Tyas itu dengan seksama, Beliau terlihat melamun berpikir sejenak rasa trauma mendalam yang dirasakan oleh Tyas akibat dari perceraian nya dengan Ditya itu seperti nya mendarah daging dalam hati Tyas.
Rasa bersalah juga tergambar jelas di raut wajah Sang Ibunda itu, bagaimana tidak jika dulu Mereka tidak menjodohkan Tyas dengan Ditya mungkin saja Tyas tidak akan merasakan rasa trauma yang sangat hebat itu .
" Buk." Panggil Tyas seraya menggoyangkan tangan Sang Bunda itu
" Iya Nduk, tolong maafkan Kami ya jika saja dulu Kami tidak memaksaMu untuk menerima perjodohan itu pasti Kamu tidak akan merasakan rasa trauma itu." Ucap Ibuk seraya memeluk Tyas
" Ibuk nggak perlu minta maaf, ini semua sudah takdir dari Allah dan Tyas harus ikhlas berbesar hati menerima dan menjalani nya jadi Ibuk jangan ngomong seperti ini lagi ya." Kata Tyas seraya membalas pelukan itu
" Sekarang Ibuk tanya, apakah Kamu benar benar mencintai Naka dan berharap mengarungi masa depan bersama dengan nya? " Tanya Ibuk dengan nada serius
Tyas kaget dengan pertanyaan Ibuk barusan bingung mau menjawab apa tapi ada sesuatu rasa dihatinya yang menuntut untuk berkata jujur pada Ibuk.
__ADS_1
" Iya Buk, Tyas mencintai Mas Naka dan berharap bisa bersama namun bagaimana dengan mantan kekasihnya yang mengaku sebagai calon istrinya itu Buk? " Tanya Tyas yang mencoba meminta saran juga nasehat pada Ibuk
" Kalau Kamu mencintai Naka dan berharap bisa bersama harus Kamu bisa berpikir dewasa jika ada masalah bicarakan baik baik jangan mengambil keputusan saat emosi tanya baik baik pada Naka jangan mudah percaya dengan omongan orang lain bukankah Kamu juga sudah mengenal Naka baik buruknya Naka seharusnya Kamu juga bisa menerima masalalunya berikut mantannya sama halnya dengan Naka yang bisa menerima masalalu Mu." Kata Ibuk yang berusaha menasehati Tyas
" Iya Buk lalu Tyas harus bagaimana? " Tanya Tyas
" Menurut Ibuk lebih baik Kamu tenangkan hatimu dulu tunggu sampai emosi mereda baru setelah itu bicarakan baik baik dengan Naka dan mengenai statusnya seorang CEO perusahaan besar yang selama ini ditutupunya itu pasti ada alasannya Nduk dan Ibuk lihat kayaknya Naka ini orang nya baik dan sopan ganteng lagi cocok dengan Kamu anak Ibuk yang cantik ini." Jawab Ibuk seraya tersenyum manis kearah Tyas
Tyas mendengar kan semua nasehat Ibuk itu dengan seksama memasukan nya dalam hati dan menyaring nya dalam pikiran mencoba menurunkan sedikit ego nya
" Terima kasih banyak ya Buk atas semua nasehat nya ini, tapi untuk saat ini Tyas masih ingin menenangkan diri juga hati." Kata Tyas seraya menggelendot manja pada pundak Sang Ibuk
" Iya tapi jangan lama lama berantemnya itu nggak baik." Balas Ibuk seraya mengusap kepala Tyas
Tyas hanya tersenyum manis dengan ucapan Ibuk barusan, Kini hatinya sedikit lega seakan beban dihati dan pikirannya sedikit menurun .
" Sudah malam Ibuk mau istirahat dulu Nduk, besok Kamu temani Ibuk ke pasar belanja ya kan acara nya tinggal empat hari lagi dan kebetulan besok malam Mas Mu Abi dan Mbak Yuni juga Boby pulang." Ucap Ibuk
" Iya Buk silahkan istirahat, Tyas pun juga mau istirahat biar besok semangat menemani Ibuk belanja nya." Balas Tyas sumringah
Ibuk segera berjalan keluar Kamar tidur milik Tyas itu menuju kamar tidur pribadinya dan langsung istirahat, sementara itu terlihat Tyas masih melamun memikirkan nasehat nasehat Ibuk barusan " Ah mungkin Aku yang terlalu berlebihan seperti anak kecil saja." Guman Tyas lirih
Hingga tak lama setelah itu Tyas pun tertidur pulas seraya menggenggam erat guling kesayangan semasa kecilnya itu.
Sementara itu di kediaman milik keluarga Bagaskara itu terlihat Eyang Putri tengah duduk di depan sofa depan TV dan nampak sedang gundah kulana
" Eyang." Sapa Naka seraya berjalan menghampiri Sang Eyang itu
" Hay sayang sudah pulang? " Tanya Eyang Putri seraya mencium pipi Naka
Naka terlihat hanya tersenyum smirk tanpa menjawab pertanyaan Sang Eyang itu, dan Dia pun lebih memilih duduk di sofa samping Eyang Putri
" Oya Naka, Kamu tau nggak dimana Tyas berada kok tadi siang Aku tanya ke pegawainya Dia nggak ada di tempat? " Tanya Eyang Putri yang terlihat bingung sebab seharian ini Beliau tidak bertemu dengan Tyas bahkan telepon pun tidak ada jawaban
Naka terlihat kaget dengan pertanyaan Eyang Putri barusan hadih bagaimana menjawab nya ini " Guman Naka lirih
__ADS_1