
Wati dapat dengan jelas nya melihat kearah rombongan Ditya dan lainnya itu tengah berjalan meninggalkan restoran mahal, Dia juga dengan jelas nya bisa melihat raut kebahagian yang terpancar di wajah Bu Ratih Sang Mama mertua nya itu.
Dalam hati Dia membatin kenapa Mama bisa sedekat dan sesayang itu pada Tyas yang sekarang hanyalah mantan menantu itu lalu kenapa Beliau tidak bisa sedekat itu dengan dirinya.
Dimana letak kekurangan dirinya jika dibanting dengan Tyas, Wati berpikir dirinya lebih baik ketimbang Tyas baik dalam hal kecantikan maupun lainnya namun itu hanya khayalan Wati saja sebab kenyataan nya Tyas lebih unggul dalam segala hal ketimbang dirinya.
" Wat hey Wat ,Kita jadi cari makan nggak? ' Tanya Bila yang pertanyaannya itu sukses membuyarkan lamunan monolog nya Wati dalam hati itu
Wati Tersentak kaget dengan pertanyaan dari Nila barusan, ya memang benar Mereka tadinya berniat untuk mencari restoran untuk makan siang namun dikarenakan barusan Wati melihat rombongan suami, mertua dan lainnya tadi lewat maka Wati memilih untuk berdiam diri sebentar.
" Eh iya Nil, sory ada apa? " Tanya balik Wati yang terlihat gugup itu
" Kamu sedang lihat apa sih kok bengong begitu? " Kata Nila seraya clingukan menatap kearah depan juga samping nya Wati
" Nggak ada kok Nil." Jawab Wati singkat
Nila terlihat kurang puas dengan jawaban Wati barusan, Dia berpikir pasti Wati tengah menyembunyikan sesuatu dari nya .
" Ah Kamu pasti bohong buktinya Aku tanya Kamu hanya diam aja." Sahut Nila
__ADS_1
Wati pun tak lagi menyangkal kecurigaan Nila sahabat karibnya itu, dan Dia pun lebih memilih berkata jujur pada Nila namun sebelum berterus terang Dia mengajak Nila masuk kedalam restoran yang di dekat Mereka tadi.
" Sebenarnya tadi itu Aku lihat rombongan nya Mas Ditya bersama Mama Ratih juga mantan istrinya Mas Ditya dan Suaminya yang sekarang tengah keluar meninggalkan restoran mewah itu." Kata Wati saat Mereka sudah sampai di restoran yang menjadi tujuan Mereka berdua itu.
" Apaaaa, dimana Mereka ayo Kita samperin? " Tanya Nila yang terlihat kaget itu
" Nggak usah Nil, Aku nggak mau urusannya tambah panjang kan Kamu tau sendiri gimana watak Mama mertuaku." Jawab Wati
" Kamu yang sabar ya Wat, Kita berdoa saja semoga Allah membukakan pintu hatinya Bu Ratih agar bisa ikhlas legowo menerima Kamu sebagai menantunya dan juga bisa menyayangimu selayaknya anak sendiri." Dahut Nila mencoba menasehati Wati yang terlihat sedikit murung
" Iya, Aku nggak papa kok Aku kuat Aku sabar selama cintanya Mas Ditya masih hanya untukku maka Aku akan selalu berusaha sabar dan juga belajar menjadi menantu yang baik untuk kedua mertuaku." Ucap Wati seraya mengusap air mata yang mulai jatuh menetesi pipinya itu.
" Nah gitu dong semangat." Balas Nila
Dan tak berselang lama menu pesanan Mereka telah sampai dan sudah terhidang rapi di meja depan Mereka berdua dan langsung saja Wati juga Nila memulai menikmati makan siang itu dengan di selingi candaan.
" Oya Wat, nanti selesai makan Kita mau kemana? " Tanya Nila
" Kemana ya Nil enaknya, tapi badan ku capek banget ni jadi males mau jalan lagi." Jawab Wati
__ADS_1
" Ya udah gimana kalau Kita pulang aja, lagipula Aku perhatiin muka mu pucat amat Kamu sakit ya? " Tanya Nila yang terlihat khawatir itu.
" Nggak juga sih cuma sedikit pusing aja mungkin kecapean kali ya." Jawab Wati polos
Nila mempercepat makan nya dan langsung mengajak Wati pulang kerumah karena muka Wati semakin lama semakin pucat saja dan Dia khawatir kalau sakit nya Wati tempo hari kambuh lagi makanya Dia buru buru mengajak Wati pulang.
Sesampainya di rumah Nila segera membantu Wati berbaring di ranjang nya dan segera mengambil air putih hangat untuk diminum Wati .
Hoekkkk hoekkkkkk
Wati memuntahkan seluruh isi perutnya, wajahnya menjadi sangat pucat pasi dan terus terusan memuntahkan kan seluruh isi perutnya, sementara Nila terlihat sangat panik dengan keadaan Wati itu.
Dia curiga juga takut kalau kalau penyakitnya Wati tempo hari itu kambuh, sungguh Dia bingung apa yang harus di lakukan nya untuk menyelamatkan sahabatnya itu sementara Ditya dan Bu Ratih masih saja belum pulang.
" Wat, Aku telepon kan Mas Ditya ya agar secepatnya pulang? " Tanya Nila yang terlihat khawatir
" Nggak usah Nil Aku nggak mau menganggu waktu Merrka lagipula mungkin Aku hanya masuk angin saja entar juga sembuh." Jawab Wati
Jawaban Wati barusan itu semakin menambah kebingungan bagi Nila, nggak mungkin kalau Wati itu sedang masuk angin pasti telah terjadi apa apa pada diri sahabatnya itu.
__ADS_1
Sebenarnya Dia ingin sekali menghubungi Ditya juga Bu Ratih namun Wati melarangknya dan bersikeras untuk tidak usah memberi tau keadaan nya di rumah itu.
Wati terus terus saja muntah muntah hingga sukses menambah kepanikan pada diri Nila hingga akhirnya Dia pun memanggil taxi dan memintanya untuk di antar ke rumah sakit yang kebetulan jaraknya lumayan dekat dengan rumah itu.