SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Bertemu Keluarga Marisa


__ADS_3

"Wahh! anaknya Ismail udah datang! Masuk, nak," ucap pria paruh baya yang saat itu duduk di kursi roda. Wajahnya nampak sumringah melihat kedatangan anak dari mantan supirnya terdahulu. Pria yang sejak beberapa menit yang lalu beradaa di teras, menjalankan kursi roda canggihnya masuk ke dalam rumah.


Rafi, anak dari Ismail, mantan supir pria itu lantas mengikutinya dari belakang. Dulu saat Rafi datang ke rumah itu, tidak sekalipun dia langsung melewati pintu utama. Selalu lewat pintu samping dan duduk di bangunan belakang rumah utama bersama Pak Budiman dan para asisten rumah tangga lainnya. Mungkin karena dulu Rafi belum jadi apa apa dan juga tuan rumah ada di luar negeri, jadi dia selalu lewat pintu samping setiap kali datang ke rumah ini.


"Duduk, Nak," pria itu terlihat sangat ramah. Pria yang lebih akrab di panggil Tuan Alexander itu benar benar terlihat hangat menyambut kehadiran Rafi.


"Terima kasih, Tuan," ucap Rafi sopan sembari meletakkan pantatnya di salah satu sofa mewah rumah itu. Tak lama kemudian anak anak serta menantu dari Alexander dan juga istrinya pun datang. Mereka juga sangat hangat menyambut kedatangan Rafi, terutama anak bungsu Alexander yang bernama Marisa.


"Nggak nyangka ya? Pak Mail punya anak seganteng ini? Baru lihat aku," ucap kakak pertama Marisa dan hal itu sukses membuat Rafi tersanjung. "Dulu Bapakmu sering cerita loh, katanya, dia punya anak laki laki yang bisa dibanggakan."


"Benarkah?" tanya Rafi terlihat cukup terkejut, kakak Marisa mengangguk cepat dan didukung oleh keluarga lainnya.


"Siapa yang nggak bangga, memiliki anak seperti kamu, Rafi. Marisa yang bukan siapa siapa kamu aja, kamu jaga dengan baik, apa lagi Ibu kamu. Tapi sayang ya, Ayah kamu selama kerja di sini, nggak pernah mau bawa kamu ke rumah ini." Rafi hanya tersenyum dan cukup bingung mau membalas apa ucapan tersebut. Di sana juga ada Moreno dan Dito yang juga lebih banyak jadi pendengar dari obrolan yang terjadi di depan mereka.

__ADS_1


"Maaf kan saya ya, Fi, gara gara bekerja dengan saya, kamu harus kehilangan ayah kamu," ucap Alexander dengan suara yang bergetar. "Ayah kamu itu ayah yang baik dan bertanggung jawab. Nggak pernah mengecewekan saya. Tapi gara gara saya, ayah kamu harus kehilangan nyawanya."


Rafi lantas tersenyum. Ada rasa sesak mendengarkan cerita dari pria yang duduk di kursi sebelahnya setelah tadi sempat pindah dari kursi roda. Suasana yang tadi hangat, kini menjadi haru. "Nggak apa apa, Tuan. Mungkin udah jalan ayah saya harus mengalami nasib seperti itu. Setidaknya, orang yang melakukan hal keji itu sudah mendapatkan hukumannya."


Alexander dan yang lain setuju dengan hal itu, Sergio memang saat ini sudah menyerahkan dirinya ke penjara dengan mengakui segala perbuataannya. Rafi yang awalnya ingin menyiksa Sergio secara perlahan, memutuskan menghentikan aksinya setelah membuat pria itu kehilangan suaranya.


"Tapi sekarang saya bersyukur, saya memiliki ayah baru dan keluarga baru, yang sangat menyayangi saya, Tuan," Rafi berkata lagi dan ucapanya berhaasil membuat semua yang mendengarnya tersenyum lebar.


"Hehehe ... kamu berlebihaan sekali, Alex," celetuk Moreno kepada teman kuliahnya dulu.


"Setidaknya aku bicara fakta, Moreno. Negara maju mana yang tidak mengenal nama kamu?" Alexander tak mau kalah dan hal itu membuat Moreno hanya bisa terssenyum lebar. Nyatanya di setiap negara maju, selalu ada orang besar dan ternama yang mengenal Moreno dengan segala kebaikannya. "Kamu beruntung, Fi."


"Sangat beruntung, Tuan, dan aku sangat bersyukur," ucap Rafi dengan antusias.

__ADS_1


"Lalu, apa rencana kamu selanjutnya, Fi?" tanya kakak kedua Marisa.


"Rencana saya selajutnya, sebelumnya saya minta maaf Tuan Alexander, saya datang kesini, selain ingin bersilaturahmi, saya ingin melamar putri Tuan Alexander untuk saya jadikan istri, Tuan," Rafi berkata dengan jantung yang cukup berdegup kencang.


Alexander dan yang lainnya pun langsung tersenyum. "Yah, mungkin memang kamu laki laki yang tepat untuk anak bungsu saya. Kamu sudah sangat menjaganya dengan baik selama saya sakit."


"Jadi gimana, Tuan?" Rafi malah bertanya karena terlalu gugup, pikirannya sampai tidak fokus mencerna ucapan Alerxander.


"Loh, kok malah jadi gimana?" seru istri Alexander. "Ya tentu kami terima lamaran kamu dong, Fi. Kok malah kayak orang bingung."


Semua yang ada di sana serentak tertawa melihat Rafi yang jadi salah tingkah.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2