
" Kok Kamu malah ketawa sih? " Tanya Nila
" Habisnya Kamu ini lucu sih ya nggak mungkin dong Mas Ditya marah , secara Dia itu cinta banget ke Aku." Jawab Wati penuh percaya diri.
" Ya alhamdulillah kalau begitu, oya ngomong ngomong Suami mu ini orang gimana sih? " Tanya Nila yang mulai penasaran.
Wati yang mendengar pertanyaan Nila barusan itu pun menghentikan sementara makannya kemudian beralih menatap wajah Sang Sahabat dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Mas Ditya itu sosok suami dengan paket komplit sudah cakep baik hati beruang lagi hehehehe." Jawab Wati membanggakan sosok suami nya itu.
" Wah Kamu pasti sangat bersyukur ya Wat punya suami sesempurna Mas Ditya itu dan semoga saja rumah tangga Kalian langgeng hingga akhir hayat nanti." Sahut Nila sembari mendoakan rumah tangganya Wati .
" Aamiin." Balas Wati
Kemudian Mereka pun melanjutkan acara makan malam itu hingga selesai lalu Wati mengajak Bila untuk pulang kerumah nya.
Di sepanjang perjalanan Wati dan Nila terlihat asik mengobrol membahas keindahan kota Jakarta dimalam hari juga membahas mengenai detil pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Nila besok.
Hingga tanpa terasa Mereka telah sampai di depan rumah tempat tinggalnya Wati dan Ditya.
Wati terlihat membuka pintu menggunakan kunci yang tersimpan di dalam tas pribadinya itu lalu mempersilahkan Nila untuk masuk kedalam rumah.
" Ayo masuk Nil." Kata Wati mengajak Nila masuk kedalam
" Terima kasih." Balas Nila sopan
Wati pun tersenyum mengangguk dan terlihat clingukan mencari keberadaan Sang suami nya yang seharusnya sudah pulang sejak sore tadi, namun anehnya Dia tidak mendapati Ditya di dalam rumah hingga membuatnya bertanya kemana gerangan Mas Ditya kok sampai sekarang belum pulang.
__ADS_1
" Mana Suami Mu Wat, kok nggak kelihatan? " Tanya Nila
" Em kayaknya Dia belum pulang mungkin ada tugas dadakan di kantor, ayuk Aku antar ke kamar mu." Jawab Wati seraya mengajak Nila ke kamarnya.
Nila pun menurut mengikuti Wati dari belakang menuju kamar yang akan ditempati nya beberapa hari kedepan.
Dia dalam Wati dan Nila terlibat obrolan yang cukup hangat bernostalgia mengenai kenangan sewaktu di Yogyakarta dulu jauh sebelum Wati menikah dengan Ditya dan diboyong ke Jakarta.
Hingga tanpa Mereka sadari Ditya sudah pulang dan sudah masuk kedalam rumah dan tengah duduk duduk santai di meja makan sembari minum air putih.
Wati yang mendengar gemericik air yang dituangkan oleh Ditya kedalam gelas itu pun menyadari kalau Suami tercintanya itu sudah pulang, dan Dia pun mengajak Nila keluar kamar untuk menemui sekaligus berkenalan dengan Ditya.
" Kamu sudah pulang Mas? " Tanya Wati sesaat setelah melihat Ditya tengah duduk di kursi meja makan itu
" Sudah barusan nyampai." Jawab Ditya yang masih saja menunduk menatap layar HP miliknya itu.
" Kok tumben pulang larut malam, oya Kamu sudah makan belum Mas? " Tanya Wati seraya berjalan menghampiri Ditya
" Alhamdulillah kalau begitu, oya Mas kenalin ini temanku Nila namanya dan Nil ini suami ku Mas Ditya namanya." Ucap Wati sembari memperkenalkan Nila pada Ditya
Ditya menghentikan sementara keasikan nya membalas pesan pesan yang masuk kedalam HP nya yang mayoritas dari para sahabatnya di kantor itu dan langsung menatap lurus kearah Nila yang sudah berdiri di sampingnya Wati .
Nila dan Ditya terlihat saling adu pandang, dan Nila pun memutuskan berinisiatif mengulurkan tangannya kearah Ditya bermaksud mengajak Ditya bersalaman.
Ditya yang semula terdiam itupun spontan meraih ukuran tangan nya Nila dan Mereka berdua pun salaman sembari memperkenalkan diri Mereka masing masing.
Ada getaran aneh yang menjalar di hati Ditya saat ini sungguh Dia seakan menatap sosok Tyas pada diri Nila yang lembut dan cantik, sementara Nila merasa biasa biasa saja tanpa ada rasa spesial sedikit pun pada sosok Ditya.
__ADS_1
Setelah saling bersalaman dan berkenalan satu sama lainnya, Wati pun beranjak memotong buah dan menyuguhkan nya pada Ditya dan Nila lalu Mereka bertiga pun mengobrol santai di sofa depan TV.
" Sebentar ya, Aku hampir melupakan sesuatu." Ucap Nila sembari berpamitan masuk kedalam kamar nya.
Wati dan Ditya pun mengangguk penasaran apa yang hampir terlupakan oleh Nila itu, dan tak berselang lama Nila kembali dan terlihat tengah membawa bungkusan sesuatu dalam kantong plastik yang kelihatan nya berat .
" Apa itu Nil, kok kelihatan nya berat banget? " Tanya Wati penasaran.
" Oh ini tadi Budhe menitipkan sesuatu untuk Kalian." Jawab Nila sembari menyerahkan kantong plastik besar itu kepada Wati dan Ditya.
" Apa ini kok besar banget bungkusannya juga berat banget isinya? " Tanya Wati sembari meraih pemberian Nila barusan itu
" Ayo Kita buka aja langsung." Sahut Ditya
Wati pun mengangguk setuju dengan ide yang baru dan dikemukakan oleh Ditya itu, Dia langsung berjalan ke dapur mengambil gunting dan langsung membuka bungkusan oleh oleh kiriman dari Budhe.
Dia terlihat mengeluarkan seluruh isi bungkusan dalam kantong plastik yang berukuran besar itu yang ternyata isinya adalah satu stel baju batik mewah, beberapa bungkus gado gado spesial masakannya Budhe dan beberapa bungkus aneka camilan khas yogyakarta itu
" Wah banyak sekali isinya Nil, pasti Kamu tadi capek membawanya? " Tanya Wati pada Nila.
" Ah nggak juga kok." Jawab Nila dengan senyum manisnya.
" Mas coba deh lihat ini baju nya sangat pas kalau Kamu pakai cocok dengan kulitmu yang putih bersih." Kata Wati sembari menyerahkan baju batik kepada Ditya itu
Ditya meraih baju itu dan terlihat meraba juga mengamati baju kiriman dari Budhe di Yogyakarta tersebut dan terlihat Dia tersenyum manis ya Ditya menyukai baju kiriman dari Budhe yang ternyata benar kata Wati barusan , baju itu cocok dengan warna kulitnya.
" Kamu telpon Budhe sana gih, Kita harus mengucapkan banyak Terima kasih atas kiriman oleh oleh ini." Kata Ditya dengan wajah sumringah nya.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang lagi Wati segera meraih HP nya dan langsung menghubungi Sang Budhe tersebut guna menyampaikan rasa Terima kasih yang mendalam atas kiriman oleh olehnya di kirimkan lewat Nila tersebut.
Selesai mengucapkan banyak terimakasih juga sudah puas berkangen kangenan via telepon, Wati pun mengakhiri panggilan telepon tersebut kemudian melanjutkan obrolan manis Mereka bertiga hingga malam pun tiba dan Mereka pun membuyarkan diri untuk istirahat di dalam kamar masing masing.