SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Stok Aman


__ADS_3

"Temanku ini lagi butuh uang, Fi? kamu mau nggak bayar mahkota dia?"


Mata Rafi sedikit membulat mendengar apa yang dikatakan Nancy. Matanya menatap tajam dua wanita yang duduk di atas tembok secara berdampingan. Rafi lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari berpikir.


Sebenarnya Rafi ingin langsung mengatakan mau saat itu juga, tapi Rafi ingin cari tahu dulu alasannya wanita itu menjual mahkotanya. Rafi juga cukup terkejut dan menyangka dengan sikap Nancy. Apa mungkin Nancy juga cerita kalau dia menjual mahkotanya kepada Rafi? Astaga!


Selain itu, Rafi juga menunggu pemberitahuan misi berikutnya. Menurut Rafi, dia takut hal itu akan menjadi sia sia. Alasan utama Rafi mau membeli mahkota adalah untuk menjalankan misi. Jika Rafi menikmati mahkota tanpa perintaj misi, Rafi takut itu hanya pernbuatan sia sia belaka.


"Kita duduk di dalam aja, yuk.Nggak enak kalau ngobrol disini takut ada yang dengar," ajak Rafi sambil bangkit dari duduknya lalu beranjak ke tempat penerimaan tamu. "Emang teman kamu serius mau jual mahkotanya? Kok kesannya aku kaya sindikat permahkotaan ya?"


"Hahaha ... ya nggak apa apa, orang enak ini kan?" jawab Nancy, lalu dia menoleh ke arah temannya yang sedari tadi merasa canggung. "Kamu mau jual berapa segel kamu?"


Wanita itu menadang wajah Nanncy sejenak lalu menunduk. Kelihatan kalau dia pasti sedang bingung. Entah apa yang membuatnya bingung tapi yang jelas Rafi cukup mengerti. Meskipun Rafi mau membayarnya, Rafi tidak ingin gegabah dalam melakukan penawaran, dan Rafi juga perlu tahu alasan wanita itu memilih menjual segel kepadanya.


"Kalau malu, kamu minta saja nomer ponselku pada Nancy, nanti kita bisa ngobrol secara pribadi," mendengar ucapan Rafi, wanita bernama Lingze sontak mendongak dan tersenyum tipis lalu mengangguk. "Lagian kalau malam ini juga aku belum bisa melakukannya. banyak tugas yang harus aku kerjakan, karena tadi bosku ke sini," kilahnya. padahal Rafi sengaja mengulur waktu untuk menunggu misi berikutnya dari sistem.

__ADS_1


"Oh begitu, ya baiklah. yang penting temen aku udah tahu alamat rumah ini, jadi kalau dia serius ya biar longsung datang saja ke sini," balas Nancy.


Rafi setuju dengan apa yang dikatakn Nancy. Disana, mereka akhirnya saling berbagi cerita dan Rafi cukup tahu dengan alasan Lingze mau menjual mahkotanya. Selang beberapa waktu kemudian Nancy dan Lingze pamit. Teman Nancy berjanji akan menghubungi Rafi jika dia sudah siap.


"Lumayan punya stok mahkota," gumam Rafi terlihat bahagia.


Hari terus berlalu dan kini waktu kembali berganti. Seperti biasa. Rafi disibukkan dengan tugas paginya. Di saat Rafi sedang membersihkan lantai depan kost, matanya melihat Kalina yang sedang berbincang dengan seorang wanita. setelah diamati, ternyata wanita itu adalah wanita yang kemarin datang bersama pria bertato tulang ikan. Rafi cukup senang karena Kalina benar benar bersedia membantunya.


Setelah Rafi selesai dengan tugas tugasnya, seperti biasa, dia akan pergi membeli sarapan. Saat Rafi mengambil ponsel jadulnya, ternyata sudah ada pesan masuk dari sistem. Rafi segera saja membuka pesan itu dan membaca isinya. Ternyata misi yang Rafi jalankan masih sama, tapi hadiahnya saat ini lebih besat lagi yaitu lima puluh miliar.


Sementara itu di waktu yang sama tapi di tempat yang cukup jauh dari tempat keberadaan Rafi, terlihat beberapa pria sedang berkumpul di dalam bangunan yang memiliki pencahayaan remang remang. Ada sekitar lima pria di tempat tersebut. Mereka duduk bersama melingkari satu meja dengan ditemani beberapa botol alkohol yang merknya sangat familiar.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan tempat persembunyian anak dan istri si Madi?" tanya salah satu pria yang sepertinya adalah ketua dari orang orang yang ada disana.


"Belum. Tapi terakhir aku melihat kalau dia sedang menuju ke kota selatan," jawab yang lainnya.

__ADS_1


"Ke selatan? ngapain?"


"Ya aku ngga tahu. Tapi mereka bawa koper gede. Aku nggak bisa puter balik mobil karena terjebak macet dan jalan satu arah."


"Apa mungkin dia mencari tempat untuk menyembunyikan anak dan istrinya disana?"


"Sepertinya sih begitu. bagaimana kalau kita telusuri daerah selatan?"


"Harus itu! Jangan sampai dia membuka mulut tentang kita."


"Beres. Besok kita cari sama sama dan kalau bisa matiin sekalian anak dan istrinya saat ketemu."


"Hahaha ..."


Suara tawa kelima orang itu langsung pecah.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2