
"Maka itu, kita harus bisa mengambil alih semua bukti yang dimiliki jaringan yang anda ikuti. anda tidak perlu khawatir. Anak dan istri anda, saat ini berada di tempat yang aman."
Mata pria itu membelalak dan langsung menatap tajam Rafi yang sedang memainkan ponselnya, lalu pemuda itu membalas tatapan mata pria berttato tulang ikan. "Jadi anak dan istri saya ..."
"Anda tidak perlu khawatir. Mereka berada di tempat yang aman. Sekarang semua tinggal bagaimana anda akan bersikap."
Pria itu tersenyum sinis. " Apa kamu tidak takut kalau aku bisa saja mengambil nyawamu?"
Rafi bukannya takut, dia malah menyeringai. "Ya semua keputusan ada ditangan anda. Saya hanya memberi jalan yang menurut saya itu adalah jalan yang terbaik. Bukankah anda ingin terbebas dari jaringan yang mengikat anda? Pikirkan baik baik ide dari saya."
Pria bertato itu terbungkam. benaknya mengatakan kalau apa yang dikatakan Rafi memang benar. Jika dia ingin bebas dari jaringannya, pria itu harus bisa menghancurkan jaringan yang mengikatnya. Karena akan sangat percuma jika dia menghindar, besar kemungkinan dirinya akan terus dicari keberadaannya. Belum lagi keselamatan keluargaanya dipertaruhkan.
"Baiklah, meskipun aku tidak tahu apa motifnya kamu melakukan hal itu, tapi tak masalah, asal anak dan istriku benar benar aman. Jadi, mulai saat ini kita kerja sama menghancurkan jaringan yang aku ikuti?"
Rafi hanya memberi kode dengan gerakan wajahnya lalu mereka berjabat tangan dengan kerjasama yang baru saja terjalin. Mereka lantas terlibat obrolan yang sangat serius mengenai rencana mereka. Rafi menggunakan nama Alexander walington sebagai perlindungan agar pria itu semakin yakin dalam kerja sama yang mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
Begitu proses kerja sama selesai, pria bertato itu kembali pergi meninggalkan area kost setelah terlebih dahulu berkomunikasi dengan anak dan istrinya serta memastikan keamanan mereka. Mendengar istri dan anaknya dalam keadaan baik baik saja dan merasa senang di tempat barunya, Pria bertato yang mengaku bernama Madi, terlihat lebih tenang. Kini tugas dia adalah mengumpulkan bukti bukti yang bisa melumpuhkan kelima anggota TGM yang lain.
Sambil memikirkan rencana selanjutnya, Rafi juga harus mencari wanita yang masih bersegel untuk menuntaskan misi keempat. Seperti biasa, Rafi menggunakan aplikasi kencan, menjelajahi setiap profil wanita yang ada. Hingga waktu berlalu menuju sore, Rafi benar benar belum menemukan wanita yang masih ting ting.
Di saat Rafi sedang fokus dengan ponselnya, matanya menangkap mobil yang dia kenal masuk ke area parkir tempat ke kost. Rafi pun langsung berdiri dan beranjak untuk menyambutnya. Awalnya Rafi teerlihat biasa saja saat melihat seoraang yang dia kenal keluar dari mobil, tapi Rafi sedikit terkejut ketika melihat orang lain keluar dari mobil yang sama dengan orang yang dia kenal.
"Ketemu lagi ya, Fi," sapa orang yang mengenal rafi.
"Iya, pak," balas rafi sambil cengengesan. "Maaf loh Pak, aku ngerepotIn pak Budi lagi."
"Sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai," balas Rafi lalu dia mengajak Pak Budi menuju ruang tamu.
"Oh iya, Fi, kenalkan. Ini Marisa, anaknya Tuan ALexander."
"Oh, iya, salam kenal, Nona," ucap Rafi sambil menangkupkan telapak tangannya di depan dada. Tadinya dia berniat mengajak wanita itu berjabat tangan, tapi saat tahu dia anak seorang bos, Rafi mengurungkan niatnya. Wanita bernama Marisa hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dia setuju tinggal disini sementara, nanti kamu tolong jaga dia ya?"
"Baik. Pak, nanti Rafi siapkan kamarnya."
Mereka lantas terlibat obrolan yang cukup seru. Tak lupa pula Rafi membuatkan tamunya minuman sebagai rasa sopan dan menghormati. Di saat mereka sedang asyik berbincang, Pemilik tempat kerja Rafi datang. Rafi menyambutnya dan meminta sang bos untuk bergabung dengan Pak Budiman.
Setelah berbasa basi sejenak, kedua orang tua yang ada di sana mulai membicarakan tentang jual beli tempat kost tersebut. Awalnya sang pemilik kost terkejut waktu nama yang harus tercantum sebagai pemilik adalah Rafi, tapi setelah Pak Budiman menjelaskan tentunya dengan arahan Rafi sebelumnya, Si pemilik kost pun percaya.
"Hahaha ... nggak nyangka ya, Fi, ternyata kamu beneran jadi pemilik kost ini," ucap sang pemilik kost. "Nanti urusan surat surat dan yang lain bapak serahkan kesini ya?"
"Iya, pak, terimakasih. Nanti saat surat suratnya sudah ada ditangan saya, saya akan memberi kabar Pada Pak Budi untuk memberikan kekurangannya."
Transaksi pun selesai dan pembicaraan itupun berakhir. Sekarang Tafi tinggal membereskan urusan seorang wanita yang akan menempati salah satu kamar di sana.
...@@@@@@@...
__ADS_1