SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya bantuan pun datang. Karena jarak dari kota besar dan tempat keberadaan Rafi yang cukup jauh, bantuan datang di saat malam hampir saja menjelang larut. Rafi memberi perintah kepada anak buah Moreno untuk menempatkan para penjahat di tempat yang telah ditentukan.


"Sekarang kita bagaimana?" tanya Dito begitu mobil yang membawa para penjahat sudah pergi. Rafi sangat percaya kalau anak buah Moreno bisa diandalkan, jadi dia memilih untuk tidak mengikuti mobil yang dikendarai oleh anak buah.


"Bagaimana apanya?" tanya Rafi yang sedikit bingung dengan pertanyaan Dito. Dia membalikan tubuh dan melangkah menuju ke mobilnya.


"Kita mau pulang apa gimana? Soalnya ini sudah jam dua belas malam. Bisa saja, kita sampai rumah sudah pagi. Emang waktunya cukup untuk kita pergi ke kantor?" tanya Dito lagi yang mengikuti langkah Rafi menuju mobilnya.


"Benar juga, aku juga lumayan lelah setelah berkerlahi tadi," ucap Rafi yang kini sudah berada di dalam mobil.


"Apa lagi aku. Tadi siang habis main tiga ronde dan sekarang baru selesai bertarung. Penginnya langsung rebahan," balas Dito yang sudah duduk di tempatnya.


"hahaha ...siapa suruh main tiga ronde," cibir Rafi. "Ya udah, kita cari hotel terdekat saja. Urusan kantor, biar aku yang ngomong sama Daddy."

__ADS_1


"Sipp!" Dito langsung mengacungkan jempolnya dan pria itu terlihat senang dengan usulan Rafi. Dito memang sudah terlihat sangat lelah. Mobil pun melaju meninggalkan area hutan dan dengan bantuan ponsel, Dito berhasil menemukan hotel terdekat dengan keberadaaan mereka saat ini.


Beruntung, setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mereka sudah ada di hotel yang cukup mewah di salah satu kota sebuah kabupaten. Mereka bergegas saja melakukan pemesanan dua kamar dan mereka langsung bersiap diri untuk istirahat. Beruntung mereka bawa baju ganti yang masih bersih di dalam koper mereka sebagai persediaan saat pergi ke kampungnya Rafi.


Waktu terus bergulir dan hari kini berganti lagi. Sekarang sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan Rafi baru saja membuka matanya beberapa saat yang lalu. Karena keadaan darurat, Moreno juga memberi ijin anaknya untuk libur kerja terlebih dahulu. Meskipun Rafi menjabat sebagai presdir, tapi Rafi tahu batasannya dalam bekerja seperti apa, jadi dia tidak bisa seenaknya mengambil waktu libur.


Karena bingung tidak ada kegiatan, Rafi memutuskan keluar kamar untuk sekedar berolah raga kecil sambil melihat lihat suasana kota di sekitar hotel. Kota itu hampir sama dengan kota yang ada di kampung Rafi. Tidak terlalu ramai dan sangat sejuk. Mungkin karena hanya kabupaten kecil jadi kotanya juga tidak seramai kota besar atau ibu kota yang lainnya.


"Amanda!" seru Rafi saat sudah berdiri di sebuah toko dan menyebut nama seorang wanita yang sedang merapikan barang dagangannya.


Wanita yang sedang berjongkok memunggungi Rafi sontak menoleh. "Rafi!" seru wanita itu tak kalah terkejutnya. Wanita itu bahkan sampai berdiri dan langsung memeluk tubuh pria yang pernah menikmati lubang nikmatnya saat masih bersegel. namun pelukan itu hanya berlangsung sesaat dan wanita itu langsung melepasnya. "Kamu ngapain di sini?"


Rafi juga tadi sempat kaget saat wanita itu memeluknya. Bahkan saat ini dia menjadi gugup karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. "Aku nggak sengaja lewat, Man. Aku habis dari kampung. Karena kemalaman, aku memutuskan nginep di hotel itu," ucap Rafi agak tergagap sambil menunjuk hotel yang kelihatan dari tempatnya berada.

__ADS_1


"Oh," Amanda nampak mengangguk. "Masuk, Fi. Nanti aku kenalin kamu sama Mommy," ajak Amanda. Rafi pun tak kuasa menolaknya, dan dia mengikuti Amanda masuk ke dalam dimana rumah wanita itu ada di belakang toko sembako.


"Oh ini, yang namanya Rafi," seru ibunya Amanda begitu bertemu dengan Rafi. "Terima kasih loh, Nak, sudah menolong Ibu dan juga Amanda. Sekarang kita bisa hidup tenang disini."


Rafi tersenyum canggung. Meski Rafi memang menolong mereka, tapi ada harga yang dilakukan Amanda untuk keluarganya yaitu dengan hilangnya mahkota milik anak wanita itu. "Sama sama Tante, aku juga ikut senang karena bisa membantu keluarga Tante.


Wanita yang masih kelihatan cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu nampak tersenyum. "Setidaknya, meski hidup sederhana, adik adik Amanda bisa tenang menjalankan aktifitasnya, tanpa harus dibully karena kelakuan ayahnya," ucap wanita itu dengan wajah berubah sendu. "Nak, apa saya boleh meminta tolong lagi?"


"meminta tolong apa, Tante?"


"Tolong rebut perusahaan Sergio untuk anak anak saya, bisa?"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2