SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kesepakatan


__ADS_3

"Mas."


"Hum? Apa?"


"Daripada kamu memberi hutang sama aku, dan aku takut nggak bisa bayar hutang, bagaimana kalau aku menjual mahkotaku saja sama kamu."


tatapan mata Rafi langsung tertuju pada wanita yang kini juga sedang menatapnya. "Kamu yakin? Bukankah kamu melarikan diri dari pacar kamu juga karena kamu nggak mau dijual?"


Wanita itu mengangguk sejenak lalu menunduk. "Karena situasinya beda, Mas. Kalau ini uangnya benar benar untuk aku sendiri, bukan untuk orang yang menjualku," ucap wanita itu dan dia kembali menatap Rafi. "Lagian aku sudah nggak tega lihat orang tuaku, Mas. Ayah benar benar tergeletak di kasur, sedangkan ibu capek sendirian."


Rafi mengangguk tanda mengerti dengan tatapan yang masih lekat memandang wanita di hadapannya. "Jika kamu siap ya aku nggak akan menolaknya."


Wanita itu malah tersenyum. "Makasih, Mas. Kapan kamu akan melakukannya, Mas?"


"Tersera kamu, siapnya kapan dan kamu coba pikir ulang kembali, keputusan kamu ya?"


"Baik Mas, ya sudah aku ke kamar dulu, mau mandi," Rafi mempersilakan dan wanita itu pergi dengan beban terasa lebih ringan. Tidak seperti tadi sebelum ada kesepakatan dengan Rafi. Pemuda itu lantas tersenyum, setidaknya dia kali ini tidak bingung untuk mencari wanita bersegel demi menuntaskan misi berikutnya.

__ADS_1


Waktu terus bergulir dan kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rafi yang juga sudah mandi sejak beberapa menit yang lalu, kini kembali duduk di post jaga. Saat matanya sedang berkeliling, Rafi menangkap sosok wanita yang akan menjual mahkota kepadanya. Wanita itu kini terlihat lebih cantik daripada siang tadi.


"Kamu mau kemana? Kok udah cantik dan rapi gitu?" tanya Rafi begitu si wanita berada didekatnya.


Wanita itu tersenyum. "Ya kan aku mau melayani kamu, Mas. Masa aku harus kelihatan jelek dan berantakan kayak tadi siang."


Mendengar jawaban si wanita sontak membuat Rafi salah tingkah sampai tersenyum canggung dan gelagapan. "Kamu udah sangat yakin? Mau menyerahkan mahkotamu padaku?"


Wanita itu sekarang duduk di atas tembok seperti biasa. "Aku sudah memikirkannya dan aku sudah yakin dengan keuputusanku. Lagian kamu cowok pertama yang sudah lihat punya ku kan?"


Rafi lantas nyengir dan mengangguk. "Iya, punya kamu sangat indah. Kayak tembem gitu."


"Apa harus malam ini ya?"


"Ya lebih cepat lebih baik bukan? Lagian kalau besok, nanti ada wanita itu gimana? Yang ada aku bakalan goyah karena malu dan takut ketahuan menjual mahkota pada kamu."


Rafi mengangguk tanda mengerti. Apa yang dikatakan wanita itu benar. Kalau Marisa datang, Rafi bakalan bingung mau main dimana. "Kamu belum makan kan? Mending kita makan dulu yuk," ajak Rafi. Wanita itu jelas sekali menurutinya. Mereka lantas keluar untuk membeli makanan.

__ADS_1


Tanpa terasa, waktu terus bergulir. Dan tanpa diduga juga, tiba tiba hujan yang cukup deras kini melanda. Wanita itu sekarang sudah berada di dalam kamar Rafi, menunggu sang pemuda selesai melaksanakan tugasnya. Karena penghuni kost sudah terlihat pulang semua, Rafi bergegas menuntup pintu gerbang dan menguncinya serta kembali mengecek ulang segala yang berhubungan dengan tempat kost tersebut.


Wanita itu tersenyum saat Rafi masuk ke dalam kamar setelah selesai dengan tugas tugasnya. Rafi pun membalas senyum wanita itu lalu menutup pintu kamar. Rafi memilih duduk di lantai dan suasana tiba tiba berubah menjadi canggung dan hening untuk beberapa waktu.


"Hujannya deras banget apa, Mas?" tanya si wanita memecah keheningan yang terjadi.


Rafi mengangguk pelan. "Iya, lumayan deras."


Wanita itu juga mengangguk. Sungguh suasananya malah menjadi canggung saat ini. "Kamu sudah pernah melakukan hubungan badan apa, Mas?"


"Hem, em iya," Rafi agak tergagap menjawabnya. Bahkan dia sempat tersenyum tanggung sebelum dan setelah menjawab pertanyaan wanita itu.


"Biasanya apa yang dilakukan pertama kali sebelum melakukannya?"


Kening Rafi berkerut. Nampak dia sedang berpikir. "Ya tergantung keadaan sih, cuma seringnya sih kita perang bibir dulu dan saling meraba untuk membangkitkan gejolak."


Wanita itu mengangguk tanda mengerti. "Ya sudah, Mas, mari kita perang bibir daripada kita saling diam kayak gini."

__ADS_1


Rafi tercengang mendengarnya, tapi tak lama kemudian dia mengangguk. Wanita itu langsung merebahkan tubuhnya bersiap diri dan pasrah. Begitu melihat apa yang dilakukan si wanita, Rafi merangkak dan ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi miring dan wajahnya di topang dengan tangan menghadap wajah wanita itu. Tangan Rafi bergerak dan membelai pipi lembut milik si wanita.


"Kamu sudah siap?" wanita itu mengangguk. "Baiklah." Rafi membelai lembut pipi wanita itu dan mereka saling melempar senyum, lalu Rafi menggerakkan kepalanya hingga bibir itu nempel pada bibir si wanita. Perang bibir pun terjadi sebagai pertanda awal bersatunya dua badan.


__ADS_2