
"Aku lepasin bajumu ya?"
Wanita yang tatapan matanya sudah sangat sayu karena terpengaruh hasrat yang terus bergejolak, mengangguk pelan dan sangat pasrah. Sedangkan sang pria tersenyum tipis begitu mendapat lampu hijau dari wanita yang saat ini berada di bawah tubuhnya.
Tangan Rafi menggenggam kaos yang dipakai Kalina dan perlahan mengangkatnya sampai kaos itu terlepas dari tubuh wanita itu. Tangan Kalina langsung bersilang di dadanya guna menutupi benda kembar yang masih bersembunyi pada kain yang menutupinya. Wajah Kalina memerah menahan malu, karena baru kali ini ada mata lelaki yang melihatnya.
"Kenapa ditutupin?" tanya Rafi lembut sambil tersenyum. Kalina hanya menjawabnya dengan senyuman yang tipis. Rafi tahu kalau wanita itu malu makanya dia berinsiatif lebih agresif. Apa lagi Rafi tahu kalau dia akan mendapat lebih dari ini, makanya Rafi harus berinisiatif untuk lebih agresif lagi.
Rafi mendaratkan bibirnya diceruk leher Kalina dengan segenap hasrat yang membara. Kalina menggeliat kenikmatan. Tangannya bahkan berkali kali menggenggam rambut dan kaos pria yang mencumbunya. Karena dorongan naluri wanita, tangan Kalina spontan menarik kaos Rafi sampai kaos itu terlepas.
Rafi pun sangat senang karena Kalina juga membalas reaksi yang Rafi lakukan. Pemuda itu kembali mendaratkan bibirnya pada berbagai tempat di tubuh Kalina. Tangan kekar dengan kulit yang kasar milik Rafi juga sudah bergerilya hingga tanpa ragu menggenggam benda kembar milik Kalina yang masih bersembunyi.
Bibir Rafi masih menjelajah dan tangan pria itu kini sedang melepaskan pengait kain yang menyembunyikan benda kembar milik Kalina. Tidak butuh waktu yang lama, kini benda kembar, berkulit kuning langsat dan berstekur kenyal serta lembut, terpampang di depan mata Rafi.
"Indah banget!" puji Rafi dengan mata yang berbinar dan hampir tak berkedip menatap benda kembar yang cukup besar di hadapannya.
"Jangan dipandangi seperti itu. Malu tahu," protes Kalina sambil menaruh kedua tangannya bersilang di depan dadanya.
__ADS_1
Rafi tersenyum nakal lalu meraih tangan Kalina dan menyingkirkannya. "Ngapain malu, orang aku udah melihatnya."
Kalina mendengus tapi dia tidak melawan saat Rafi menyingkirkan tangannya. Bahkan tubuh Kalina sempat menggeliat saat tangan Rafi menggenggam benda kembar miliknya satu persatu dan memijatnya dengan lembut.
"Akhh ..." Kalina tak kuasa menahan suaranya. Biar bagaimanapun sentuhan tangan Rafi menghadirkan rasa nikmat yang tidak pernah dia rasakan. Rintihan nikmat kembali keluar dari mulut Kalina saat diriya merasakan mulut Rafi menempel dan menyesap pucuk benda kembar satu persatu. "Akhh ..."
Rafi dengan lahap menikmati benda kembar milik Kalina satu persatu. Meskipun dia baru selesai sarapan, nyatanya melihat benda kembar milik Kalina membuat rasa laparnya sebagai laki laki bangkit kembali.
Puas melahap benda kembar, Rafi menjelajahkan bibirnya hingga ke perut rata Kalina. "Celananya aku buka ya?" lagi lagi Kalina hanya mengangguk pasrah.
Rafi membaringkan miring tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Kalina. "Punya kamu udah basah, Sayang," ucap Rafi lirih. kalina hanya tersenyum malu.
Rafi kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Kalina. Perang bibir kembali terjadi dengan begitu ganasnya. Keduanya semakin bergejolak saat jari jari Rafi menyelinap ke dalam segitiga bermuda milik Kalina dan bermain main disana.
Sambil terus menyerang tubuh Kalina dengan bibrnya, tangan Rafi bergerak melepaskan segitiga bermuda, kain terakhir yang menempel pada tubuh Kalina.
"Cantik banget punya kamu, Sayang," puji Rafi dengan mata terpaku menatap milik Kalina yang bulunya terlihat sangat rapi.
__ADS_1
Kali ini Kalina hanya tersenyum mendengar pujian yang keluar dari mulut Rafi. Tubuhnya menggeliat saat Rafi menyentuh miliknya dan menijatnya perlahan. Lagi lagi rintihan kenikmatan keluar dari mulut Kalina. "Akhh ..."
Melihat keadaan Kalina yang sangat menggoda, Jiwa liar Rafi terus memberontak. Segera Rafi juga melepas celananya sendiri karena dia sudah tidak tahan ingin menerobos masuk pada benda indah dengan celah yang masih sangat rapat.
Kini Rafi sudah bersimpuh diantara kaki Kalina yang membentang cukup lebar. "Aku masukin ya? Nanti kalau sakit, kamu tahan, bisa?"
Kalina terus mengangguk pasrah. Meski badannya begitu tegang dan wajahnya agak pucat, tapi jiwa liar wanita dalam diri Kalina menginginkan hal yang sama dengan Rafi.
Dengan lembut, Rafi menggesekkan benda menegang miliknya pada pintu celah milik Kalina. Saat sudah merasa siap, pinggang Rafi mulai bergerak masuk secara perlahan.
"Akhh ..." kali ini Kalina merintih kesakitan. Meski Rafi merasa tidak tega, tapi ini memang harus dilalui. Dengan sedikit kesusahan, Rafi terus mendorong miliknya untuk masuk hingga Rafi merasakan ada sesuatu yang menghalangi di dalam sana.
Rafi menghentikan gerakannya. Dia menghirup nafas banyak banyak dan menghembuskannya secara perlahan. Saat Rafi sudah merasa tenang, dia melakukan ancang ancang dan dengan hitungan dalam hati, Rafi menghentakan pinggangnya dengan keras.
"Akhh!" suara Kalina melengking begitu kencang sebagai tanda kalau Rafi berhasil menembus mahkota milik wanita itu.
...@@@@@...
__ADS_1