
"Tyas itu Suami mu datang Nduk ." Panggil Bu Ratih saat melihat mobil yang di kendarai Ditya sampai dihalaman rumah mereka .
" Enggeh Ma ." Balas Tyas yang saat itu sedang mencuci buah di dapur
" Assallamuallaikum Ma ." Kata Ditya mengucap sallam sembari mengulurkan tangan saliman dengan Sang Mama
" Waallaikumsallam Le ayo masuk dulu tak panggilkan Tyas dulu ." balas Sang Mama sambil menerima uluran tangan Ditya
Ditya pun mengangguk menuruti perkataan Mama untuk masuk rumah lalu duduk di sofa ruang tamu .
" Mas Ditya sudah sampai ." Sapa Tyas yang berjalan dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman untuk Ditya juga Ibu mertua nya itu .
" Alhamdhulillah sudah Dek kamu baik baik saja kan dan kerasan nggak di sini ?" Tanya Ditya .
" Alhamdhulillah Aku baik baik saja dan Aku kerasan Mas di sini Mama dan Papa juga Mbah Kung sangat baik dengan Aku ." Jawab Tyas dengan wajah berseri seri .
Terlihat Ditya senyum senyum sambil memandangi wajah Tyas dengan seksama dalam hati Dia membatin oh Tuhan Aku sangat merindukannya dan juga perasaan aneh apa yang sedang ada di dadaku ini kok Aku merasa takut jika suatu saat nanti berpisah dengannya karena Tyas mengetahui jika Dia masih berhubungan dengan Wati .
Tyas merasa sedikit kikuk karena Ditya memandangi nya sedari tadi dalam hati Dia membatin ada apa dengan Mas Ditya ini kok aneh aneh .
Sementara itu Bu Ratih yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa buah buahan segar yang baru saja di cuci Tyas itu terlihat menahan tawa saat melihat Sang Anak tengah memandangi Tyas dengan senyum manisnya , Beliau juga teryawa kecil saat melihat Sang Mantu menjadi salah tinggah karena sikap Ditya itu .
" Ditya apakah kamu sangat kangen dengan Istrimu sampai sampai kau buat Tyas salah tingkah karena sejak tadi kau pandangi seperti itu ." Kata Bu Ratih membuyarkan lamunan Ditya juga membuyarkan ke kiku an suasana antara Ditya dan Tyas .
" Eh Mama duh Ditya jadi malu ni , Papa sama Mbah Kung kemana Ma ?" Tanya Ditya mencoba mengalihkan pembicaraan .
"Iya deh Mama paham namanya saja pengantin baru , Papa dan Mbah kung mu keluar sebentar katanya sih membeli barang paling sebentar lagi juga pulang ." Jawab Bu Ratih .
" Maaf Mama , Mas Ditya Tyas mau ijin untuk membawa koper ini kekamar dulu ya ." Kata Tyas meminta ijin untuk membawa masuk koper milik Ditya ke kamar mereka .
__ADS_1
Bu Ratih dan Ditya mengangguk mengiyakan kata Tyas tersebut .
Tyas pun beranjak membawa koper tersebut kekamar membuka nya dan ketika hendak menyimpan baju ke dalam almari Tyas menemukan dua helai rambut panjang di baju kaos warna putih milik Ditya .
Dalam hati Tyas bertanya tanya kok ada rambut sih kemudian Tyas memeriksa rambut itu lalu menyejajarkannya dengan rambut miliknya sendiri
" Hemm nggak sama ini rambutnya sedikit kaku sedangkan punyaku lemas juga warnanya beda ini hitam pekat dan punyaku cokelat lalu ini rambut siapa ya kira kira ?" Guman Tyas lirih .
Nampak Tyas melamun memikirkan rambut siapa ini hingga tanpa di sadari Ditya sudah berdiri di sampingnya .
" Dek kamu ngapain kok pegang kaos itu di depan cermin ?" Tanya Ditya membuyarkan lamunan Tyas .
Tyas terjengkit kaget menoleh kearah Ditya
" Loh Mas Ditya sudah lama di situ , Nggak Mas Aku hanya sedang melihat kaos ini saja kok ." Jawab Tyas .
" Oh kirain Kamu suka baju itu kalau suka Kamu boleh kok memakainya kan Kamu juga suka kaos oblong ." Kata Ditya sembari berbaring di ranjang nya nan empuk .
Ditya tersentak kaget beecampur bingung dalam hati dia membatin itu pasti rambut milik Wati ya tadi malam kaos dia pakai waktu pergi menonton konser musik dan karena Ditya merasa tidak terlalu kotor Dia pun memasukaknya ke dalam koper kembali kini Dirinya bingung hendak menjawab apa pertanyaan Tyas tersebut .
" Oh itu emh anu Dek em itu pasti rambut kamu lah kan mesin cuci dirumah cuma satu dan Kamu mencucinya bareng ya kan ." Jawab Ditya setengah bingung .
Meski Tyas merasa aneh dan merasa itu bukan rambutnya tapi Dia pun mengangguk paham dengan jawaban Ditya dalam hati Tyas bermonolog jelas jelas itu bukan rambut nya tapi Dia tidak ingin suudzon kepada Ditya maka Dia pun lebih berpikir mungkin itu rambut istrinya Fredi temannya Ditya yang rontok tertinggal di koper milik Ditya secara minggu lalu Fredi datang meminjam koper untuk dibawa liburan di puncak kemarin dan Tyas pun kembali merapikan baju baju milik Ditya hingga selesai
" Mas Ditya sudah makan ?" Tanya Tyas sambil duduk di pinggiran ranjang .
" Sudah Dek tadi Aku sudah makan di rest area tol Kamu sendiri sudah makan belum ." Jawab Ditya
" Sudah Mas ." Balas Tyas
__ADS_1
Kemudian mereka berdua pun keluar kamar untuk mengobrol dengan anggota keluarga lainnya .
Sedang di Yogyakarta terluhat Wati sedang sibuk melayani pembeli yang datang ya hari ini cukup ramai pembeli yang datang hingga tidak ada waktu luang untuk istirahat dan barulan sore hari warung sudah sepi pembeli barulan mereka bisa istirahat .
" Kelihatannya kamu hari ini semangat banget Nduk ?" Tanya Budhe kepada Wati saat mereka sedang duduk di teras depan rumah setelah selesai menutup warung .
" Iya Budhe hehehhe kan baru diapeli ." Jawab Wati
" Wati Budhe mau tanya tapi Kamu jangan tersinggung ya ." Kata budhe .
" Tersinggung kenapa Budhe , Silahkan saja bertanya dan Inshaallah akan Wati jawab dengan senang hati ." Balas Wati dengan wajah ceria nya .
"Wati kok Budhe merasa ada yang aneh ya pada diri Adit apakah kamu juga merasakannya ?" Tanya Budhe .
"Maksud Budhe ?" Tanya Wati balik .
" Begini Wati sejak kedatangan nya kemarin sore hingga kepulangannya hari ini Budhe perhatikan sikap Adit sedikit berbeda jika dulu Dia sering memeluk kamu menggoda dan merayu kamu kok sekarang Dia lebih menjaga jarak dengan Kamu Wati dan jika dulu Dia lebih banyak membicarakan tentang masa depan hubungan kalian nanti dengan penuh semangat berapi api sekarang Dia lebih banyak diam tanpa membahas masa depan hubungan kalian seperti dulu lagi juga akhir akhir ini bukankah Adit jarang kesini untuk menjenguk kamu ada apa dengan perubahan sikap Adit dan apakah kamu juga merasakan perubahan itu Wati ?" Kata Budhe menjelaskan panjang lebar tentang perubahan pada diri Adit .
Wati terdiam membisu mendengarkan unek unek yang tengah diucapkan Budhe nya itu dalam hati Wati membenarkan perubahan sikap Adit padanya yang sekarang lebih acuh jangan kan menjenguknya seperti dulu menelponpun kini sudah jarang Adit lakukan
Dari lubuk hati yang terdalam Wati sangat mencintai Adit bagaimanapun juga Adit adalah cinta pertama Wati dan Wati berharap kelak dirinya dan Adit bisa menjadi sepasang suami istri hingga menua bersama tetapi Wati sadar hubungan nya kini terganjal restu Orang Tua Adit dirinya tidak ingin di cap egois karena memutuskan hubungan darah antara Adit dan Orang Tua nya demi menikahi dirinya .
Wati sedikit iri dengan kehidupan yang tengah dijalani oleh Tyas sahabatnya , Dimana Tyas diterima dengan baik oleh keluarga sang Mertua dan menjadi Menantu kesayangan juga cerita bagaimana sikap suami nya yang baik dan penuh perhatian Wati juga berdoa swmoga suatu saat nanti dirinya bisa merasakan kebahagian seperti yang Tyas kini rasakan hingga tanpa sadar air mata Wati terjatuh mrmbasahi pipinya
" Lah kok malah menangis Nduk ?" Tanya Budhe .
Wati mengusap air matanya dan segera memeluk Sang Budhe
" Budhe sebenarnya Wati juga curiga dan merasa ada aneh dengan Mas Adit akhir akhir ini baik tentang sikap nya maupun perilakunya tapi Wati selalu berpikir positif mungkin saja Mas Adit capek Budhe kan kantor tempatnya bekerja sedang ramai lembur hingga Dia tidak punya banyak waktu untuk kesini jenguk Wati dan membahas rencana masa depan hubungan kami seperti dulu tapi Budhe nggak usah kawatir Mas Adit orang baik Dia tidak mungkin menghianati Wati Kami saling mencintai Budhe . Jawab Wati panjang lebar
__ADS_1
Budhe mengangguk paham meski dalam hatinya Beliau sedikit ragu , lalu mereka pun beranjak ke kamar masing masing untuk membersihkan diri lalu istirahat karena malam sudah sangat larut hingga pagi pun datang dengan sinar surya hangat menyambut
sementara itu Tyas merasakan sedikit aneh dengan sikap Ditya karena sejak kedatangan nya kemarin sore hingga pagi ini Dia lebih banyak diam tidak seperti biasanya yang lebih banyak ngomong juga sedikit menjaga jarak dengan nya ada apa dengan Mas Ditya mungkinkah Dia sedang marah atau mungkinkah Dia kecapekan dalam perjalanan karena jalanan macet guman Tyas dalam hati