
Membosankan. itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Rafi saat ini. Pria yang terbiasa hidup dalam lingkungan kalangan menengah ke bawah, kini harus berada di sebuah pesta dimana para tamunya adalah orang orang dari kalangan atas yang hidupnya hanya penuh kepalsuan.
Kenapa Rafi sangat yakin kalau beberapa tamu disini itu hidup dalam kepalsuan? Karena sepanjang Rafi memperhatikan gaya pembicaraan mereka, hampir semua kata yang terlontar, hanya berupa pujian basi basi dan penuh sanjungan demi untuk mendapat simpati agar bisa menjalin kerja sama, atau untuk mencari informasi kelemahan perusahaan dari lawan bicara mereka.
Rafi berani menyimpulkan seperti itu karena dia merasakan sendiri saat dirinya berkenalan dengan beberapa orang yang menyanjung dirinya tapi ujung ujungnya melempar penawaran atau pertanyaaan yang penuh selidik. Maka itu Rafi sangat jengah berada di lingkungan seperti ini.
Rafi semakin merasa jenuh, bahkan ada rasa kesal saat menyaksikan tawa bahagia keluarga ayahnya. Rafi sungguh tidak habis pikir kalau mereka bisa hidup dalam kebahagian penuh harta, dan mereka lupa kalau mereka memiliki anggota keluarga yang sengaja mereka telantarkan. Sungguh, seandainya saat ini mampu, Rafi ingin memberi pelajaran pada mereka semua.
"Kamu kenapa dari tadi diam, Fi?" tanya Marisa sembil menikmati beberapa hidangan yang telah dia ambil dan mereka memutuskan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Meski pesta itu mengambil tema standing party, tapi tetap saja, para pekerja yang menangani acara tersebut menyediakan beberapa meja dan kursi untuk para tamu yang bisa digunakan untuk istirahat.
"Nggak kenapa kenapa, cuma bosen saja," jawab Rafi setelah menyesap minuman dalam gelas yang dia pegang. "Biasanya acara seperti ini selesai jam berapa sih?"
"Ya biasanya sih nyampai jam dua belas malam. Baru saja selesai peresmian kan?" terang Marisa yang tatapannya sesekali teralihkan ke arah Rafi dan sekitarnya.
__ADS_1
"Lama banget ya? Pengin pulang duluan, Nggak enak sama Daddy."
Marisa sontak tertawa lirih. "Ya nggak enak lah. Yang ada nanti Om Moreno kecewa. Salah satu tujuan dia mau datang ke pesta kan ingin menunjukkan kamu sebagai penerus perusahaannya yang ada di negara ini, Fi."
Rafi mendengus kasar, sedangkan Marisa masih tersenyum setelah tadi tertawa lirih. Karena minumannya sudah habis, Marisa bangkit dari duduknya dan beranjak untuk mengambil air minum yang ada tak jauh daru tempat keberadaannya. Setelah pamit kepada Rafi, Marisa langsung melangkah menuju meja dimana deretan aneka ragam minuman tertata rapi.
Mata Rafi terus memantap Marisa yang perlahan melangkah menjauh. Sesekali mata Rafi puin mengedar ke sekitarnya. Namun saat Rafi melihat ke salah satu arah, matanya menangkap sosok yang sedang menyeringai sembari melangkah ke arah yang sama seperi Marisa. meliat sosok wanita dengan sikap yang mencurigakan, Rafi segera ambil tindakan. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju ke arah Marisa.
Benar dugaan Rafi, wanita yang bernama Tania itu memang ada maksud terselubung. begitu langkahnya dekat dengan sang target. Tangan wanita itu terlihat bergerak dan terangkat hendak mendorong tubuh Marisa dari belakang. Saat itu Marisa memang sedang mengambil air minum dan beberapa hidangan lagi, jadi matanya sibuk menghadap ke arah makanan.
Brak!
Prang!
__ADS_1
"Akh!"
Mendengar suara teriakan yang cukup keras, sontak membuat semua yang ada di pesta menoleh ke arah sumber suara. Semua yang ada di sana begitu terkejut saat melihat salah satu dari tuan rumah terperosok dengan wajah dan sebagian pakaian atasnya penuh dengan krim dan kue kue.
"Tania, kamu apa apaa sih!" hardik Sonya, ibunya Tania. "Malu maluin aja. Sana pergi ke toilet."
"Apaa sih, Mah. Ini juga gara gara aku ada yang mendorongnya," ucap Tania dengan mata merilik ke arah Marisa dan Rafi dengan tatapan penuh kesal.
"Mana mungkin ada yang mendorong kamu. Nggak usah ngarang cerita, malu," Sonya berkata dengan suara pelan karena takut didengar oleh para tamu.
"Ya memang aku beneran di dorong kok, Mah," Tania masih berusaha membela diri dengan mengatakan suatu kebohongan. "Kalau nggak percaya, tanya saja sama wanita yang berdiri di dekat Tuan Rafi. dia yang mendorong aku."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@@...