
Kebahagiaan demi kebahagian tengah dirasakan oleh pasangan suami istri yang tengah dimabuk asamara itu yang tak lain tak bukan Tyas dan Ditya .
Setiap hari ada saja bahan candaan mereka obrolan mereka hubungan semakin lama semakin hangat manis dan dekat saja meski untuk urusan ranjang mereka masih jauh belum memikirkan nya
Meski dalam hati bertanya tanya kenapa sampai lima bulan pernikahan mereka Ditya belum pernah sekalipun meminta hak nya sebagai suami seutuhnya dengan meminta dilayani diatas ranjang selayaknya pasangan suami istri tetapi Tyas mencoba untuk tetap berpikir positif toh dirinya juga belum siap jika sewaktu waktu Ditya meminta hak nya .
Tyas berdoa dalam relung hatinya yang terdalam agar kebahagian yang tengah Dia reguh bersama Ditya ini adalah nyata bukan sekedar mimpi ataupun tipuan belaka juga berharap agar rumah tangganya bisa langgeng sampai tua nanti .
Sementara hati Ditya merasakan kebimbangan yang luar biasa kepada siapa perahu asamranya akan berlabuh jika dulu Dirinya tetap bersikukuh bahwa akan tetap melabuhkan hatinya pada Wati seorang maka sekarang dirinya tengah dilanda bimbang jujur tak bisa dipungkiri kini Dirinya menaruh hati pada Tyas yang kini telah resmi menjadi istrinya
Ditengah tengah kegalauan Ditya itu tiba tiba terlintas sebuah ide keputusan besar di benaknya bahwa dirinya memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada Tyas seorang dan memberanikan diri untuk jujur tentang status pernikahannya pada Wati dan mengahiri hubungan dirinya dan Wati secepatnya
Ditya yang tengah menikmati makan malam sendirian karena Tyas harus masuk kerja shift malam pun dikejutkan oleh deringan hp milik nya tanda ada panggilan masuk yang ternyata dari Wati
" Iya ada apa Dek , ini Aku sedang makan ?" Tanya Ditya saat mengangkat panggilan telepon dari Wati
Wati dengan suara terbata batanya menjawab
" Mas Budhe Mas ." Jawab Wati
" Iya Budhe kenapa coba Kamu ngomong baik baik ." Pinta Ditya
" Mas Budhe tiba tiba pingsan lagi badan lemas sekali ." Balas Wati
" Apaaaa terus sekarang kalian ada di mana , Sudah di rumah sakit kan ?" Tanya Ditya dengan suara paniknya
" Sudah Mas di rumah sakit yang kemarin Budhe dirawat tadi Dokter bilang keadaan Budhe kurang baik Mas alias kritis tadi sempat siuman terus panggil panggil namamu ." Jawab Wati
Ditya pun menjadi panik
" Kamu kesini ya Mas temani Aku juga kasihan Budhe sedari tadi panggil panggil Kamu ." Kata Wati setengah merengek .
Ditya terlihat berpikir cukup lama langkah apa yang harus Dia ambil antara menjemput Tyas pulang kerja atau menyusul Wati dan Budhe sekarang juga
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri akhirnya Ditya memutuskan untuk menyusul Wati kerumah sakit merawat Budhe
Dia menghubungi Tyas terlebih dahulu sebelum berangkat dengan alasan harus menemani Temannya di rumah sakit sedang kecelakaan dan Tyas pun mempercayainya Dia juga meminta Ditya untuk hati hati dijalan juga tidak usah tergesa gesa pulang malam ini dan Ditya pun mengiyakan perkataan Tyas tersebut .
Ditya berangkat malam itu juga ke Yogyakarta menyusul Wati dan Budhe di rumah sakit tempat Budhe di rawat bulan lalu
Dia terlihat menyetir mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai dalam pikirannya hanya ada Budhe bagaimana keadaan Budhe tidak seperti dulu jika di hatinya hanya ada Wati seorang sekarang berbeda .
Tak berselang lama mobil yang di tumpangi Adit sampai di rumah sakit tempat Budhe di rawat segera Dia menyusul Wati diruang perawatan Budhe
" Dek bagaimana keadaan Budhe ?" Tanya Adit
" Mas Adit Aku takut Mas ." Jawab Wati dengan sesenggukan memeluk erat Adit
__ADS_1
" Iya bagaimana keadaan Budhe Wat ?" Tanya Adit kembali
" Kata dokter yang barusan memeriksanya tadi keadaan Budhe memburuk Mas tidak seperti kemarin tekanan darahnya menurun drastis dan sekarang mereka memberikan kantong tambah darah untuk Budhe ." Jawab Wati dengan menangis tersedu sedu
" Tapi sudah siuman kan dari pingsan nya ?" Tanya Adit sembari melepaskan pelukan Wati itu
" Sudah Mas tadi Beliau mengigau memanggil manggil namamu terus waktu siuman tadi nama mu yang Budhe sebut terus ." Jawab Wati
" Oh begitu ayo kita masuk Aku mau lihat kondisi Budhe dulu ." Sahut Adit
Adit masuk ke kamar tempat Budhe di rawat dengan diikuti Wati dibelakangnya .
" Le Adit ." Budhe dengan mata terpejam nya memanggil Adit
"Sejak tadi Budhe seperti itu terus Mas panggil panggil kamu kayaknya Budhe kangen ." Sahut Wati dengan wajah sedikit cemberut
Adit segera mendekat dan meraih tangan Budhe
" Iya Budhe Adit di sini ada apa Budhe ?" Tanya Adit
Segera Budhe membuka matanya dan meraih pipi Adit
" Benar kah ini Kamu Le ?" Tanya Budhe balik
Adit pun mengangguk dan meremas tangan Budhe dengan lembut
" Bagaimana keadaan Budhe sekarang apakah sudah membaik ?" Tanya Adit sembari membantu menyandarkan Budhe agar lebih leluansa
" Sudah Nak , Halah biasa sudah tua pasti tubuhnya manja banyak dihinggapi penyakit Le ." Jawab Budhe
" Hust Budhe nggak boleh bilang begitu ." Balas Adit
" Wati sini Nduk ." Kata Budhe memanggil Wati
Wati pun mendekat dan duduk di berhadapan dengan Adit dan Budhe ditengah tengah mereka
Wajah Budhe terlihat serius secara bergantian menatap Adit dan Wati kemudian Beliau memandang Adit dengan seksama dan memulai pembicaraan nya .
" Le maaf Budhe mau tanya boleh ?" Tanya Budhe
" Monggo Budhe ." Jawab Adit sopan
" Le apakah Kamu benar benar mencintai Wati dengan serius ?" Tanya Budhe
Meski dengan sedikit ragu ragu Adit menganggukan kepala nya .
" Lalu mau dibawa kemana arah hubungan kalian bukankah kalian sudah pacaran hampir setahun ingat Le dalam Agama tidak mengijinkan pacaran supaya Kita tidak terperosok dalam lembah zina ." Kata Budhe
__ADS_1
" Sebenarnya Kami juga ingin melanjutkan hubungan ini sampai menikah dan menua bersama Budhe tapi sampai sekarang Restu itu belum Adit peroleh dari kedua Oran Tua Adit ,Budhe ." Balas Adit .
Wati hanya menundukan kepala saja di samping ranjang Budhe , Dia sudah menduga dengan jawaban apa yang akan Adit sampaikan ke Budhe antara rasa kecewa dan sedih bercampur jadi satu hingga tanpa di sadari air matanya lolos jatuh membasahi pipi .
" Sekarang giliran Kamu Wati , Apakah Kamu sungguh sungguh mencintai Adit ?" Tanya Budhe sembari mengusap lembut pipi Wati
Wati tak mampu lagi menjawab Dia malah menangis sesenggukan dipelukan sang Budhe itu hingga Budhe mengulangi lagi pertanyaan nya dan barulah sedikit tenang lalu menjawab pertanyaan itu benar Dirinya sungguh sungguh mencintai Adit .
" Jika kalian saling mencintai dengan serius dan sungguh sungguh ingin menua bersama kenapa kalian tidak mencoba menikah siri dulu sambi berusaha merayu Orang Tua Adit ?. Kata Budhe mencoba memberi saran .
Adit kaget setengah mati mendengar ide saran dari Budhe itu , Sementara Wati juga sama bedanya Wati sedikit berharap bahwa Adit akan menjawab Ya atas saran dari Budhe itu
" Maaf Budhe bukan nya Adit menolak tetapi akan coba Adit pertimbangkan dulu toh Wati juga masih muda dan Adit harap Budhe tidak kecewa dengan jawaban ini ." Jawab Adit
Seketika tersirat raut kecewa di wajah Budhe dan juga Wati terlebih Wati yang sejak tadi wajahnya sedikit berseri seri berharap agar jawaban Adit mampu melegakan hatinya untuk menikah tetapi harus buyar oleh ucapan Adit itu disisi lain Budhe menghela nafas panjang nya kemudian meraih tangan Adit sekali lagi
" Le , Budhe ini sudah sepuh sudah sakit sakitan hanya Wati yang Budhe punya sejak lulis sekolah Dia sudah kurawat layaknya anak sendiri meski tidak menghilangkan hubungan Bapak dan Ibu kandung nya sekarang tubuh Budhe sudah tidak sekuat dulu dan Budhe rasa waktu nya juga tidak lama lagi maka dan di hari hari tua Budhe ingin melihat Wati bahagia Le , Dan Budhe tau bahwa Wati akan bahagia bila menikah dengan orang yang tepat yakni Kamu Le ." Kata Budhe dengan mata berkaca kaca
Adit hanya menunduk kan kepalanya sebenarnya dalam benak dan angan nya Adit ingin jujur kepada Budhe dan juga Wati bahwa dirinya kini sudah menikah dan ingin mengakiri hubungannya denga Wati tetapi Adit tidak tega mengatakannya sekarang apalagi melihat keadaan Budhe yang sedang sakit dan akhirnya Adit pun mengurungkan niatnya untuk berkata jujur
"Sekali lagi maaf Budhe tolong beri waktu Adit untuk berpikirkarena bagi Adit menikah adalah hal sakral tidak boleh tergesa gesa dan Budhe tenang saja pasti Adit akan mengabari keputusan Adit bagaimana nanti secepatnya ya , Sekarang Budhe istirahat dulu Adit mau ijin ke masjid dulu ." Pamit Adit
Adit pun bergegas keluar kamar dan menuju masjid disamping rumah sakit yersebut setelah mengambil Wudhu kemudian Dia masuk kedalam dan menunaikan sholat selepas itu Dia berzikir memohon kepada ALLAH agar di beri ketenangan hati karena terus terang hati Adit saat itu tengah tergoncang dengan permintaan Budhe untuk menikahi Wati secara siri tadi
Adit menangis tersedu sedu dipojok masjid Dia menumpahkan beban di hatinya kepada Sang Pencipta Semesta , Dia tidak mungkin mengingkari janji suci pernikahan nya dengan Tyas meski mereka sebelum sepenuhnya saling mencintai tetapu satu sisi Dia tidak mungkin tega menolak permintaan Budhe tersebut mengingat kata Dokter yang memberitahu Adit bahwa Budhe kemungkinan tidak akan berumur lama itu Dia sungguh bingung keputusan apa yang akan diambilnya
Hay
Hay
Hay
pembaca setianya mamak semua bagaimana kabar semuanya semoga semua diberi kesehatan dan selalu dilimpahi keberkahan aamiin
Mamak berharap pembaca budiman novel receh karya mamak tidak kabur ya karena hampir seminggu mamak tidak aploud karena mamak sedang diberi ujian oleh Yang Maha Kuasa mulai dari anak pertama sakit lalu dilanjut anak nomer dua yang notabene masih bayik trus mamak sendiri lanjut ke mbah putrinya anak anak
Ini saja mamak nulis masih dengan kepala pusing pusing syahdu
Untuk pembaca setia mamak , Mamak mohon keihklasan doa agar kami sekeluarga cepat diberi kesehatan agar mamak bisa konsen menulis menyambung novel receh ini
Dan tak lupa mamak mohon dukungan dengan cara like ,komen dan kasih hadiah ya biar mamak cepat pulih dan semangat nulis lagi
Terima kasih
Salam hangat dari mamak
😘😘😘😘😘
__ADS_1