SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Keresahan Yang Melanda


__ADS_3

"Tuan, jangan seperti itu. Saya takut tidak bisa mengembalikan semua uang anda, Tuan," cicit si wanita.


"Jangan khawatir, ganti saua uang saya dengan apa yang kamu punya," celetuk Rafi dan hal itu membuat kening si wanita berkerut.


"Diganti dengan apa yang aku punya?" tanya si wanita.


Bukannya menjawab, Rafi malah tersenyum lebar dan kembali menghadap petugas untuk mengambil kartu hitamnya kembali. Setelah itu Rafi melangkah menuju sang supir tanpa menghiraukan pertanyaan si wanita yang masih penasaran dengan apa yang dikatakan Rafi.


"Bulan!" terdengar seseorang berteriak menyebut sebuah nama, dan wanita yang sedang mengikuti Rafi sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Seorang wanita tersenyum dan mendekat ke arahnya membuat wanita itu harus membiarkan Rafi pergi dengan supirnya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Gimana dengan keadaan ibu?"


Wanita bernama Bulan itu tidak langsung menjawab dan matanya mencari sosok pria yang tadi menolongnya. Rafi sudah tidak terlihat lagi dan hal itu cukup membuat Bulan merasa panik dan tidak enak hati. "Kamu nyari apa sih?" tanya wanita yang baru saja datang sambil ikut celingukan.


"Orang yang tadi menolong aku dan ibu, pergi kemana dia?" jawab Bulan dengan mata terus berusaha mencari sosok Rafi. Tapi Rafi benar benar telah menghilang dari pandangan.


"Kenapa mesti dicari? Kalau orangnya sudah pergi ya biarkan saja."

__ADS_1


"Dia itu bukan hanya sekedar menolong," balas Bulan lalu menyodorkan kertas yang dia pegang. "Lihat, semuanya sudah lunas sampai satu minggu ke depan, ini orang tadi loh yang bayarin."


"Apa!" wanita itu memekik lalu mengambil alih kertas dari tangan Bulan. "Dua puluh empat juta? Kok banyak banget? Kata kamu tadi cuma sekitar empat juta?"


"Ya awalnya memang segitu waktu aku telfon kamu, itu tadi biaya sekitar satu dua hari. Tapi orang yang menolongku malah membayarkan semua biaya rawat sampai satu minggu. Ya aku kaget dong."


"Hahaha ... ya udah, di terima aja. Kan itu rejeki kita? Orangnya langsung pergi berarti dia nggak meminta imbalan kan? Atau meminta mengembalikan?"


"Kata siapa? Orang dia bilang aku disuruh ganti dengan apa yang aku miliki. Ya otomatis aku bingung, orang aku juga tidak punya apa apa."


Kening wanita muda yang mungkiin usianya hampir sama dengan Bulan langsung berkerut. Dia jadi ikut kepikiiran setelah mendengar perkataan Bulan. "Mending kita jenguk ibu dulu deh sambil nanti kita cari jalan keluarnya."


"Ruang rawat inapnya bagus banget," seru si wanita saat memasuki salah satu ruang yang hanya bisa digunakan untuk satu orang pasien. "Apa ini ruang VVIP? Keren ya?"


"Ya kerenlah, orang biayanya saja sampai puluhan juta," balas si Bulan. Di saat bersamaan, Sang ibu juga tersadar dari tidurnya. Dia pun mengeluarkan suara sampai membuat dua wanita yang sedang duduk di sofa langgsung mendekatinya,

__ADS_1


"Ibu sudah sadar? Bagaimana dengan kedaan Ibu? Apa ada yang sakit lagi nggak?" Bulan langsung memberondong wanita yang tergolek lemah di atas brangkar.


Bukannya menjawab, Ibu itu malah mengedarkan pandangannya ke ruangan yang dia tempati. Dengan kening yang berkerut, mata wanita itu menelisik setiap sisi dan barang yang ada di ruang tersebut. "Kenapa kalian membiarkan Ibu di rawat? Bukankah ini akan mengeluarkan banyak biaya?"


Dua wanita muda yang berdiri saling berhadapan diantara brangkar sontak saling pandang sejenak. "Ibu tidak perlu khawatir, semua biaya sudah ada yang menanggungnya," balas wanita yang bersama Bulan.


Kening si Ibu kembali berkerut. "Siapa? Apa orang yang kita tabrak, Lan?"


"Bukan, Bu," jawab Bulan. "Orang yang tadi ngantar ibu ke rumah sakit."


Si Ibu sontak berpikir tentang orang yang menolongnya. Wanita itu masih ingat dengan suara seseorang yang dengan lantang menantang pria yang mobilnya di tabrak oleh motor yang dikendarai Bulan. "Lalu dimana orang itu?"


"Orangnya sudah pergi sejak tadi, Bu," jawab Bulan.


"Sudah, Ibu tidak perlu memikirkan yang lainnya. Ibu fokus aja pada kesehatan ibu, ya?" wanita muda yang lainnya ikut menenangkan wanita yang terbaring di atas brangkar.

__ADS_1


"Bagaimana Ibu bisa tenang, kalian tahu kan kalau tempat yang kita tinggali akan segera dibongkar. Bagaimana mungkin Ibu bisa berdiam disini sementara kalian dan anak anak yang lain terancam kehilangan tempat tinggal. Ibu harus bagaimana?"


...@@@@@...


__ADS_2