
"Fi, kamu di kota ini akan tinggal lebih lama atau cuma sebentar?" tanya seorang wanita yang saat ini sedang menatap pria di sebelahnya. Mereka sedang duduk berdua di depan toko sebelah kanan milik si wanita.
Si pria yang lebih akrab dipanggil Rafi lantas menoleh dan membalas tatapan wanita bernama Amanda. "Kenapa? Apa kamu butuh bantuan lagi?"
Amanda lantas tersenyum. "Enggak, aku cuma pengin nginep dihotel aja sama kamu."
Kening Rafi sontak berkerut, lalu tak lama kemudian senyum pria itu terkembang karena tahu kemana arah pembicaraan si wanita. "Aku kayaknya hanya sampai sore. Ini baru jam sembilan, kalau mau ya kita nginep sekarang."
Wajah Amanda bersemu merah lalu memutus pandangannya dan menatap ke arah jalan raya. "Cuma pengin lihat tubuh gagah kamu saat tidak pakai baju. Sebagai cewek, menurutku kamu sangat tampan kalau sedang tidak memakai apa apa dan berkeringat banyak. Apa lagi saat kamu keenakan dan meraih puncak. Gemesin banget."
"Hahaha ... kamu jujur sekali sih, Man. Aku sampai terbang nih," keduanya lantas terkekeh. "Ya sudah, kalau kamu ya, kita bisa sekarang ke hotel. Soalnya nanti sore aku harus pulang ke kota. Kamu tahu kan jabatan presdir itu sibuknya seperti apa."
Amanda nampak berpikir, tapi itu tak berlangsung lama, lalu dia bangkit masuk ke dalam toko. Tak lama kemudian wanita itu kembali menemui Rafi dengan menenteng tas slempang. "Ayo, mumpung Mommy ngasih ijin."
__ADS_1
Dengan senang hati Rafi mengangguk. Keduanya lantas melangkah bersama karena jarak hotel yang menjadi tempat menginap Rafi memang dekat. "Kamu bilang apa sama ibu kamu?" tanya Rafi disela sela langkah kakinya menuju hotel.
"Ya jalan jalan sama kamu. Lagian Mommy tahu kamu orang baik, jadi ya dia percaya aja," jawab Amanda tanpa beban.
"Setelah sama aku, apa kamu pernah tidur dengan cowok lain?"
"Nggak lah. Biarlah aku terlihat murah meriah di mata kamu, tapi terlihat mahal di mata pria lain, hehehe ... lagian ya aku belum terlalu serius pengin menjalin hubungan dengan cowok."
Rafi nampak manggut manggut beberapa kali. Tidak butuh waktu lama, kini mereka telah sampai di hotel yang terbilang mewah di kota ini. Mereka langsung saja menuju kamar tempat Rafi mernginap. Sejenak ada kecanggungan diantara mereka karena tidak mungkin mereka akan langsung melakukan hubungan yang pernah mereka lakukan dahulu.
Wanita itu lantas menoleh dan melihat Rafi yang semakin dekat. Amanda tidak ada niat untuk menghindar. Bahkan saat tangan Rafi sudah mulai mengusap paha diatas lututnya, wanita itu diam saja dan menatap pria yang wajahnya kini sudah dekat. "Ada apa?"
"Kalau aku melakukan sesuatu pada ayah kamu, apa kamu tidak apa apa?" tanya Rafi membalas tatapan wanita itu. Tangan kanannya kini sudah bergerak perlahan masuk ke dalam rok longgar yang di pakai wanita yang sedang dia tatap.
__ADS_1
Amanda tersenyum lalu tangan kirinya membelai pipi dan rahang berjambang tipis milik Rafi. "Ya gimana lagi, Fi. Bukankah Daddy harus menerima hukuman? Apa kamu akan menjebloskannya ke penjara?"
"Sebenarnya aku bisa saja menjebloskannya ke penjara, tapi aku kan nggak tahu soal kepemilikian aset aset Sergio. Sama seperti yang Mommy kamu pikirkan, aset aset milik sergio adalah hak kamu dan adik adik kamu, jadi sangat tidak pantas jika dikuasai oleh keluarga Cahaya Gemilang."
Amanda tersenyum, lalu kepalanya maju dan dia menempelkan bibirnya pada bibir Rafi. Untuk sesaat perang bibir secara lembut terjadi. "Terserah kamu. Sejujurnya aku juga marah sama Daddy, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Daddy benar benar telah masuk ke dalam pengaruh keluarga barunya. Bahkan, Daddy juga tidak pernah ngasih nafkah buat kita. Apa itu nggak keterlaluan?"
Rafi pun ikut tersenyum, kini jari tangan pria itu sudah membelai gundukan yang ada di dalam rok Amanda. "Ya sudah, aku akan berusaha mendapatkan aset asetnya untuk kalian. Karena biar bagaimanapun kalian yang lebih berhak."
"Apa kamu nggak apa apa? Mereka kan juga keluarga kamu, Fi?"
"Bukan! Mereka sendiri yang sudah membuang ayah aku. Kamu dengar kan rekaman yang menunjukkan kalau ayahku sebenarnya bukan anak kandung mereka?" Amanda mengangguk. "Jadi tidak ada alasan untuk aku berbelas kasihan pada keluarga gila harta itu."
"Hahaha ... ya sudah jangan marah marah. Kamu lakukan saja apa yang kamu mau, termasuk dengan tubuhku kali ini."
__ADS_1
Rafi lantas mendengus. Tapi setelah itu dia tersenyum dan tanpa banyak kata lagi, Rafi langsung menyerang Amanda, dan permainan nikmat pun segera dimulai.
...@@@@@@...