
Masih di malam yang sama. Setelah Rafi dan Marisa sampai di rumah baru kediamannya, Rafi memilih tidak langsung menuju kamarnya. Dia sengaja tidak langsung ke kamar karena ingin menyendiri agar bebas melakukan sesuatu yang sedang mengganjal dipikirannya tanpa ada gangguan dari Marisa.
Sesekali Rafi menatap layar ponsel jadulnya. Membaca pesan yang isinya sama yaitu tentang misi menmcari wanita bersegel. Entah kenapa kali ini dia sangat tidak bersemangat untuk menjalankan misi selanjutnya. Memang hadiah yang dia dapatkan lebih besar dari yang sebelumnya, tapi Rafi merasa sudah cukup puas menikmati lubang wanita yang masih bersegel.
Dalam benak Rafi, kali ini dia hanya ingin kembali menjalani kehidupan normal sebagai laki laki yang biasa saja. Rafi merasa lelah jika dia terus mencari wanita bersegel dan pada akhirnya nanti akan menghancurkan masa depan wanita tersebut. Rafi takut, ke depannya itu akan menjadi masalah yang bisa saja menyerangnya sewaktu waktu disaat dia sudah berkeluarga.
"Hai, Nak, kamu melamun lagi?" suara Moreno yang tiba tiba menggelagar di dekat Rafi, membuat pemuda yang pikirannya sedang berkecamuk itu terkejut. Rafi menoleh dan matanya menangkap sosok yang sudah berdiri di sampingnya. "Apa ada masalah? Sampai kamu tidak menyadari kedatangan Daddy?" Moreno langsung duduk di kursi yang ada di sana.
Rafi tersenyum canggung. "Tidak, Dad," balas Rafi dusta.
Moreno sontak tersenyum tipis. "Jangan bohong. Daddy tahu, pasti sedang ada yang kamu pikirkan? Katakan ada masalah apa?"
Rafi tercenung. Dia diam dengan perasaaan bingung. Apa mungkin dia harus menceritakan semua yang terjadi padanya pada pria itu. jujur, Rafi memang butuh tempat berbagi cerita yang juga bisa mmberinya jalan keluar untuk menentukan langkah apa yang akan dia ambil.
__ADS_1
Moreno juga sama ikutan terdiam. Mata pria tua itu menangkap kalau pemuda yang menjadi anak angkatnya sedang dilanda gelisah. Dia dengan sabar menunggu sampai rafi mau membuka suaranya dan mau menceritakan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Dad, apa Daddy percaya dengan sebuah keajaiban?" akhirnya Rafi pun mulai membuka suaranya setelah tadi dirinya terdiam beberapa menit.
"Keajaiban? Keajaiban yang bagaimana?" tanya Moreno dengan kening berkerut.
Rafi mengembus nafasnya secara pelan lalu matanya menatap lurus ke taman belakang yang dihiasi dengan cahaya remang remang. "Aku sendiri juga bingung, Dad. Keajaiban ini sungguh diluar nalar pikiran manusia. Aku ingin tidak percaya dengan apa yang aku alami ini, tapi ini benar benar terjadi padaku, Dad."
Moreno nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali dan dia makin penasaran dengan apa yang dialami pemuda itu sebenarnya. "Memang keajaiban apa yang kamu alami? Apa itu sesuatu yang menyakitkan?"
Moreno awalnya terkejut mendengar semua yang Rafi katakan tapi tak lama setelahnya dia tersenyum. "Kenapa kamu tidak menikmatinya saja? Bukankah itu keistimewaan yang tidak semua orang bisa dapatkan?"
"Aku tahu. Tapi aku lelah, Dad. Aku takut gara gara keajaiban ini, bisa menjadi masalah besar dikemudian hari."
__ADS_1
Moreno lantas teratawa kecil. "Daddy tahu. berhubungan dengan banyak wanita memang sangat rentan menimbulkan masalah besar. Karena daddy pun dulu sering mengalaminya."
Kini Rafi yang merasa terkejut mendengar penuturan pria di sebelahnya. "Apa Daddy juga sering berganti teman tidur?"
Moreno langsung tertawa cukup keras. "Tentu. kamu lihat kan, meski Daddy sudah tua tapi Daddy masih kelihatan tampan dan gagah?" Rafi sontak mencebikan bibirnya mendengar kepercayaan diri Moreno yang begitu tinggi. Tapi Rafi juga mengakui kalau pria itu memang masih nampak gagah diusianya yang tidak muda lagi.
"Sejak Daddy mengenal hubungan ranjang, entah sudah berapa wanita yang sudah Daddy tiduri. Dari yang masih bersegel ataupun yang bekas orang. Tapi semua itu ada aja wanita yang menganggap kalau Daddy adalah miliknya. Padahal tidak semua wanita yang Daddy tiduri itu karena cinta. Apa lagi banyak wanita yang rela melepas bajunya sendiri tanpa Daddy minta."
"Terus, bagaimana cara Daddy mengatasi wanita wanita seperti itu?"
"Ya Daddy bilang saja apa adanya. Bukankah sebelum terjadinya hubungan ranjang, sudah ada kesepakatan kalau hubungan itu hanya terjadi di malam itu."
Rafi nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali kemudian dia menghembus nafasnya secara kasar. "Lalu menurut Daddy, apa yang harus aku lakukan? apa aku melanjutkan misi ini selamanya?"
__ADS_1
...@@@@@...