SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Berkunjung Ke Panti


__ADS_3

Di hari berikutnya, sebuah insiden sedang terjadi di tempat kost milik Rafi. Seorang wanita dengan gaya angkuhnya memaksa ingin bertemu Rafi saat itu juga. Sebenarnya wanita itu juga sudah menghuni kost sejak beberapa waktu yang lalu. Dia sudah beberapa hari ini mencari Rafi, tapi dengan Rafi sedang sibuk, wanita itu tak kunjung juga bisa bertemu.


Rafi sendiri yang sudah mendapat kabar dari Wildan, sudah bisa menebak siapa wanita itu. Makanya, dia sangat enggan untuk menemuinya. Apa lagi yang Rafi tahu, wanita itu tidak mengenalnya sebagai Rafi, tapi pria lainlah yang dianggap Rafi oleh wanita itu. Saat Rafi memberi kabar kepada pria yang menyamar sebagai dirinya, beberapa hari kemarin lagi sakit, jadi dia tidak bisa berperan sebagai Rafi palsu. beruntung saat ini pria itu sudah sembuh dan bisa menemui wanita bernama Melda.


"Rafi!" pekik Melda ketika matanya menangkap sosok pria yang sedang mengendarai motor, masuk ke area kost. Sedangkan Kalina dan Wildan berusaha menahan senyumnya melihat kelakuaan wanita yang menurut mereka sangat buta, sampai tidak bisa membedakan mana Rafi yang asli. Melda langsung saja mendekat ke arah pria yang aslinya bernama Dito. "Kamu kemana aja? Kok baru kelihatan?" Melda langsung bergelayut manja di lengan pria berbadan tegap itu.


"Maaf, aku habis sakit," jawab Dito yang memang sudah siap untuk memainkan dramanya.


"Pasti kamu kecapean sejak diangkat jadi presdir ya?" pertanyaan Melda sontak membuat kening Dito berkerut. Tentu saja pria berbadan tegap itu merasa heran dengan wanita di sebelahnya. Apa dia belum tahu wajah Rafi yang sebenarnya. Padahal, wajah Rafi sudah terpampang jelas di dalam video sejak diangkat jadi presiden direktur.


"Kamu tahu darimana aku sudah menjadi presdir?" tanya Dito yang masih merasa aneh dan juga waspada. Bisa saja wanita itu hanya berpura pura. Mungkin Melda sudah tahu Rafi yang sebenarnya dan memiliki rencana lain sampai wanita itu harus bersandiwara.

__ADS_1


"Ya udah banyak yang membicarakan kamu. kamu kan sudah jadi presdir, kok masih pakai motor sih?" tanya Melda dengan sikap yang memang harus diwaspadai.


"Ya, belum terbiasa aja naik mobil. Lagian juga sekalian ngetes, kali aja ada wanita yang tulus mau sama aku tanpa memandang jabatanku," meski waspada, Dito harus tetap menjalankan perannya dengan baik.


Melda lantas tersenyum. "Kita ke kamar yuk, aku sudah kangen banget sama kamu," ucap Melda dengan tangan yang sengaja membelai bagian tengah celana Dito. Pria itu langsung mengerti dan dia setuju saja dengan ajakan Melda. Dito masih penasaran saja dengan sikap Melda yang menganggap dirinya adalah Rafi.


Di lain tempat, Rafi memutuskan akan pergi ke panti asuhan terlebih dahulu. Hari ini memang Rafi masih libur karena acara piknik yang rencananya akan dilakukan selama tiga hari, hanya dilakukan satu hari saja. Maka itu Rafi akan memanfaatkan hari liburnya untuk mengisi kegiatan lain. Rafi pergi ke panti asuhan untuk memastikan tentang kepemilikan tanah.


Rafi yang datang hanya dengan sang supir, lantas masuk dan duduk di kursi tamu yang ada di sana. Bulan dan Dewi juga ada di tempat yang sama menemani ibu panti. Dua wanita itu saat ini hatinya sedang dilanda gelisah dengan kedatangan Rafi ke tempat mereka. Sudah pasti mereka berpikir Rafi datang kesini pasti akan menagih pembayaran yang mereka tawarkan.


"Gimanna kabar tanah ini, Bu? Apa pemiliknya datang kesini?" tanya Rafi setelah tadi berbasa basi sejenak dan kini saatnya dia melempar pertanyaan inti yang menyebabkan dia datang ke panti ini.

__ADS_1


"Pemiliknya sudah menemui kami, Tuan, dan dia sedang mengurus surat menyurat tanah ini untuk berganti nama," jawab wanita yang duduk di kursi roda. "Terima kasih atas bantuannya, Tuan."


Rafi sontak mengulas senyum. "Nanti kalau soal kepemilikan tanah sudah selesai, Saya akan bangun ulang panti ini. Tempat ini pasti sudah lama tidak ada perbaikan?"


Mata ketiga wanita yang mendengarnya langsung membulat. Mereka tak percaya akan mendengar hal yang sangat mereka impikan untuk merenovasi tempat berteduh mereka. "Terima kasih, Tuan, Terima kasih atas kepeduliaan Tuan pada tempat kami."


Rafi lagi lagi hanya tersenyum. Sejujurnya dia sangat tidak nyaman dipuji seperti itu. Tapi untuk memberi alasanpun, Rafi enggan karena takut dikira sok baik dan sok merendah. maka itu, Rafi lebih memilih melempar senyum.


"Tuan, Apa kita bisa berbicara berdua?" ucap Bulan tiba tiba, dan hal itu membuat semua orang yagng ada disana merasa terkejut, termasuk Rafi.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2