
Sepasang suami istri itu langsung mengumpat karena merasa dipermainkan oleh anak muda yang baru saja mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi keduanya. Mereka tidak menyangka kalau Rafi melepas jabatan presdir hanya untuk menguji keduanya. Sudah terlanjur malu, dua orang tua itu langsung saja turun dari panggung.
Tidak sedikit orang yang menertawakan, bahkan sampai mencibir kedua orang itu dan keluarganya. Rencana keluarga Cahaya gemilang benar benar gagal total. Berharap dengan mengumumkan Rafi kalau dia adalah cucu mereka di dapan umum akan mendapatkan banyak simpati, tapi sandiwara mereka malah dibalas sandiwara juga oleh Rafi sampai keduanya sangat dibuat malu.
"Berhubung baru saja saya membicarakan tentang ayah saya, saya juga akan menceritakan tentang nasib yang di alami ayah saya sampai dia menemui ajalnya," ucapan Rafi seketika langsung membuat salah satu tamu udangan terpaku mendengarnya. Orang itu langsung melayangkan tatapannya ke arah Rafi dan entah sengaja atau tidak, Rafi juga sedang menatap ke arah itu dengan seringai di bibirnya.
Rafi tersenyum sinis setelah matanya beradu dengan orang itu lalu kembali mengedarkan pandangannya ke para tamu undangan. pemuda itu mulai berkisah tentang kehidupan orang tuanya yang mengalami banyak masalah setelah diusir oleh kedua keluarga masing masing. Rafi juga menceritakan tentang kedua orang tua yang sudah meninggal sampai dia menemukan keluarga baru. Banyak yang terkejut saat mereka mendengar kalau Rafi adalah anak dari supir keluarga Alexander morales.
"Apa jangan jangan, anda adalah anak dari korban perampokan yan terjadi pada Tuan Alexander?" tanya salah satu tamu dan ternyata banyak juga yang mengetahui kisah itu.
Sedangkan saat Rafi sedang berkisah di atas panggung, keluarga Cahaya gemilang nampak tergesa gesa ingin segera meninggalkan pesta itu. Selain karena malu, mereka juga didesak pulang oleh salah satu anggota keluarga yang ada hubungannya dengan kematian ayahnya Rafi.
__ADS_1
"Mau kemana, Tuan Sergio? Kenapa anda terlihat sangat tergesa gesa?" bukannya menjawab pertanyaan dari salah satu tamu, Rafi malah melayangkan suaranya kepada pria yang gelagataanya sudah tidak tenang akibat cerita Rafi.
Sergio sudah pasti langsung membeku. Namun begitu, pikirannya langsung bekerja cepat untuk memberi alasan kepada tuan rumah. "Kami memang harus pulang, Tuan. Ada hal yang harus kami lakukan malam ini," kilah Sergio.
Rafi kembali menyeringai. "Apa anda tidak penasaran, siapa yang telah menyerang Tuan Alexander? Bukankah dia adalah adik anda, Tuan Sergio?"
Mendengar pertanyaan Rafi membuat Sergio semakin dihujani rasa gelisah dan juga panik. dari ucapan yang baru dia dengar, Sergio menyimpulkan kalau Rafi sudah tahu siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa Alexander. Sergio yang tetap akan pergi, mendengar beberaapa umpatan dari para tamu yang membuat pria itu menjadi dilema diantara rasa takutnya.
"Atau mungkin memang orang dalam yang telah menyerang Alexander," celetuk tamu yang lain, sukses membuat Sergio bertambah rasa cemasnya.
"Yah, memang benar, ayah saya adalah korban perampokan yang dialami oleh Tuan Alexander. Sebenarnya ayah saya selamat dan sempat dirawat di rumah sakit. Tapi seseorang dengan tega menyuruh anak buahnya menyuntikan racun ke dalam infus ayah saya sampai beliau benar benar kehilangan nyawa."
__ADS_1
Semua terpengarah mendengar cerita yang keluar dari mulut Rafi, termasuk keluarga Moreno dan dan juga keluarga Cahaya gemilang. Satu diantara banyaknya orang yang ada disana, Sergio juga terlihat sangat terkejut. Bahkan wajah pria itu sampai memucat.
"Entah, ayah saya punya dosa apa pada orang itu, sampai nyawanya harus dia hilangkan. Padahal, hanya Ayah satu satunya keluarga yang aku punya, tapi dengan tidak punya rasa kasian, orang itu melenyapkan nyawa ayah saya," Rafi begtitu terlihat emosi meski tak jarang pula air matanya menetes, mengiringi bibirnya yang terus bercerita dengan suara yang bergetar.
"Jadi anda sudah tahu siapa dalang dibalik meninggalnya ayah anda?" pertanyaan salah satu tamu kembali membuat Rafi menyeringai. pertanyaaan itu juga mewakili rasa penasaran para tamu yang lain, dan juga satu pria yang saat ini sedang dilanda panik yang berlebih.
"Tentu saja saya tahu," jawaban Rafi langsung membuat pria itu terperangah. Matanya bahkan dia layangkan ke arah Rafi dengan tatapan tak percaya. "Tapi saya tidak akan melaporkan orang itu ke polisi."
"Loh kenapa? Apa anda tidak memiliki bukti?"
Untuk kesekian kalinya Rafi kembali menunjukan seringai jahatnya. "Yang pasti aku memiliki rencana sendiri untuk membalasnya."
__ADS_1
@@@@@