
Setelah adegan panas yang menguras tenaga itu Adit dan Wati pun tertidur masih dalam keadaan tidak memakai sehelai benang pun ditubuhnya .
Menjelang waktu sholat Isya Adit bangun memandang ke wajah manis Wati sembari mencium dahinya dan beranjak mandi , Sementara Wati masih tertidur pulas
Selesai mandi dan ganti baju Adit yang sedari pagi mematikan hp nya pun segera berjalan ke nakas dan mengambil hpnya yang Dia simpan di lipatan baju nya sendiri segera Adit menghidupkan hp nya dan tara banyak sekali panggilan dari Tyas maupun Sang Mama Papa juga banyak sekali pesan pesan yang Mereka kirimkan ada apa kah gerangan guman Adit lirih
Segera Adit menelpon Tyas tetapi hp Tyas tidak aktif ya Tyas lebih memilih mematikan hpnya dan ikut menyiapkan makanan bareng dengan Sang Bunda juga kerabat yang lain di dapur untuk disajikan kepada tamu yang hadir tahlilan malam itu
Sementara Bu Ratih di kamar selesai Sholat Isya itu di kejutkan dengan deringan ponsel miliknya yang ternyata ada panggilan masuk dari Ditya
" Halo Ma ."Sapa Ditya di seberang sana
" Ditya Kamu kemana saja kenapa seharian ini Kamu mematikan hp mu ." Cerocos Bu Ratih
"Maaf Ma seharian ini Ditya sibuk dan lupa tidak mengecas baterai hp dan ya akhirnya hp Ditya mati ." Balas Ditya berbohong
" Kamu jangan membohongi Mama Dit , Kamu tau Kami semua kebingungan menghubungi mu untuk mengabari hal penting tetapi hp mu mati ."Kata Bu Ratih dengan nada sedikit meninggi
Ditya mengernyitkan dahi bingung dengan kata Sang Mama hal penting apa maksudnya
"Iya Ma ,Ditya minta maaf sekarang tolong beritahu Ditya ada hal penting apa ?" Tanya Ditya polos tanpa rasa curiga .
"Mbah Kung mangkat Le ." Jawab Bu Ratih dengan suara bergetar menahan tangis
" Apa Maa, Mama nggak berbohong kan ?" Tanya Ditya dengan nada suara meninggi hingga membaut Wati yang tengah tidur diranjang panas itu pun bangun dan segera membungkus tubuh polosnya dengan selimut lalu beranjak mendekati Ditya itu
"Ada apa Sayang kok kelihatannya Kamu panik begitu ?" Tanya Wati sembari memeluk Ditya dari belakang
Tanpa di sadari suara Wati itu terdengar oleh Bu Ratih
" Dit suara siapa itu ?" Tanya Bu Ratih
Ditya segera menempelkan jari nya di mulut Wati tanda meminta Wati untuk diam Ditya kebingungan takut kalau ketahuan
" Itu suara teman Ditya Ma ." Jawab Ditya yang lagi lagi berbohong
Wati terlihat kebingungan kenapa Dia bilang suara teman pada Sang Mama namun Wati lebih memilih diam tanpa banyak tanya dan mendengarkan percakapan antara Bu Ratih dan Adit itu .
" Kamu membohongi Mama Dit, Dan sekarang juga Mama minta Kamu pulang kesini sekarang juga kasian Tyas ." Balas Bu Ratih sewot dan segera mematikan panggilan telepon itu .
Adit segera mengemasi baju bajunya dan menjelaskan ke Wati bahwa Dia hari ini juga harus pulang karena Mbah Kung meninggal sebenarnya Wati memaksa ingin ikut pulang tetapi Adit berkeras melarang nya dengan alasan keberadaan nya belum diinginkan oleh pihak keluarga Adit apalagi mereka sekarang dalam keadaan berduka dan Wati pun paham akan hal itu
Sebelum berangkat Wati memeluk Adit dari belakang dengan mesra nya mencium pundak Sang Suami Adit adalah lelaki normal jadi mustahil jika nafsunya tidak timbul kembali hingga mereka mengulangi pergulatan panas itu sekali lagi entah lah tak habis pikir dimana hati nurani Adit disaat keluarganya berkabung duka dirinya malah asik memadu kasih dengan Wati Istri yang hari ini Dia nikahi secara diam diam tanpa sepengetahuan keluarganya .
Setelah puas dengan peegulatan oanasnya dengan Wati , Adit segera beranjak mandi ganti baju dan berpamitan dengan Budhe juga Wati lalu segera berangkat pulang
Sementara dikediaman keluarga Pak Sugeng terlihat sepi acara tahlilan untuk almarhum sudah selesai para kerabat sudah pulang kerumah masing masing begitupun Keluarga Pak Samsul Orang Tua Tyas pun sudah pulang kini tinggal Tyas dan kedua mertuanya saja Tyas ijin masuk ke kamar dahulu Dia merasa kurang sehat mungkin karena kecapekan beberapa hari tidur di rumah sakit makan tidak teratur dan di tambah dengan kepergian Mbah Kung secara mendadak membuatnya kaget juga Ditya yang tiba tiba menghilang tanpa kabar seharian ini membuat pikiran Tyas kalut bercampur stres dan alhasil kesehatannya kini terganggu tubuh nya tiba tiba demam dan sedikit pusing wajah nya pun pucat
__ADS_1
Tyas berbaring dikasur memejamkan matanya berniat untuk istirahat tidur lebih awal dan berharap kesehatannya membaik kembali , Bu Ratih Sang Mama mertua pun menyusul Tyas di kamarnya
" Nduk Kamu belum makan malam lo , Mama ambilkan ya ?" Tanya Bu Ratih sembari meraba kening Sang Menantu
" Terima kasih Ma , Tyas tadi sudah makan kok bareng Ibuk ." Jawab Tyas sopan hendak bangkit berniat duduk di samping Bu Ratih
" Ya ALLAH , Kamu demam Nduk sebentar Mama ambilkan obat penurun panas ." Kata Bu Ratih yang kemudian berlalu keluar kamar mengambil obat penurun panas untuk Tyas
Selang lima menit Bu Ratih pun kembali dengan membawa obat penurun panas juga segelas air hangat dan menyuruh Tyas meminumnya
Tyas pun bangkit dengan menyandarkan kepalanya di bahu ranjang dan meminum obat yang diberikan oleh Mama Mertuanya itu
" Terima kasih banyak Ma ." Kata Tyas sembari meletakkan gelas air putih itu .
Bu Ratih mengangguk dan meraih tangan Tyas terlihat Beliau tengah mengamati cincin cantik yang tersemat di jari Tyas bersebelahan dengan cincin nikah itu
" Kok kayaknya Mama ngga asing ya dengan cincin cantik ini Nduk ?" Tanya Bu Ratih
" Eh iya Ma ,Tyas lupa memberitahu Mama dan Papa kalau tadi pagi sebelum mangkat Mbah Kung memberikan cincin ini dan Beliau meminta Tyas memakainya Beliau juga berpesan agar Tyas selalu menjaga cincin tanda cinta dari Mbah Kung ." Jawab Tyas dengan wajah berbinar menatap cincin pemberian Mbah Kung itu
Kemudian Bu Ratih menceritakan bahwa itu adalah cincin dari Kakek nya Mbah Kung untuk mendiang Nenek lalu di wariskan pada Tyas Bu Ratih juga mwmberitahu Tyas bahwa cincin itu adalah lambang cinta dan Mbah Kung tidak akan memberikan kesembarang orang kini Beliau memberikan cincin itu ke Tyas itu artinya Tyas lah orang tepat mendampingi Ditya hingga nanti .
Tyas mendengarkan penjelasan Sang Mama mertua itu dengan seksama lalu mereka pun ngobrol santai
" Nduk ,Mama mua tanya Kamu harus jawab jujur ya ."Kata Bu Ratih di sela sela obrolan mereka
" Apakah akhir akhir ini Ditya sering meninggal kan mu semirian di rumah ?" Tanya Bu Ratih
" Iya Ma akhir akhir ini Mas Ditya sering keluar kota dan menginap di sana karena kantor tempatnya bekerja akan membuka cabang di sana dan Mas Ditya dipercaya untuk mengawasinya ." Jawab Tyas polos dan jawaban ini sesuai dengan alasan yang dikemukan Ditya padanya tempo hari
" Kamu dikota mana itu Nduk , Dan apakah Kamu mempercayai nya ?" Tanya Bu Ratih
" Ke Yogyakarta Ma , Dan sebagai seorang istri yang baik Tyas mengkewajiban percaya atas ucapan Mas Ditya itu ." Jawab Tyas lugu
Bu Ratih semakin curiga karena sepengetahuannya kantor tempat Ditya bekerja itu tidak ada cabang lain selain kantor pusat yang ada di Jakarta juga Bu Ratih yakin kalau Ditya masih berhubungan dengan pacarnya dahulu dan Bu Ratih bertekat akan membuktikannya sendiri .
"Apakah Kamu mencintai Ditya Nduk?" Tanya Bu Ratih dengan muka serius .
" Enggeh Ma , Tyas mencintai Mas Ditya dan yakin Mas Ditya tidak akan menghianati Tyas ,Mas Ditya itu sosok suami yang baik dan penuh tanggung jawab jadi Mama jangan terlalu menghawatirkan Tyas ya ." Balas Tyas sembari memegang erat tangan Sang Ibu Mertua itu kemudian mencium punggung tangan nya dengan takdhim .
Bu Ratih terlihat meneteskan air mata entah itu air mata haru bercampur bahagia mendengar jawaban Tyas yang mulai mencintai Ditya atau air mata kesedihan karena takut Ditya menghianati Tyas secara diam diam.
" Lo Mama kok malah menangis apakah jawaban Tyas membuat Mama kecewa?" Kini giliran Tyas bertanya .
" Enggak Nduk , Mama terharu saja mendengar jawaban dari mu , Kamu mantu yang baik juga istri yang baik Mama janji Mama akan melindungi mu juga rumah tangga mu dari godaan di puar sana ." Kawab Bu Ratih sembari memeluk tubuh sang menantu
Obrolan mereka pun berganti topik dan semakin seru saja dan tak terasa malam pun semakin larut sudah mendekati pukul sebelas malam audah waktu nya istirahat mengingat Tyas kurang enak badan Bu Ratih menyuruh Tyas segera istirahat agar besok demam nya turun dan Beliau pun pelan pelan menutup pintu kamar Tyas lalu keluar menemui Pak Sugeng yang sedang istirahat di kamar
__ADS_1
Tak lama setelah itu terdengar deruan mesin mobil milik Ditya memasuki halaman depan rumah Pak Sugeng
" Assallamuallaikum Pa , Ma ." Sapa Ditya sambil mengetuk pintu depan
" Waallaikumsallam ." Jawab Bu Ratih sembari membuka pintu dan mempersilahkan Ditya masuk
Pak sugeng yang tadinya tidur pun terbangun dan berjalan keluar kamar menyusul Ditya dan Bu Ratih
"Dari mana saja kamu Ditya ?" Tanya Pak sugeng dengan muka merah menahan amarah
" maaf Pa , Ditya sibuk kerja seharian ini dan hp Ditya mati karena lupa mengechas baterainya ." Jawab Ditya beralibi
Kemudian Bu Ratih meminta Ditya keruang makan dan menyuruhnya duduk Ditya pun mengikutinya duduk di kursi meja makan setelah memastika Tyas sudah tidur dan pintu sudah tertutup rapat Bu Ratih pun kembali ke meja makan sementara Pak Sugeng kembali ke tempat tidur nya .
" Ditya jawab jujur pertanyaan Mama siapa wanita yang di samping Mu tadi waktu Kamu menelpon Mama ?" Tanya Bu Ratih dengan muka serius nya
Mula mula Ditya berkelit dengan memberi alasan bahwa itu temannya tetapj tidak mudah bagi Bu Ratih untuk mempercayai jawaban Ditya itu
"Mama tau Kamu sedang berbohong Dit ,Tetapi Mama hanya ingin mengingatkan kamu saja bahwa Kamu bisa membohongi kami sebagai Orang Tua mu dan Tyas sebagai istrimu tetapi Kamu tidak bisa membohongi Yang Maha Kuasa Dit dan cepat atau lambat kebohongan mu itu akan terbongkar dan asal Kamu tau Mama tau Kamu masih berhubungan dengan wanita itu ." Balas Bu Ratih dengan tatapan tajam dan muka penuh amarah .
Melihat kemarahan Sang Mama itu Ditya hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Sang Mama
" Dan sekarang Mama minta Kamu jawab jujur apakah kamu masih berhubungan dengan nya ?" Tanya Bu Ratih
Ditya tidak berani menjawab pertanyaan Sang Mama Dia hanya menunduk kepala
Dan diamnya Ditya itu diartikan iya oleh Bu Ratih dan semakin yakin kalau tadi itu suara Wati pacar Ditya
" Ditya Ditya Kamu itu bodoh atau gimana sih sebenarnya kurang apa coba Tyas itu secara fisik Dia jauh lebih cantik dari wanita itu dan secara perilaku Tyas sangat baik dan sopan Kamu tau Dit beberapa hari ini Tyas lah yang merawat Mbah Kung seorang diri dan sangat telaten hingga nafas terahir Mbah Kung Tyas lah yang ada di samping nya Mama bingung sebenarnya apalagi yang Kamu cari bukan kah dulu Kamu sudah berjanji sama Mama untuk meninggalkan wanita itu dan membina rumah tangga dengan Tyas dan apakah Kamu dengan ikrar Ijab Qabul yang Kamu sumpahkan di depan penghulu dan para saksi lainnya ingat Ditya jika terjadi sesuatu hal buruk pada rumah tangga kalian yang menyesal itu bukan cuma Kami sebagai Orang Tua tetapi Kamu yang akan lebih menyesal kehilangan Tyas juga selamanya Kami hanya akan mengakui Tyas lah satu satu nya menantu kami jadi Mama ingatkan Kamu jangan coba coba bermain api jika tidak ingin Kamu hangus terbakar oleh nya mulai sekarang tinggalkan Dia dan mulailah hidup indah dengan Tyas ." Nasehat Bu Ratih panjang lebar .
" Terima kasih banyak Ma nasehatnya Ditya akan selalu mengingat nasehat Mama dan tolong maafkan kekhilafan Ditya selama ini dan Ditya janji akan meninggalkan Wati ." Balas Ditya sembari menatap wajah Sang Mama
" Jangan minta maaf sama Mama ,Tapi minta maaf lah pada Tyas dan sekarang kamu susul Dia dikamar sore tadi badannya demam dan Mama memberinya obat pereda demam ." Sahut Bu Ratih
Ditya mengangguk dan segera berjalan menyusul Tyas yang sedang tidur dikamar milik Ditya itu
Ditya pelan pelan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar lalu berjalan pelan menuju ranjang tempat Tyas beristirahat Dia memastikan keadaan Tyas bagaimana dengan pelan pelan meraba kening Tyas dan ternyata demam nya sudah turun lalu dengan pelan pelan Ditya naik ke ranjang dan berbaring di samping Tyas
Dia berbaring menghadap ke arah Tyas lalu mencium kening nya dan ketika hendak memeluk tubuh Sang Istri , Tyas terbangun dan tanpa sengaja melihat bekas gigitan di leher Ditya yang tertutup kerah baju
Sepolos polosnya dan selugu lugunya Tyas paham kalau itu bukan gigitan serangga biasa tapi gigitan jahanam yang sengaja dibuat dan timbullh bibit bibit kecurigaan di hatinya
" Maaf Mas Aku mau istirahat ." Kata Tyas mendorong tubuh Ditya agar menjauh dan Tyas balik badan membelakangi Ditya lalu memejam kan mata dan Dia gagal matanya tetap terjaga pikurannya melayang tentang bekas merah di leher Ditya itu siapa yang melukisnya dan kecurigaannya bertambah tak kala mencium aroma sampo yang berbeda dari yang biasa dipakai Ditya itu dan yang lebih parah lagi saat Ditya tengah memeluk tubuh Tyas dari belakang itu secara tidak sengaja Tyas tidak melihat cincin pernikahan mereka di jari Ditya air mata Tyas tiba tiba jatuh menetesi pipinya dan Ditya pun menyadarinya segera Dia bangkit dan merapat dekat ke tubuh Tyas Dia berulang kali minta maaf atas kesalahannya kemarin telah mengabaikan Tyas dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi Tyas pun diam tanpa memberi jawaban apapun atas perminta maaf an Ditya itu dan lebih memilih untuk memejamkan mata dan tidur
Ditya mulai berpikir ada apa dengan Tyas yang tidak mau mengucap sepatah kata pun padanya dan beraggapan kalau Tyas kecapekan hingga kurang mood mengobrol dengan nya
Pagi pun datang Tyas bangun terlebih dahulu membersihkan diri lalu keluar kamar menuju dapur untuk memasak menu sarapan untuk keluarga
__ADS_1