
"Hallo, Tuan Moreno, apa kabar?" sapa seorang tamu begitu orang yang disebut namanya oleh sang tamu memasuki ruang kerjanya bersama pemuda yang saat ini matanya sedikit melebar saat pemuda itu mengetahui siapa tamu yang dimaksud oleh sang asisten.
"Hallo juga, Tuan Sergio, seperti yang anda lihat, tentu saja saya baik baik saja. Bagaimana dengan anda?" balas Moreno begitu ramah sambil membalas jabatan tangan tamunya. Dialah Sergio, orang yang sempat membuat terkejut Rafi saat baru melihatnya. Meski rafi hanya melihat wajah pria itu dari sebuah foto, tapi Rafi tidak bisa lupa begitu saja wajah pria tersebut.
"Yah, seperti yang anda lihat, Tuan Moreno. Tentu saja saya sangat baik. Makanya begitu saya mendengar anda berkunjung ke negara ini, saya langsung ingin menyambut anda," jawab Sergio dengan mata sesekali melirik ke arah Rafi yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Moreno
Moreno yang sepertinya peka dengan gerak gerik tamunya, langsung menoleh ke arah Rafi. "Hy Nak, kenapa kamu berdiri saja disitu? Sini duduk dekat Daddy," ucap Moreno dan hal itu cukup membuat dua orang yang ada di sana terkejut.
"Daddy? Apa dia putra anda?" tanya Sergio dengan wajah masih terlihat terkejut.
"Ya, seperti yang anda dengar barusan," jawab Moreno dengan sangat yakin sambil memeluk pundak Rafi yang sudah duduk di sampingnya. "Dia adalah putra saya," Moreno terlihat bangga mengakui hal tersebut.
Meski masih terlihat ragu, Sergio memaksakan diri untuk tersenyum lebar. "Saya baru tahu kalau anda mempunyai putra yang begitu tampan."
__ADS_1
"Ya begitulah, semua anak saya memang tidak ada yang jelek," jawab Moreno tanpa beban sambil sesekali melirik ke arah Rafi yang lebih banyak diam ataupun hanya tersenyum tipis. "Selain menyambut kedatangan saya, apa ada hal lain yang membuat anda langsung meluangkan waktu datang kesini, Tuan Sergio?"
Pertanyaan yang langsung menuju ke intinya membuat sang tamu kembali menunjukkan rasa terkejutnya lalu senyumnya langsung melebar. "Hehehe ... yah seperti yang anda tahu, Tuan Moreno, namanya sesama pengusaha, kalau bertemu pasti memang ada maksud baik bukan?"
"Maksud baik? Maksud baik apa itu?" entah sengaja atau memang tidak tahu, Moreno melempar pertanyaan seperti itu.
Sergio kembali mengeluarkan suara tawa kecilnya. "Hehehe ... anda senang sekali bercanda rupanya, Tuan. Saya datang ke sini tentu saja ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan anda."
Kening moreno sontak berkerut. "Kerja sama?" sergio mengangguk dengan sangat antusias. "Bukankah usaha kita bergerak di bidang yang berbeda, Tuan?"
Kening Moreno langsung berkerut dan dia langsung menoleh ke arah Rafi. "bagaimana, Nak? Apa kamu berminat?"
Rafi yang sedari tadi diam karena memang masih buta dengan segala sesuatu dengan yang namanya bisnis dan perusahaan, sontak terkejut kala Moreno memberikan pertanyaan seperti itu. Raut wajah terkejut juga ditunjukkan oleh Sergio begitu dia menyaksikan Moreno meminta pendapat kepada pemuda di sebelahnya.
__ADS_1
"Tuan, kenapa anda minta pendapat kepada putra anda?" tanya Sergio dengan segala rasa penasarannya.
Moreno menatap Sergio kemudian senyumnya melebar. "Tentu saja saya harus meminta persetujuan anak saya. Karena dia yang akan menduduki kursi saya di perusahaann saya nanti."
Wajah Sergio terlihat syok, lalu dia langsung menatap ke arah Rafi tanpa mengatakan apa apa. Rafi yang ditatap oleh dua orang tua yang ada di sana semakin bingung hendak mengambil keputusan. Namun saat itu juga Rafi menjadi ingat sesuatu. "Bagaimana kalau kerja sama itu dipelajari dulu, Dad? Biar kita tahu untung ruginya bagi kita nantinya."
Jawaban spontan Rafi tentu saja membuat orang yang ada di sana terpeerangah. Rafi mengatakan hal itu tentunya dia teringat dari beberapa film yang pernah dia tonton. Rafi berkata seperti itu karena dia menmghingat ada beberapa film yang menunjukkan adegan kerja sama antar perusahaan yang membicarakan untung dan ruginya.
"Bagus sekali," Moreno teerlihat bangga. "Rupanya kamu lebih cepat mempelajari ilmu bisnis, Nak?"
Rafi hanya menunjukkan senyum lebarnya. Dia tidak menyangka kalau pendapatnya akan mendapat respon yang sangat bagus dari Moreno. Tapi jawaban yang kerluar dari mulut Rafi sepertinya tidak membuat senang pria yang ada dihadapannya.
"Ah, sial! Kenapa dia malah memberi pendapat seperti itu. bisa gagal rencanaku," umpat Sergio dalam hati.
__ADS_1
...@@@@@@...