SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kekuatan Tak Terduga


__ADS_3

"Ampun, Tuan, tolong, lepaskan saya," rintihan memelas kini keluar dari pria yang diperkirakan usianya sama dengan Moreno. Pria itu sangat ketakutan karena saat ini dirinya dalam keadaan tercekik dengan tubuh yang terangkat. Suaranya bahkan terdengar gugup dan terbata menahan rasa sakit dan juga takut yang melebur jadi satu.


"Ampun? Tolong? Bukankah anda tadi juga tidak mau mengampuni dan menolong wanita itu? Kenapa anda malah mengemis pertolongan dari saya?" balas Rafi dengan tatapan yang kembali terlihat meremehkan namun juga ketakutan. "Dan kalian, apa kalian benar benar dibutakan oleh uang sampai tidak punya hati, mengusir anak anak yang ada di panti ini!" tunjuk Rafi pada anak buah musuh.


Para anak buah yang sedang menahan perih akibat serangan yang mereka dapatkan, hanya terdiam begitu Rafi meloontarkan pertanyaan untuk mereka. Para pria tegap berjumlah enam orang itu, masih tidak menyangka kalau mereka akan ditumbangkan oleh satu pria yang tubuhnya tidak kalah tegap dan kekar seperti tubuh mereka. Bahkan tubuh mereka ada yang mengalami cedera yang cukup marah, tapi lawan mereka malah masih terlihat bugar.


Sang supir kalau tadi tidak dibantu Rafi, mungkin nasibnya juga akan buruk. Beruntung saat si supir terpojok, Rafi langsung bergerak cepat memberi bantuan sampai dua orang itu babak belur dihajar Rafi. Kini keadaan sangat berbanding terbalik. Orang yang tadi terlihat sangat berkuasa, malah sedang ketakutan, bahkan beberapa kali orang itu memohon pengampunan.


Bruk!


Rafi menghempas tubuh pria sok berkuasa itu ke arah anak buahnya dengan keras. Terdengar rintihan kesakitan dari pria itu saat tubuhnya mendarat dalam tangkapan anak buahnya. Meski marah, tapi saat ini pria itu tidak bisa melakukan apa apa. Hanya ada suara hati yang sedang meneriakan sumpah serapah untuk Rafi.


"Sekarang saya tanya, berapa harga yang harus dibayar agar tanah ini menjadi milik panti? Hah!" bentak Rafi dan semakin membuat nyali musuh musuhnya menciut.


"Saya tidak akan menjual tanah ini ke pihak panti, Tuan," jawab pria itu dengan suara yang masih gugup karena rasa takut yang sangat mendera. "Tanah ini sudah saya jual ke pihak lain dengan harga yang lebih tinggi."

__ADS_1


"Berapa?"


"Lima miliar, Tuan."


"Murah banget," jawaban Rafi tentu saja membuat orang orang yang ada disana menatapanya dengan tatapan terkejut. "Dan kalian dibayar berapa oleh pria ini? Pasti murah juga bukan?" tanya Rafi kepada anak buah pemilik tanah.


Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Rafi. Mendengar Rafi mengucapkan kata murah pada harga tanah yang menurut mereka sangat mahal, sudah cukup membuat mereka syok. Para anak buah itu tidak mau mendengar ejekan Rafi jika mengetahui bayaran yang diterima para pria berbadan tegap tersebut.


"Sekarang aku bayar tempat ini menjadi sepuluh miliar, bagaimana?" lagi dan lagi ucapan Rafi membuat semuanya syok, terutama pria yang saat ini sangat ketakutan.


"Apa anda serius?" suara pria itu bahkan masih gugup dengan segala rasa terkejutnya yang masih menghinggap pada tubuh tuanya.


"Folcano grup!" pekik pria itu dengan tatapan tak percaya setelah membaca tulisan yang tertera pada kartu yang dia terima.


"Jika urusan tanah sudah selesai, temui saya di kantor, mengerti!" pria itu mengangguk dengan cepat lalu Rafi memerintahkan mereka semua untuk pergi meninggalkan tempat ini. Dengan langkah tertatih, semuanya benar benar menuruti perintah pemuda itu.

__ADS_1


"Tuan muda sangat hebat, darimana Tuan muda bisa sekuat itu melawan mereka?" puji sang supir begitu para musuh pergi.


"Hebat apaan sih, Pak. Biasanya aja," seperti biasa, Rafi selalu merendah.


"Tuan muda bisa aja. Saya ke mobil sebentar, Tuan, mau mengobati luka luka saya," pamit sang supir dan Rafi hanya mengangguk. Sang supir bergegas melangkah menuju ke tempat mobil berada.


"Tuan," kini wanita yang sedari tadi berada dibalik pintu langsung keluar mendekat ke tempat Rafi. "Tuan serius mau membayar tempat ini?"


Rafi laangsung mengulas senyum. "Apa saya kelihatan sedang berbohong?"


Wanita itu menatap lekat wajah tampan Rafi untuk beberapa saat, kemudian wanita tersebut menunduk dan menggeleng beberapa kali. "Terima kasih, Tuan, karena telah membantu kami. Tapi apa bantuan kami akan dihitung utang sama Tuan?"


Kening Rafi seketika berkerut. "Menurutmu?"


Wanita itu terlihat menghela nafasnya. "Kalau kami nanti tidak sanggup untuk membayarnya bagaimana? Kan harganya sangat mahal?"

__ADS_1


Rafi lagi lagi mengulas senyum. "Bayar aja dengan apa yang kamu miliki, Nona."


...@@@@@...


__ADS_2