
"Cepet buka celanaku!"
Lingze sontak ternganga dengan sikap Rafi yang terbilang aneh tapi ajaib. Dengan wajah masih diketuk tangan Lingze bergerak membuka pengait celana pendek yang dipakai pemuda itu. Karena merasa sedikit kesusahan, Rafi berinisiafif berdiri sejenak melepas dua celana yang dia pakai. Begitu celana terlepas, Rafi kembali ke posisi yang sama seperti tadi, berdiri menggunakan lutut dan menyodorkan benda miliknya yang belum sepenuhnya menegang ke arah mulu Lingze.
Mungkin benar, Lingze sudah berpengalaman memainkan milik pria. Gerakan tangan wanita itu sangat tangkas dan lembut saat menggenggam milik Rafi dan memancingnya agar batang itu tegak berdiri. Lingze sedikit menggeser tubuhnya hingga kepalanya bersandar pada tembok dan dia mendapatkan posisi yang nyaman saat hendak memainkan milik Rafi dengan mulutnya.
Mata Rafi sungguh tak lepas dari apa yang dilakukan wanita di bawahnya. Lingze terlihat sangat seksi dan lahap dalam menikmati milik Rafi yang sangat dihiasi oleh bau keringat. Rintihan nikmat dengan kepala sesekali mendongak, Rafi serukan karena rasa enak yang hadir akibat dari jilatan lidah serta permainan mulut wanita itu.
"Kamu keturunan arab apa, Fi? Kok bisa punya kamu gede banget kayak gini?" tanya Lingze disela sela menikmati batangnya. Lidahnya menari nari diujung batang berlubang.
Rafi sontak terkekeh. "Bukan lah! Gede dari lahir itu. Emang punya cowok kamu kecil atau giman?"
"Kecil banget. Aku kayak makan permen kalau lagi mainin milik pacar. Nah ini punya kamu, sampai mentok tenggorokan aja masih ada sisa."
__ADS_1
Rafi malah terkekeh. Matanya terus menatap wanita yang sedang menciumi aroma rumput hitam yang rimbun di sekitar batangnya. "Kamu itu cantik banget loh, Ling. Tapi kok kamu kayak nggak jijik makan punyaku? Padahal kotor banget itu, pasti bau keringat."
"Entah, aku juga heran, tapi meski bau keringat, rasanya lebih enak sih. Aku pernah mencoba batang yang baunya wangi, nggak enak rasanya. Aku jadi kayak sedang menikmati sabun gitu."
Rafi kembali tersenyum lebar tanpa ada niat mau membalas ucapan Lingze lagi. Permainan mulut Lingze sungguh sangat nikmat sampai menembus tulang. Sesekali wanita itu juga menyuruh rafi untuk menggerakkan pinggangnya. Rafi tenttu saja mau dan yang pasti dilakukan oleh Rafi adalah menyodok nyodok mulut Lingze sampai ke tenggorakan. Hingga beberapa menit kemudian, karena rasanya terlalu nikmat, Rafi tak kuasa menahan sesuatu dari dalam miliknya yang sudah sangat ingin keluar. Tubuh Rafi seketika langsung menegang saat miliknya mentok ditenggorokan.
"Akhh~~" Rafi meracau keenakan.
"Kenapa keluar nggak bilang sih, sayang? Ada yang ketelen ini," protes Lingze sesaat setelah dia menyingkirkan milik Rafi dari dalam mulutnya.
"Ah sialan. Ada yang ketelan tahu! Mana banyak banget lagi, huu." Rafi hanya cengengesan. "Masih bisa tegang, kan?"
"Tuh! masih siap dong. Mau aku masukin sekarang?"
__ADS_1
"Iya lah, ngapain lama lama."
Rafi langsung bergerak menindih tubuh Lingze. Sebelum mereka menuju permainan inti, tentu saja mereka perlu melakukan pemanasan untuk kembali membangkitkan gejolak yang sempat terhenti beberapa saat tadi. Lingze memang terlihat sudah benar benar pasrah ketika Rafi melepas satu persatu kain yang menutupi tubuhnya. Wanita itu bahkan tidak menutupi benda penting dengan telapak tangan seperti yang dilakukan Kalina.
Kini Rafi sudah bersimpuh diantara kaki Lingze yang sudah membentang. Rafi memperhatikan milik Lingze begitu mulus tanpa rumput, berwarna putih berpadu dengan merah jambu. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan cantik seperti pemiliknya. Tanpa perlu pertanyaan lagi, Rafi mulai menggesekan ujung miliknya di bibir celah milik Lingze. Setelah hatinya merasa yakin, Rafi mulai menggerakkan pinggangnya, mendorong miliknya perlahan masuk ke dalam celah yang masih sangat sempit.
"Aakkhh~~" rintihan kesakitan langsung menggema memenuhi ruang kamar. Tubuh tegang dan wajah pucat terlihat jelas pada diri wanita yang tangannya mencengkram sprei dengan sangat kuat di sisi kanan kirinya.
Gerakan pinggang Rafi berhenti tatkala dia merasakan sesuatu di dalam sana. Sekarang Rafi percaya kalau wanita yang sedang meringis kesakitan itu memang masih tingting. Rafi menghirup udara dalam dalam dan menghembusknnya secara perlahan. Setelah yakin dan siap, Rafi mulai menggerakan pinggang dengan cepat.
BLess!
"Akkhh~~" rintihan kesakitan kembali keluar dari mulut Lingze. kali ini suara rintihannya lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
Rafi menarik batangnya dan saat itu juga dia melihat ada darah diujung batangnya. "Lima puluh miliar sukses," gumamnya sambil tersenyum jahat.
...@@@@@...