SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Saling Menggoda


__ADS_3

Masih di malam yang sama dan juga disekitar area tempat kost. Tepatnya di sebuah ruang tamu, Rafi sendiri terlihat sedang berbincang dengan wanita yang katanya akan menjual mahkotanya. Namanya Dinda, wanita itu sedari tadi lebih banyak terdiam. Mungkin Dinda merasa canggung karena baru kali ini wanita itu akan melakukan transaksi yang tidak wajar.


"Apa aku boleh tahu, alasan kamu menjual mahkota kamu kepadaku, Mbak?" pertanyaan yang sering terlontar dari mulut Rafi kepada para wanita yang menjual mahkotanya. Maksud dari pertanyaan Rafi itu semata mata hanya ingin wanita itu nantinya tidak menyesal dikemudian hari dan juga Rafi hanya mau membeli mahkota pada wanita yang benar benar membutuhkan.


Dinda mendongak sesaat dengan lawan bicaranya, lalu dia kembali menunduk. "Aku ingin memiliki tempat berlindung untuk keluargaku, Mas. walapaun kecil, setidaknya kami memiliki tempat tinggal tanpa harus membayar tiap bulannya."


Kening Rafi seketika berkerut. Merasa heran dengan alasan yang dikatakan wanita itu. "Memang sekarang kamu dan keluarga kamu tinggal dimana?"


"Kami tinggal di kontrakan yang cukup sempit. Ada lima orang termasuk aku. Sedangkan yang bekerja hanya aku dan ibuku. Ayahku sejak terkena phk menjadi berubah sikap. Dia lebih banyak melamun dan sering ngomong sendiri. Mungkin karena merasa bersalah kepada keluarga dan juga takut dengan masa depan keluarganya, ayahku sampai bersikap seperti orang gila. Dua adikku juga masih cukup kecil, tapi mereka kadang memaksa untuk ikut mencari uang. Jujur, aku sendiri bingung. Untuk makan aja kami cukup kesusahan, di tambah lagi kami harus memikirkan biaya sewa rumah yang cukup mahal."

__ADS_1


Rafi nampak menganggukan kepalanya sebegai tanda kalau dia mengerti dengan yang dirasakan wanita itu. Terdengar sangat cukup memprihatinkan hingga wanita itu dengan terpaksa mau menjual apa yang dia miliki. "Terus, bagaimana dengan masa depan kamu jika kamu sudah tidak bermahkota?"


Wanita itu mendongak dan menatap Rafi dengan tatapan cukup tajam. "Jika aku peduli dengan masa depanku sendiri, lalu bagaimana masa depan keluargaku? Sejak usiaku masih lima belas tahun, aku terpaksa putus sekolah karena peristiwa yang menimpa keluargaku. Berbagai usaha sudah aku lakukan bersama ibu. Jujur, aku sudah lama ingin menempuh jalan pintas, tapi baru kali ini aku menemukan jalan ini. Aku sudah mencoba menerima berbagai tawaran uang, tapi buat apa jika uang yang aku terima tidak sebanding dengan masa depan yang aku pertaruhkan."


Rafi sontak tersenyum cukup lebar. "Baiklah, jika kamu memang sudah bulat dengan keputusan kamu, aku bisa apa. Tapi maaf, aku tidak bisa melakukannya malam ini."


Dinda sontak menunjukkan wajah terkejutnya. "Kenapa tidak bisa malam ini? Bukankah lebih cepat akan lebih baik?"


Dinda nampak berpikir hingga tak butuh waktu lama wanita menyetujuinya. Mereka lantas saling bertukar nomer ponsel dan kembali melanjutkan obrolan masing masing.

__ADS_1


Sedangkan di salah satu kamar kost milik Rafi, Dito makin dibuat takjub oleh wanita yang sedang bersamanya. Wanita itu bahkan senang saat mendapat pujian tentang keindahan tubuhnya. "Kamu lagi nggak ngegombalkan, Mas? Banyak loh, pria yang bilang kalau tubuh aku jelek."


"Banyak yang bilang? Emangnya sudah banyak pria yang melihat tubuh kamu tanpa busana?" tanya Dito dengan kening yang berkerut. Dito tukup terkejut mendengar ucapan si wanita.


Wanita itu sendiri juga menunjukan wajah terkejutnya saat Dito melempar pertanyaan seperti tadi. "Ya bukan seperti itu maksudku, Mas," wanita itu langsung membantah pernyataan Dito. "Mereka itu pada bilang jika aku melepas pakaian, pasti tubuhku sangat jelek, karena saat memakai baju juga tubuhku udah terlihat jelek, apa lagi tanpa baju."


Alasan yang cukup membuat tercengang, tapi hal itu menjadi kesempatan Dito untuk berbuat lebih jauh lagi. "Mungkin mata pria itu penyakitan. Masa ada tubuh seindah itu dibilang jelek. Apa lagi tadi aku sempat mrlihat bukit kembar kamu dan juga lubang dibawah perut kamu, indah banget tahu, Mbak. Jadi pengin megang."


Wanita itu malah tersenyum lebar. Dia merasa kalau targetnya sudah hampir masuk ke dalam permainannya dan dia hanya harus bersandiwara sedikit lagi agar pria yang dianggap Rafi, masuk ke dalam perangkapnya. "Hahaha ... gombal banget sih, Mas. mana ada bukit kembarku bagus. Orang kecil gini."

__ADS_1


"Astaga, nggak percaya? Orang bagus banget gitu, sampai aku sangat pengin memegangnya," Dito mencoba meyakinkan dan ucapannya sukses membuat hati wanita itu girang bukan main.


...@@@@@@...


__ADS_2