
Malam ini, di sana, di atas dua kursi yang berada di teras belakang rumah yang begitu mewah, dua pria beda usia itu masih terlibat pembicaraan yang cukup serius. Meski kadang terdengar suara tawa keluar dari mulut mereka, tapi dua pria bernama Moreno dan Rafi lebih banyak menunjukkan wajah seriusnya senada dengan masalah yang sedang mereka bahas saat ini.
"Aku harus bagaimana, Dad? Apa aku harus melanjutkan misi ini atau mengabaikannya?" tanya Rafi yang terlihat sangat dilema karena di hadapkan pada pilihan yang menurutnya cukup sulit. Setelah Rafi berterus terang dengan apa yang terjadi pada dirinya, pemuda itu merasa lebih lega di dalam lubuk hatinya. Karena, beban yang mengganjal saat ini, sedikit berkurang setelah berbagi cerita dengan pria yang dipanggilnya Daddy.
"Turuti apa kata hati kamu saja, Nak. menurut kamu mana yang lebih baik untuk kamu pilih," Moreno mencoba memberi saran yang bijak agar pemuda itu tidak terlalu dilema dalam menyikapi masalah hatinya. "Apa dalam misi itu ada larangan atau konsekuensi yang mungkin kamu dapat jika kamu meninggalkan misi tersebut?"
Rafi mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada, Dad. Dari awal tidak ada pilIhan atau teguran seperti itu. Yang ada hanya tugas dengan hadiah yang terus bertambah banyak."
"Ya sudah, gini aka, kamu coba aja berhenti dulu untuk menjalankan misi. Kamu lihat dalam beberapa hari ada pemberitahuan tidak saat kamu tidsk menjalankan misi itu. Terus ngomong ngomong apa memang misi yang kamu lakukan harus berhubungan badan dengan wanita yang masih bersegel?" Rafi mengangguk pelan. "Udah berapa wanita yang kamu tembus segelnya?"
Rafi sontak cengengesan. "Baru lima, Dad."
Moreno malah terkekeh mendengar jawaban Rafi yang nampak malu malu. "Jaman sekarang bisa mendapat empat wanita bersegel itu sudah bagus loh. Daddy perhatikan jaman sekarang itu banyak wanita yang dengan sangat mudah melepas mahkotanya hanya demi cinta."
Rafi mengangguk beberapa kali, sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan pria itu. "Benar, aku sudah mencarinya di beberapa aplikasi kencan, kebanyakan sudah tidak bersegel. Aku malah mendapatkannya karena tidak sengaja dan kesemuanya selalu terlibat dengan masalah uang."
__ADS_1
"Masalah uang? Maksudnya?"
"Ya, para wanita yang sudah aku tiduri, rata rata mau direnggut mahkotanya karena terpaksa. Mereka menyerahkan diri karena mereka terlibat berbagai masalah yang kesemuanya berhubungan dengan uang, Dad."
"Dengan kata lain, selain kamu mendapat kenikmataan, kamu memberi pertolongan buat mereka, gitu?" Rafi mengangguk. "Ya bagus itu. Seharusnya sih tidak ada masalah. Yang penting jika sudah ada sangkut pautnya dengan uang, jangan sampai melibatkan dengan hati juga, biar tidak jadi masalah ke depannya."
"Aku pikir juga begitu, Dad. Tapi aku takut, jika nanti aku menikah, terus misi itu belum berakhir, bagaimana?"
"Ya sudah, kamu lakukan saja saran Daddy, Oke?" Rafi mengangguk pasrah. Karena waktu yang sudah beranjak menuju larut, kedua pria itu akhirnya mengakhiri obrolan mereka. Keduanya lantas beranjak dari tempat duduknya menuju kamar masing masing.
Sesampainya di kamar, Rafi masih melihat Marisa sedang serius menghadap layar laptopnya. Entah yang sedang dilakukan wanita itu, Rafi tidak mengatakan apapun. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan melepas pakaiannya. Hanya dengan menggunakan kolor pendek, Rafi lalu beranjak menuju ranjang empuknya.
"Biasalah cewek cewek, kalau sudah ngobrol pasti ada aja yang dibahas," jawab Marisa sambil menoleh ke arah Rafi. melihat pemuda itu memamerkan bulu ketiaknya, Tangan Marisa langsung bergerak mengusap bulu bulu itu.
"Kamu mau kembali keluar negeri?"
__ADS_1
"Tidak, kenapa memang?"
"Ya kali aja, soalnya kan Om kamu sudah tahu kalau kamu ada di negara ini."
Sebelum mernjawab, Marisa memantikan laptopnya terus menaruh laptop itu di atas meja samping ranjang. Setelah itu dia langung merebahkan tubuhnya di sisi Rafi dengan posisi kepala yang sangat menempel pada dada pemuda itu.
"Aku kan sudah bilang, daripada aku kabur dan bersembunyi, lebih baik aku menghadapinya. Lagian ada kamu, aku nggak merasa takut apapun."
Rafi tersenyum sekilas. Karena merasakan tangan Marisa melingkar di perutnya, tangan Rafi bergerak, meraih jari tangan Marisa lalu menuntunnya hingga jari tangan itu masuk ke dalam celana kolor.
"Kok kamu jadi ketagihan batang kamu dipegangin tiap kamu tidur sih, Fi?"
"Kamu juga suka memegangi batang aku kan?" Marisa sontak tertawa lirih. "Kalau kamu mau lebih ngoomong aja, jangan sungkan."
"Nggak lah, nanti aja jika urusan ama Om Sergio sudah kelar. Aku pasti siap buka baju di depan kamu tiap malam, Fi."
__ADS_1
"Kelamaan." Marisa sontak terkekeh sambil tangannya terus memijat lembut batang Rafi.
...@@@@@@...